World Population Review kembali merilis negara-negara dengan peringkat IQ tertinggi di dunia. Dari 199 negara yang diuji, Jepang berada di posisi pertama dengan skor IQ rata-rata penduduknya mencapai 106,48 dari total populasi 123.951.692 jiwa. Sementara posisi terakhir adalah Nepal dengan skor IQ rata-rata 42,99.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membeberkan jika rata-rata dari skor IQ anak Indonesia pada tahun 2022 hanya mencapai angka 78,49. IQ tersebut tergolong cukup rendah. Hal tersebut menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-130 di dunia dan berada di peringkat kedua terendah di Asia Tenggara. Sementara, rerata skor IQ tertinggi di Asia Tenggara berada di Singapura. Skor IQ penduduk Negeri Singa sebesar 105,89.
“Keprihatinan tentu terasa, ketika kita lihat World Population Review menyampaikan bahwa IQ bangsa kita cukup rendah dibandingkan dengan beberapa negara yang lain. Salah satu sumbernya adalah low material sumber daya manusia kita belum optimal,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam Webinar IDIK: Komunikasi Merawat Negeri yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (14/12)
Negara tetangga Asia Tenggara lainnya memiliki rata-rata IQ anak yaitu, di Laos 80,99, Filipina 81,64, Brunei Darussalam 87,58, Malaysia 87,58, Thailand 88,87, Vietnam 89,53 dan Myanmar 91,18.
Selain itu, data lain yang menunjukkan bahwa Indonesia perlu memperkuat pembangunan kualitas manusia juga tampak dari Indeks Modal Manusia (IMM) yang menduduki peringkat keenam di kawasan Asia Tenggara berdasarkan laporan Bank Dunia (World Bank) tahun 2020. IMM Indonesia hanya mengalami kenaikan 0,1 saja dari tahun 2018. Peringkat itu lebih rendah dari Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam dan Singapura meski unggul dari Filipina, Kamboja, Myanmar, Laos, dan Timor Leste.
Peringkat tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sumber manusia di Indonesia harus dipacu lebih keras, karena daya otak dan kemampuan serta bakat anak belum diasah dengan optimal. Menurut Hasto, rendahnya kualitas disebabkan oleh faktor-faktor yang membawa dampak berulang dalam sirkulasi kehidupan. Misalnya terjadinya perkawinan dini pada anak yang menyebabkan putus sekolah, literasi rendah, kualitas pendidikan hingga terjadinya stunting.
Sumber:
https://databoks.katadata.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








