Ketegangan memuncak di Al-Quds pada Selasa malam (3/1) setelah sekelompok pemukim Yahudi melakukan tarian provokatif dan ritual Talmud di Kota Tua dekat Masjid Al-Aqsa, lapor The Palestine Information Center.
Sejumlah besar pasukan polisi Israel dikerahkan di gang-gang Kota Tua untuk melindungi pawai para pemukim. Pasukan Israel juga menyerang warga Palestina di dekat Bab Hutta yang menyebabkan pecahnya baku hantam. Setidaknya satu pemuda ditahan selama konfrontasi. Pasukan Israel juga menyerbu lingkungan Wadi Al-Rababa di Silwan dan menahan dua bersaudara, sementara yang ketiga ditangkap di kota Al-Ram. Sejalan dengan itu, aktivis Al-Quds (Yerusalem), Raeda Said dilarang masuk ke Kota Tua selama 15 hari, dan ke Masjid Al-Aqsa selama 6 bulan.
Serangan pemukim terhadap Masjid Al-Aqsa telah mendapat kecaman dari sejumlah pihak, tak terkecuali dari penganut Yahudi itu sendiri. Blok politik Yudaisme Taurat Bersatu dalam pemerintahan koalisi di Israel telah menyerang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, setelah ia melancarkan serangan ke Masjid Al-Aqsa. Surat kabar Yated Ne’eman, corong partai Degel HaTorah, salah satu dari dua yang membentuk blok tersebut, langkah Itamar Ben-Gvir adalah “provokasi yang tidak perlu dan berbahaya”.
Surat kabar itu melihat intrusi Ben-Gvir ke Masjid Al-Aqsa sebagai “tindakan yang tertolak dan menimbulkan ancaman bagi kehidupan orang Yahudi” serta “tindakan yang tidak berguna dan bodoh untuk meyakinkan massa Palestina bahwa orang Yahudi akan memindahkan Al-Aqsa dari tempatnya dan memprovokasi mereka untuk melakukan operasi pembalasan.”
Surat kabar itu mengajukan pertanyaan retoris: “Siapa yang mengizinkan orang-orang ini, termasuk orang Haredi, untuk menimbulkan bahaya yang tidak perlu bagi kehidupan orang Yahudi dan melawan hukum Yahudi? Dan untuk apa, mereka tidak berpura-pura akan membangun Kuil, jadi apa nilainya putaran kemenangan selama beberapa menit di depan kamera, selain harapan untuk menuai keuntungan media?”
Sementara itu, para pemukim Yahudi fanatik menghancurkan 30 batu nisan di pemakaman Protestan milik Gereja Lutheran Injili di Al-Quds, menurut narasumber dari gereja.
“Kebencian dan agresi terutama tertuju pada simbol-simbol Kristen, karena mereka dengan sengaja menghancurkan beberapa salib,” tambahnya. “Bagaimana jika serangan itu terjadi di pemakaman Yahudi? Bagaimana tanggapan Israel terhadap hal itu? Bagaimana jika seorang Arab melakukan serangan di pemakaman Yahudi?” tambahnya.
CCTV yang menyorot sebagian kuburan menunjukkan dua pemuda melakukan serangan dengan melemparkan bongkahan marmer ke kuburan terkenal dan tampaknya menargetkan kuburan tertentu. Polisi pendudukan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa petugasnya tiba di tempat kejadian setelah menerima laporan vandalisme. Foto-foto yang dibagikan polisi menunjukkan batu nisan dan pekerjaan konstruksi yang hancur. Pemakaman itu dibuka oleh Samuel Gobat, seorang Uskup Protestan Al-Quds pada 1848. Sekarang dikelola oleh Church Missionary Society, sebuah organisasi Anglikan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








