Sanaa Daqqa, istri tawanan Walid Daqqa, dari Baqa al-Gharbiya, menceritakan kronologis polisi Israel yang menyerbu rumahnya pada Minggu pagi ini (5/2). Ia mengatakan, “Sekelompok besar polisi Israel menyerbu rumah kami pada jam 7 pagi, mereka sangat kejam dan biadab. Mereka menggeledah rumah dan menghancurkannya, juga menggeledah brankas.” Salama mengatakan kepada Al-Jarmaq bahwa penggerebekan berlangsung selama lebih dari satu jam, tanpa memperhitungkan kehadiran putrinya, Milad, di rumah tersebut. Ia menambahkan, “Polisi menyita kendaraan dan laptop saya.”
Salama menunjukkan bahwa penggerebekan itu terjadi di depan mata putrinya, Milad Daqqa (3), Ia mengatakan, “Milad menyaksikan kemunculan para polisi yang menggerebek rumah, juga saat mereka menyita barang-barang miliknya. Sekarang dia tidak mau lepas dari mainan dan barang-barangnya karena takut dicuri lagi.” Salama menunjukkan bahwa polisi Israel menyita beberapa perhiasan dan barang-barang milik Milad Daqqa, meskipun sebagian besar tidak memiliki nilai (material), tetapi hanya karena warnanya keemasan.
Walid Daqqa, dari Kota Baqa al-Gharbia, telah ditawan sejak tahun 1986 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, yang kemudian ditetapkan menjadi 37 tahun. Pengadilan Israel kemudian menambahkan hukumannya dua tahun lagi. Tahun 1999, dia menikahi Sana Salama, dan pada 2020, Daqa dan istrinya memiliki seorang bayi perempuan, yang lahir melalui penyelundupan sperma. Penyerbuan rumah Walid Daqqa dan penyitaan hartanya terjadi hanya beberapa hari setelah penyerbuan rumah tawanan Maher dan Karim Younis, tawanan yang telah dibebaskan di wilayah Wadi Ara setelah mendekam di penjara selama 40 tahun.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








