Dua warga Palestina tewas pada Rabu (11/1) akibat tembakan Israel dalam insiden terpisah di Tepi Barat. Ahmad Abu Junaid, 21, ditembak di kepala dan terluka parah dalam serangan pagi oleh tentara di Kamp Pengungsi Balata, Nablus, menurut kementerian kesehatan Palestina. Dia dibawa ke Rumah Sakit Rafidia untuk perawatan tetapi dinyatakan meninggal pada sore hari.
Media Palestina mengatakan bahwa pasukan tentara Israel yang menyamar menggerebek Kamp Balata pagi-pagi sekali. Penggerebekan itu memicu konfrontasi yang melibatkan lemparan batu dan baku tembak. Kelompok bersenjata Lions’ Den yang berbasis di Nablus mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para pejuangnya terlibat dalam baku tembak ketika Abu Junaid ditembak. Ia menambahkan bahwa Abu Junaid merupakan anggota “Brigade Balata”. Tentara Israel mengatakan bahwa pasukan menembaki seorang Palestina bersenjata yang menembak mereka. Tidak ada prajurit Israel yang dilaporkan terluka.
Di tempat lain di Tepi Barat, seorang pria Palestina ditembak setelah diduga berusaha menikam seorang pemukim Israel di Hebron, menurut petugas medis Israel. Dia diidentifikasi sebagai Sanad Mohammad Samasra yang berusia 19 tahun.
Pasukan Israel melakukan operasi pencarian dan penangkapan hampir setiap malam di Tepi Barat, yang seringkali mematikan. Menurut data PBB, 3.437 penggerebekan semacam itu dilakukan sepanjang tahun lalu. Sebagian besar serangan difokuskan pada Nablus dan Jenin dalam beberapa bulan terakhir, yang merupakan rumah bagi semakin banyak pejuang Palestina. Di Kamp Balata, Brigade Balata muncul pada tahun lalu dengan tujuan untuk menghadapi pasukan Israel.

Sementara itu, tentara Israel pada Rabu (11/1) juga memerintahkan dua warga Palestina untuk memindahkan properti mereka ketika pemukim Yahudi menyerbu dan menghancurkan pertanian lokal di daerah Masafer Yatta di Tepi Barat. Wafa melaporkan bahwa pasukan menyerbu Desa Maeen, salah satu komunitas di kelompok Masafer Yatta, dan memerintahkan penduduk setempat untuk memindahkan karavan dan merobohkan gubuk logam.
Menurut Koordinator Komite Perlindungan dan Ketabahan di Masafer Yatta, Fouad Al-Amour, saat tentara memerintahkan penduduk setempat untuk memindahkan harta benda mereka, pemukim dari permukiman ilegal Yacoub Talia menyerang petani yang sedang membajak sawah di sekitar Desa Lasifer. Para pemukim yang dillindungi pasukan Israel itu melempari batu dan memaksa para petani untuk pergi.
Masafer Yatta adalah komunitas bagi dua belas desa Palestina di selatan Hebron. Penduduknya telah menderita ancaman pemindahan paksa selama beberapa dekade karena pendirian sejumlah permukiman ilegal, pos terdepan, dan zona pelatihan militer oleh pendudukan Israel. Pada 4 Mei tahun lalu, Pengadilan Tinggi Israel memutuskan bahwa tidak ada hambatan hukum terhadap rencana pengusiran warga Palestina dari Masafer Yatta untuk membuka zona pelatihan militer.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN-OCHA), keputusan ini “secara efektif menempatkan penduduk Palestina pada risiko pengusiran paksa, pemindahan sewenang-wenang, dan pemindahan paksa.” Pada 1980-an, tambah OCHA, pendudukan Israel menetapkan bagian dari Masafer Yatta sebagai “Firing Zone 918” dan menyatakannya sebagai zona militer tertutup. Sejak saat itu, penduduk asli Palestina menghadapi risiko pengusiran paksa, penghancuran, dan pemindahan paksa. Dua desa, yaitu Khirbet Sarura dan Kharoubeh tidak ada lagi setelah rumah-rumah di sana dihancurkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








