Setiap anak, di mana pun mereka tinggal, berhak untuk hidup aman, bahagia, dan sehat. Namun, saat ini satu dari enam anak di seluruh dunia atau lebih dari 449 juta anak tinggal di zona konflik. Semakin banyak anak yang hidup dan tumbuh dalam situasi yang sangat tidak aman, menantang, dan dapat membahayakan mereka seumur hidup.
Perang dan ketidakstabilan kondisi yang berkepanjangan membuat banyak anak berada dalam keadaan ‘stres meracuni’. Anak-anak di Suriah, Yaman, Ukraina, dan banyak negara lain yang dilanda perang mengalami kehilangan dan kehancuran yang sama. Hal tersebut dapat berdampak seumur hidup, terutama pada kesejahteraan fisik dan psikologis mereka.
Anak-anak telah dibom dan mengalami kelaparan. Mereka telah melihat teman dan keluarga mereka meninggal, dan menyaksikan sekolah serta rumah berubah menjadi puing-puing. Mereka tidak diberikan makanan, obat-obatan, dan bantuan vital. Kehidupan mereka telah direnggut. Konflik perang di sebuah negara dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan emosi anak-anak dalam berbagai cara, dan memiliki dampak jangka panjang jika tidak ditangani. Berikut adalah lima dampak konflik pada kesehatan mental anak-anak.
1.Kecemasan, kesepian, dan tidak aman
Banyak anak yang tinggal di zona konflik kehilangan rumah mereka karena penembakan. Hal tersebut memaksa mereka untuk mengungsi dari lingkungan mereka dan harus meninggalkan teman dan keluarga mereka. Kehilangan dan perpisahan seperti itu dapat menyebabkan tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi pada anak-anak yang terkena dampak perang. Terlebih lagi, berpisah dengan orang tua adalah salah satu siksaan perang yang paling signifikan, terutama bagi anak-anak yang lebih kecil. Keadaan kecemasan yang terus-menerus ini dapat menyebabkan mengompol, sulit tidur, mimpi buruk, dan hubungan yang tegang dengan orang yang mereka cintai.
2. Emosi tidak stabil
Anak-anak yang terpapar berbagai sumber kekerasan pada akhirnya juga dapat menjadi sensitif dan mati rasa secara emosional. Hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan mereka dalam meniru perilaku agresif yang mereka saksikan dan menganggap kekerasan tersebut sebagai hal yang normal. Oleh karena itu, anak-anak akan sulit membangun hubungan yang baik dengan orang lain dalam jangka panjang.
3. Agresif
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan konflik bersenjata mungkin menunjukkan sikap agresif dan menarik diri dari teman sebaya dan keluarga mereka. Oleh karena itu, mereka dapat dengan mudah berkelahi, meneriaki teman-teman mereka, atau mengintimidasi anak-anak lain. Salah satu psikolog Save the Children di Suriah selatan menjelaskannya, “Ada banyak tekanan pada anak-anak di rumah. Tidak ada taman bermain, tidak ada tempat bagi mereka untuk bermain… mereka bahkan tidak bisa berjalan-jalan. Tidak ada pilihan bagi mereka untuk keluar rumah, seperti melakukan beberapa aktivitas, bermain, bermain sepak bola. Inilah mengapa anak-anak cenderung menjadi lebih agresif karena mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk melepaskan energi di dalam diri mereka.”
4. Gejala psikosomatis
Anak-anak di Suriah mengatakan bagaimana tingkat stres mereka yang tinggi telah mempengaruhi fisik mereka seperti, sakit di kepala dan dada, kesulitan bernapas, dan dalam beberapa kasus kehilangan gerak sementara di anggota tubuh mereka. “Saat saya duduk sendirian dan mulai berpikir, perut saya mulai sakit. Saat itulah saya benar-benar memahami situasi yang saya hadapi, saat saya benar-benar memikirkannya”, kata Tarek. Banyak anak mengalami kesulitan berbicara atau mulai gagap, dan beberapa bahkan dapat mengalami amnesia parsial.
5. Menyakiti diri sendiri
Sayangnya, dalam beberapa kasus, anak-anak tidak melihat pilihan lain selain mencoba melarikan diri dari apa yang mereka alami dan lingkungannya dengan menggunakan narkoba dan alkohol atau bahkan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri. Rasha, seorang guru di Suriah selatan mengatakan, “Mereka sering menggunakan narkoba untuk melupakan situasi saat ini yang mereka jalani, agar merasa lebih baik.”
Namun, stigma sosial dan sikap terhadap kesehatan mental tetap menjadi tantangan yang signifikan. Narkoba, menyakiti diri sendiri, atau mempertimbangkan untuk bunuh diri tetap menjadi topik yang tabu di banyak komunitas, terutama di lingkungan konflik. Akibatnya, banyak kasus yang berpotensi tidak dilaporkan oleh masyarakat.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini







![Pembangunan Terhenti, Gaza Desak Dunia Internasional untuk Kirim Bantuan [BERITA GAMBAR]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2023/02/Pembangunan-Terhenti-Gaza-Desak-Dunia-Internasional-untuk-Kirim-Bantuan-BERITA-GAMBAR-75x75.webp)
