“Anak-anak saya adalah keluarga saya yang menemani saya tinggal di Gaza. Mereka terus ada dalam pikiran saya, hingga kini. Di wajah mereka, saya melihat kemenangan hidup.”
- Jane Calder (1936 – 2022)
Ia tidak lahir dan besar di Palestina, tetapi cintanya kepada Palestina membuatnya rela meninggalkan negara asalnya, demi menetap di Gaza hingga akhir hayatnya. Rasa cinta itu juga yang membuatnya memilih untuk merawat dan membesarkan tiga anak difabel Palestina yang tidak ia ketahui asal-usulnya. Cinta pula yang akhirnya menguatkannya untuk menetap dan mengabdi di Jalur Gaza yang diblokade, hingga beliau wafat pada 28 November 2022 di Gaza. Jasadnya ditutupi dengan bendera Palestina, tanah yang ia cintai. “Ikon Kemanusiaan”, “Kekasih Palestina”, “Malaikat Pengasih”, demikianlah orang-orang yang menangis di pemakamannya menggambarkan sosoknya; Jane Calder, seorang dokter Australia yang mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan di Jalur Gaza.
Jane Calder lahir di Australia pada 1936. Terhitung 41 tahun yang lalu, ia meninggalkan tanah airnya untuk berangkat ke Timur Tengah, dengan tujuan untuk membantu anak-anak yang tinggal di daerah tersebut agar dapat hidup dengan aman layaknya anak-anak pada umumnya. Ia memulai perjalanannya sebagai relawan pada 1980, saat ia tiba di Beirut, Lebanon. Saat itu ia bekerja dengan Bulan Sabit Merah Palestina dengan spesialisasi pendidikan dan pengasuhan anak. Pada tahun 1981, ia mendirikan Unit Rehabilitasi dan Terapi Fisik di Rumah Sakit Haifa, tepatnya di kamp Burj Al-Barajneh, Lebanon. Pusat tersebut merupakan tempat yang melayani orang-orang berkebutuhan khusus yang ada di kamp tersebut.
Ketika perang Israel-Lebanon meletus pada 1982, alih-alih kembali ke negara asalnya, Jane Calder justru memilih untuk menetap di tengah konfrontasi dan pengeboman yang terjadi dimana-mana. Baginya, mengabdi di rumah sakit demi membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan adalah bagian dari napas hidupnya. Pengabdiannya dalam membantu korban perang Israel-Lebanon membuat takdir mengantarkannya kepada tiga orang anak istimewa yang mengubah hidupnya: Dalal, Hamouda, dan Bilal.

Jane Calder bersama tiga anaknya: Dala, Hamouda, dan Bilal (Womenfpal)
Hamouda adalah seorang anak yang menderita quadriplegia dan keterbelakangan mental. Quadriplegia atau dikenal juga dengan sebutan tetraplegia adalah kondisi batang tubuh dan keempat anggota badan (2 tangan dan 2 kaki) mengalami kelumpuhan. Mayoritas orang yang menderita kondisi seperti ini mengalami kelumpuhan yang signifikan mulai dari bagian bawah leher, bahkan ada yang sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali[1]. Anaknya yang lain, Bilal, menderita atrofi otak. Atrofi otak, brain atrophy, atau cerebral atrophy adalah kondisi ukuran otak dan daerah otak yang menyusut sehingga menghancurkan koneksi yang membantu sel untuk bisa berkomunikasi[2]. Sedangkan anak perempuannya, Dalal, adalah anak tunanetra yang sejak lahir tidak bisa melihat.
Tiga anak difabel yang tidak diketahui orang tuanya tersebut kemudian diadopsi oleh Jane Calder. Menyaksikan kondisi yang semakin tidak kondusif akibat perang, Jane kemudian memutuskan untuk mengeluarkan anak-anaknya dari Lebanon menuju ke Suriah. Dengan bantuan Bulan Sabit Merah Palestina, Jane akhirnya bisa membawa anak-anaknya menuju Suriah untuk memberikan lingkungan yang lebih aman bagi mereka.
Dari Suriah, Jane kemudian memutuskan untuk membawa lagi anak-anaknya untuk menetap di Mesir. Akan tetapi, Bilal tidak bisa ikut berangkat karena terkendala perizinan dan administrasi sehingga ia harus tinggal di Kamp Yarmouk Suriah bersama perawat dari Bulan Sabit Merah Palestina. Namun Jane tidak menyerah dan terus memperjuangkan agar Bilal juga dapat berangkat ke Mesir dan berkumpul lagi dengannya. Pada 1985, usahanya membuahkan hasil, Bilal diizinkan untuk berangkat ke Mesir. Jane bersama tiga anaknya kemudian menetap di Mesir selama 10 tahun.
Di Mesir, Jane mendirikan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Palestina Berkebutuhan Khusus yang ia beri nama “Ain Shams”. Jane kemudian mengepalai pusat rehabilitasi yang terletak di Kairo tersebut hingga tahun 1994, tepatnya ketika ditandatanganinya Kesepakatan Oslo dan pembentukan Otoritas Palestina. Pada detik itu juga, Jane memutuskan untuk berangkat dan menetap di Palestina, yaitu di Khan Yunis, Jalur Gaza, bersama dengan anak-anaknya.
Maryam Abu Rashid, salah satu teman Jane yang membersamainya sejak 1986 berkata bahwa ia tidak terkejut dengan keputusan Jane, karena ia memiliki kepedulian akan kemanusiaan yang besar. “Saya mengenalnya di Kairo. Kami bersama-sama mendirikan pusat rehabilitasi Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, yang mengambil spesialisasi untuk merawat orang-orang dengan kebutuhan khusus
“Dia lebih Palestina daripada beberapa orang Palestina. Dia percaya pada keadilan, mencintai rakyatnya, menolong orang-orang yang lemah dan membutuhkan, terutama yang memiliki kebutuhan khusus. Ia akan marah apabila ada orang yang mengatakan bahwa mereka adalah orang cacat.” Demikian Maryam mengatakan. Ia menambahkan bahwa setelah menyaksikan dedikasi Jane yang puluhan tahun mengabdi demi kemanusiaan di Gaza hingga akhir hayatnya, hal tersebut membuatnya ingin mengikuti jejak Jane. Maryam pun memutuskan untuk menjadi relawan Bulan Sabit Palestina dan melanjutkan perjuangan Jane Calder dengan cara yang sama.

Jane Calder bersama anak difabel (Aljazeera)
Pada 1997, Jane Calder mendirikan Universitas “Tanmiyah Al-Quduraat” bersama Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza. Universitas tersebut mendidik para pelajar yang berkebutuhan khusus, agar dapat bergabung dengan masyarakat, bahkan melanjutkan pembelajaran di lembaga pendidikan umum bersama anak-anak normal. Lima belas tahun setelah mendirikan universitas tersebut, Jane menjabat sebagai dekan dan menjalankan tugasnya hingga akhir hayatnya.
Di Gaza, Jane Calder membesarkan ketiga anaknya dengan sangat baik, bahkan dapat dibilang mengagumkan. Sayangnya, ia harus kehilangan salah satu putranya, Hamouda, yang telah ia rawat selama 26 tahun. Hamouda meninggal pada 2008 akibat penyakit yang dideritanya. Adapun Bilal, ia menikah pada 2020, tentunya dengan dukungan dari ibunya, Jane, juga Dalal, saudarinya.
Dalal, gadis kecil tunanetra yang Jane rawat sejak usia 5 tahun, kini telah menyelesaikan pendidikan masternya di bidang ilmu humaniora. Lebih mengagumkannya lagi, Dalal menguasai tiga bahasa, yaitu Arab, Prancis, dan Inggris, juga menjadi dosen dan Kepala Departemen Fakultas Pendidikan Khusus di Universitas “Tanmiyah Al-Quduraat”.
Mengenai anak-anaknya, Jane tidak pernah menganggap mereka sebagai anak-anak yang cacat atau merepotkan. Sebaliknya, Jane menganggap ketiga anaknya adalah dunianya, prioritas hidupnya, yang membuatnya memutuskan untuk menghabiskan hidupnya hanya bersama anak-anaknya. Sebab baginya, yang terpenting adalah merawat anak-anaknya dengan sebaik mungkin dan memastikan mereka tumbuh dengan sehat dan bahagia. Meskipun sama sekali tidak ada hubungan darah dengan anak-anaknya, Jane mengatakan, “Anak-anak saya adalah keluarga saya yang menemani saya tinggal di Gaza. Mereka terus ada dalam pikiran saya, hingga kini. Di wajah mereka, saya melihat kemenangan hidup.”
Pada 2020, Jane Calder didiagnosis menderita kanker usus besar, yang membuatnya harus keluar dari Gaza karena pengobatan penyakitnya tidak tersedia di wilayah yang diblokade tersebut. Namun, untuk bisa keluar dari Gaza sama sekali tidak mudah. Selama 3 bulan, Jane Calder tidak kunjung mendapatkan izin keluar melalui pos pemeriksaan Beit Hanoun (Erez), meskipun kondisinya terus memburuk. Ketika akhirnya mendapatkan izin untuk berobat, kondisi Jane sudah sangat kritis, sehingga ia meminta untuk dibawa kembali ke Gaza, karena ia mengatakan ingin meninggal dan dimakamkan di tanah yang ia cintai tersebut.
Dalam kesempatan wawancara dengan Al-Jazeera, Dalal mengatakan: ” Tindakan Israel adalah bentuk balas dendam terhadap jasa kemanusiaannya. Baru kali ini saya merasa menjadi yatim piatu. Ibu saya adalah pelindung bagi saya, kepergiannya meninggalkan kekosongan yang besar,” demikian Dalal mengatakan.

Jane Calder bersama putrinya, Dalal (Aljazeera)
Dalal juga menceritakan kenangannya bersama ‘Mama Jane’, panggilan sayangnya untuk ibunya. Dalal mengatakan bahwa ia dan saudara-saudaranya berbeda keyakinan dengan ibunya, sebab Jane adalah seorang penganut Nasrani. Akan tetapi, Jane tetap memberikan hak bagi anak-anaknya untuk mempelajari agama Islam dengan benar. Dalal mengatakan: “Sejak kami masih kecil, Mama menanamkan dalam diri kami kecintaan pada Islam. Sejak kami masih anak-anak, Mama memberitahu kami bahwa kami adalah muslim. Ia mengarahkan kami untuk melaksanakan salat dan ibadah-ibadah lainnya.”
Dalal menceritakan lebih lanjut bahwa ibunya juga memberikannya Al-Qur’an yang dicetak menggunakan huruf Braille, agar Dalal bisa membaca kitab suci tersebut. Ia mengingat kenangan ketika berpuasa bersama ibunya dan saudara-saudaranya pada Ramadan. Dalal juga menceritakan bahwa saat berada dalam kondisi kritis, ibunya sempat berusaha untuk bangun hanya untuk bertanya, “Apakah kamu tetap menjaga salat di sela-sela pekerjaanmu?” Ketika Dalal menjawab “Iya, Mama,” ibunya memujinya dengan berkata “Bagus”.
“Terlepas dari perang, blokade, dan kehidupan yang sulit di sini, Mama Jane tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Gaza,” demikian Dalal mendeskripsikan betapa besar cinta ibunya terhadap Gaza, Palestina, dan kemanusiaan. Di dalam tubuhnya memang tidak mengalir darah Palestina, tapi Palestina selalu ada di hati dan pikiran Jane Calder. Ia bukan penyanyi atau public figure yang memiliki banyak penggemar dan puluhan ribu followers di akun media sosialnya, tapi lebih dari itu, beliau adalah pahlawan kemanusiaan, kekasih Palestina, seorang tenaga kesehatan yang mengabdi dengan penuh ketulusan di Jalur Gaza.
Jane Calder telah rela meninggalkan tanah kelahirannya demi membela Palestina, menegakkan pondasi kemanusiaan yang selalu diruntuhkan oleh Zionis. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk mencintai, merawat, dan membesarkan anak-anak Palestina yang istimewa, serta membantu banyak orang yang membutuhkan pertolongannya. Cintanya kepada Palestina sudah tak terbilang besarnya, hingga di akhir hayatnya ia berpesan agar jasadnya diselimuti dengan bendera 4 warna favoritnya dan dimakamkan di tanah yang ia cintai tersebut. Jane Calder telah memberikan segala yang ia punya untuk Palestina, bahkan menginspirasi orang-orang di sekitarnya dengan ketulusan hatinya. Kini, Jane Calder telah pergi meninggalkan kita, meninggalkan lubang besar di hati penduduk Gaza dan Palestina. Jane Calder tidak akan pernah bisa tergantikan, tetapi kita di sini dapat meneladani dan meneruskan apa yang telah dikerjakan seumur hidupnya: membela Palestina dan menegakkan kemanusiaan tanpa kenal lelah.
🔴 الراحلة جين كالدر في مقابلة سابقة مع قناة الأقصى..
“تركت أستراليا وانتقلت للعيش في #غزة، لأخبر العالم عن حجم المعاناة الفلسطينية وتقديم الخدمات الإنسانية.” pic.twitter.com/caQ01wOJmr— محمود (أبو زياد) (@AbuZiad486) November 29, 2022
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://news.trenddetail.com/middleeast/259475.html
https://www.aljazeera.net/politics/2022/12/2/جين-كالدر-حكاية-أسترالية-قادها-حب
https://palsawa.com/post/369520/سبب-وفاة-جين-كالدر-من-هي-الطبيبة-الأسترالية-جين-كالدر
https://felesteen.news/post/122995/جين-كالدر-الطبيبة-الأسترالية-التي-تركت-وطنها-لأجل-القضية-الفلسطين
https://alresalah.ps/post/272586/الدكتورة-جين-كالدر-سطور-طويلة-في-حياة-ثلاثة-أطفال-فلسطينيين
- https://www.idntimes.com/health/medical/eka-amira-yasien/quadriplegia ↑
- https://www.idntimes.com/health/medical/ayu-novita-sari-2/atrofi-otak ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








