Seorang remaja Palestina yang diidentifikasi sebagai Abdul Hadi Fakhri Nazzal, 18, dari Kota Qabatiya, dekat Jenin di Tepi Barat utara, yang sebelumnya ditembak di dada dan leher oleh tentara Israel meninggal di sebuah rumah sakit di Jenin karena luka-lukanya, menurut Kementerian Kesehatan.
Nazzal adalah orang Palestina ketiga yang ditembak dan dibunuh pada Kamis (12/1) oleh tentara Israel dan yang kesembilan sejak awal tahun ini, termasuk tiga anak di bawah umur. Sebelumnya, tentara Israel membunuh Samir Aslan, 41, ayah dari delapan anak, dalam serangan ke Kamp Pengungsi Qalandia, utara Al-Quds (Yerusalem). Samir dibunuh oleh tentara Israel karena ia berusaha untuk menolong putranya dari pasukan Israel.
“Baba tolong aku,” teriak Ramzi, 17 tahun, memanggil ayahnya, Samir Aslan, untuk menyelamatkannya dari tentara pendudukan Israel yang masuk ke rumah saat fajar pada Kamis. Samir bergegas keluar dari apartemennya, tetapi ketika dia sampai di pintu masuk gedung, tentara mengarahkan senjata ke arahnya dan mencegahnya keluar, memaksanya untuk kembali ke rumahnya.

Samir tidak tahan melihat putra sulungnya ditangkap dan diborgol karena tahu betul betapa brutal dan biadabnya pasukan itu. Tetapi, ketika dia tidak dapat melihat putranya, dia pergi ke atap gedungnya untuk melihat apa yang dilakukan para prajurit dengan putranya. Namun begitu dia menaiki tangga kayu di dinding atap, seorang penembak jitu, yang ditempatkan di gedung lain yang terletak tepat di belakang rumahnya, menembaknya. Peluru menembus dadanya dan dia jatuh ke tanah. Tangga kayu itu menimpanya. Samir berteriak, hingga istri, saudara laki-laki, dan ipar perempuannya mendatanginya dan memanggil ambulans.
Mereka bertiga berhasil menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Mereka berjalan dengan susah payah melalui lorong-lorong kamp pengungsi dan di antara rumah-rumah yang berdekatan. Di ujung salah satu gang, tentara pendudukan menghentikan dan mencegah mereka membawa Samir ke rumah sakit dan memaksa mereka untuk membaringkannya di tanah, dibiarkan bersimbah darah selama lebih dari 30 menit. Saat itu, Samir masih hidup, menurut kakak iparnya.
Pada akhirnya, setelah tentara Israel yakin bahwa Samir telah meninggal, tentara mengizinkan keluarga untuk membawanya ke rumah sakit. Kematian Samir dikonfirmasi oleh para dokter di Kompleks Medis Palestina di Ramallah yang hendak memeriksanya. Samir ditembak dengan darah dingin tanpa alasan apa pun, kecuali untuk membantu putranya, yang berteriak minta tolong saat tentara membawanya pergi.
Samir bekerja di toko unggas di kamp pengungsian, untuk menghidupi keluarga dengan delapan anak, lima perempuan dan tiga laki-laki. Anak yang tertua adalah Ramzi, siswa SMA yang akan lulus pada tahun ini, sementara yang terkecil berusia dua tahun. Anak-anaknya diyatimkan oleh pasukan penjajah.
Ibu Samir mengatakan bahwa Samir biasa membawakan kebutuhan sehari-hari untuk dia dan ayahnya yang sudah lanjut usia. “Siapa yang akan mengetuk pintu kami ketika pagi tiba dan bertanya apakah kami butuh sesuatu?” kata ibunya sambil menangis. Rowaa, putrinya yang berusia 15 tahun, tak mau menunggu di rumah. Dia bersikeras mengikuti prosesi pemakaman ayahnya untuk mendoakan sebelum ayahnya dikubur. Dia menangisi tubuh ayahnya, “Kami membutuhkanmu, Baba. Kami tidak dapat hidup tanpamu.”
Di sisi lain, Mohammad, 8, duduk di samping tubuh ayahnya, menyentuh kepalanya, menciumnya, dan mengucapkan kata-kata yang nyaris tak terdengar. Dengan kematian Aslan, pasukan pendudukan Israel telah membunuh tujuh warga Palestina di Tepi Barat sejak awal tahun, tiga dari mereka anak-anak. Tahun lalu, Israel membunuh 244 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, rekor tertinggi dalam beberapa dekade, menurut organisasi kemanusiaan internasional.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








