Menandai Hari Hak Asasi Manusia Internasional yang jatuh setiap tahun pada tanggal 10 Desember, organisasi hak asasi manusia Al-Haq yang berbasis di Ramallah memaparkan dalam laporan barunya: “Corporate Liability: The Right to Water and the War Crime of Pillage”, tentang ‘apartheid air’ yang diberlakukan Israel terhadap warga Palestina yang tinggal di wilayah pendudukan Palestina (OPT) dan perusahaan yang menjalankannya.
Laporan tersebut mengatakan bahwa apartheid air merupakan serangan sistematis terhadap hak rakyat Palestina atas air dan sanitasi. Hal ini juga secara aktif membahayakan kesehatan warga Palestina dan menahan ekonomi Palestina sebagai korban perusahaan yang mengeksploitasi pasar untuk keuntungan komersial. Laporan tersebut merinci bagaimana, melalui pembatasan dan pengawasan akses air, Israel menghancurkan infrastruktur air Palestina dan menjarah sumber air Palestina, Israel menggunakan bisnis untuk mencuri sumber air Palestina dan menjual kembali air yang dijarah ini ke Palestina dengan harga yang terus meningkat.
Laporan tersebut menyebut perusahaan-perusahaan seperti Mekorot Water Company Ltd., Hagihon Company, TAHAL Group International B.V., Hyundai, Caterpillar Inc., JC Bamford Excavators Ltd., dan Volvo Car Group aktif terlibat dalam pelanggaran hak Palestina dan kedaulatan permanennya atas sumber daya alam, serta kejahatan perang berupa penjarahan dan tindakan perampasan sumber daya alam yang tidak manusiawi yang merupakan kejahatan apartheid. Kejahatan membagi sistem apartheid air Israel dalam empat kategori, yaitu diskriminasi, perampasan, segregasi, dan dominasi.
Apartheid air adalah diskriminasi
Berdasarkan identitas mereka, warga Palestina tunduk pada sistem apartheid diskriminatif yang menolak akses ke air mereka sendiri. Rezim apartheid Israel didirikan di atas undang-undang, kebijakan, dan praktik diskriminatif yang memungkinkan otoritas militer Israel memegang kendali penuh atas semua sumber daya air dan infrastruktur terkait air di Wilayah Pendudukan Palestina (OPT). Di Area C Tepi Barat, di bawah kendali penuh militer dan sipil Israel, Israel mengendalikan dan menolak akses warga Palestina ke tempat penampungan air dan tempat pemompaan, secara rutin menghancurkan sumur air, serta memberlakukan izin yang diskriminatif dan sewenang-wenang untuk penerapan proyek sistem air apa pun.
Apartheid air adalah perampasan
Otoritas Israel membatasi akses warga Palestina ke air dengan menolak atau membatasi akses mereka ke sebagian besar Tepi Barat. Perintah sewenang-wenang itu memungkinkan otoritas Israel untuk merebut tanah Palestina yang mencakup sumber air, di bawah naungan bahwa itu adalah tanah publik atau negara, seperti cagar alam atau zona militer. Akses ke tanah di daerah ini hilang; sehingga mau tidak mau harus menggabungkan sumber daya air Palestina seperti mata air atau sumur. Warga Palestina dilarang kembali ke tanah ini, mereka tidak menerima kompensasi, dan juga tidak ditawari sumber air alternatif.
Apartheid air adalah segregasi
Segregasi dimungkinkan melalui sistem birokrasi pembatasan air yang didorong oleh Israel dan aktor korporasi. Sementara Israel memainkan peran sentral dalam melanggengkan kolonisasi sumber daya air melalui praktik dan kebijakannya, perusahaan semakin mendukung apropriasi ini dengan membatasi akses Palestina ke air dan dengan menggunakan air sebagai alat politik untuk menekan dan menindas masyarakat Palestina. Satu perusahaan Israel, Mekorot, telah mengambil alih seluruh pasokan air di Tepi Barat; baik untuk komunitas Palestina maupun untuk permukiman ilegal Israel. Perusahaan memegang kebijakan penuh atas pasokan air ke desa-desa Palestina dan menerapkan standar ganda dalam penyediaan air.
Apartheid air adalah dominasi
Baik perusahaan Israel maupun asing mendapat untung dari proyek desalinasi Israel (proses membuat air asin hingga dapat diminum), sebagai solusi untuk apartheid air yang dipaksakan kepada warga Palestina. Alih-alih memenuhi hak warga Palestina untuk berdaulat atas sumber daya air mereka, Israel mempromosikan desalinasi sebagai jawaban terbaik atas kekurangan air yang disediakan untuk warga Palestina. Namun, desalinasi adalah metode pengelolaan kekurangan air yang paling tidak efisien secara ekonomi dan berkelanjutan. Pabrik desalinasi tidak hanya berdampak negatif terhadap lingkungan tetapi juga menjadi penghambat pembangunan ekonomi di OPT.
Sumber:
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








