Lebih dari setahun yang lalu, Asaad yang berusia 12 tahun masih bisa menikmati belajar di sekolah dan bermain dengan teman-temannya di Sudan, setelah berbulan-bulan terhambat akibat pandemi COVID-19. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena krisis iklim berikutnya melanda. Hujan deras dan banjir ekstrem menghanyutkan rumahnya dan menggenangi lingkungannya, memaksa keluarganya dan banyak orang lainnya untuk mengungsi.
Asaad, kini berusia 13 tahun, termasuk di antara sedikitnya 10 juta anak di dunia yang mengungsi akibat perubahan iklim. Pada konferensi COP 27 di Sharm el-Sheikh bulan lalu, Asaad mendapat kehormatan bersama anak-anak inspiratif lainnya. Kisahnya menunjukkan secara langsung bagaimana krisis iklim adalah krisis hak anak, dan dia berbicara dengan sangat mengesankan tentang perlunya para pemimpin memasukkan hak anak ke dalam pengambilan keputusan mereka. Pada akhirnya hal tersebut disetujui pada COP tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Anak-anak masih menanggung beban penyakit dunia, sementara mereka tidak berkontribusi dalam merusak dunia. Mereka tidak dapat pergi ke sekolah, bermain dengan teman-teman mereka, atau makan cukup untuk bertahan hidup. Dalam survei terhadap lebih dari 54.000 anak yang Save the Children lakukan pada awal tahun ini, 83% anak di 15 negara mengatakan bahwa mereka merasa bahwa krisis iklim dan ketidaksetaraan, atau keduanya, telah memengaruhi lingkungan mereka. Selain itu, 73% anak percaya bahwa orang dewasa seharusnya melakukan lebih untuk mengatasi masalah ini. Data yang dikumpulkan untuk laporan yang sama menunjukkan bahwa sepertiga dari anak-anak di dunia, atau sekitar 774 juta anak, hidup dengan dampak ganda dari kemiskinan dan risiko iklim yang tinggi. Sementara itu, menurut laporan Save the Children lainnya, jumlah anak yang tinggal di negara dengan konflik paling mematikan meningkat 10% pada tahun ini.
Tinjauan Kemanusiaan Global PBB untuk tahun 2023 menemukan bahwa satu dari setiap 23 orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup tahun depan. Ini meningkat sebesar 24% dari tahun lalu, dan anak-anaklah yang paling terkena dampak krisis kemanusiaan. Anak-anak yang sudah terkena dampak kemiskinan dan diskriminasi adalah yang paling rentan. Mereka dan keluarga mereka memiliki kekuatan paling kecil untuk menuntut perubahan, terutama dibandingkan dengan perusahaan dan negara kuat yang mungkin diuntungkan dari status quo. Demikian pula, ketidaksetaraan dan diskriminasi ini mengikis ketahanan mental mereka.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








