Bocah tiga tahun itu kehilangan berat badan dan mengeluh sakit kaki dan lemas. Berdasarkan diagnosis dokter, Nitisha kurang makan dan kurang gizi. Tetapi, perawatan seperti makanan sehat yang disarankan sulit didapat oleh keluarganya. Banyak orang di Sri Lanka, termasuk keluarga dari desa perkebunan teh di Hanthana, mengalami keruntuhan keuangan.
“Kami makan dua kali sehari dengan menu yang sama; nasi dengan kentang atau lentil. Kami tidak mampu membeli yang lain,” kata Harshini, ibu Nitisha. Selama berminggu-minggu, keluarga tersebut tidak memiliki susu atau telur.
Anak perempuan Harshini yang lebih muda, baru berumur satu bulan, juga lahir dengan berat badan kurang. Bayi itu kekurangan tiroksin, hormon pertumbuhan utama, dan harus bergabung dengan daftar bayi yang lahir dengan berat lahir rendah, sebagai dampak langsung dari kurangnya nutrisi saat kehamilan. Makanan telah menjadi pusat krisis ekonomi Sri Lanka. Pendapatan yang menyusut dan harga pangan yang melonjak telah memaksa keluarga Sri Lanka melewati waktu makan dan bertahan dalam kelaparan.
Banyak anak di desa Nitisha menjadi lebih sering sakit sekarang. Dokter di wilayah tersebut mengatakan bahwa mereka melihat lebih banyak pasien yang lebih muda dengan nutrisi kurang. “Efek kekurangan gizi membutuhkan waktu untuk terlihat,” menurut seorang dokter. “Saat ini sebagian besar anak yang kurang makan menggunakan cadangan yang tersimpan dalam tubuh, tetapi kekurangan gizi yang berkelanjutan akan memiliki dampak jangka panjang.”
UNICEF memperkirakan sekitar 56.000 anak di Sri Lanka menderita kekurangan gizi akut yang parah. Sekitar sepertiga rumah tangga tidak memiliki sumber makanan yang aman dan hampir 70% mengurangi porsi makanan, menurut angka Program Pangan Dunia terbaru (WFP).
Di Hanthana, Kanchana yang berusia 24 tahun sedang hamil empat bulan dan mengandung anak kembar. “Saya sering lapar, jadi saya makan nasi, Ikan, telur, dan buah memang lebih enak, tetapi mahal. Kami harus memilih antara membayar tes dan obat-obatan atau membeli makanan mahal.” Di desa lain, beberapa kilometer jauhnya, Devi sedang hamil anak kedua dalam kondisi anemia dan kurus. Pilihan untuk meningkatkan kesehatannya terbatas, yakni nasi dan suplemen vitamin gratis dari klinik pemerintah. “Saya ingin kehamilan kedua saya lebih sehat, tapi ini lebih buruk. Kata dokter, perkembangan anak saya akan terpengaruh jika saya tidak makan dengan baik.”
Situasi terasa genting. Semua orang mencari bantuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Program pemerintah yang menyediakan paket nutrisi untuk ibu hamil terhenti pada tahun lalu karena kekurangan dana. Program itu kemudian dimulai kembali pada bulan lalu, tetapi hanya sedikit yang menerima manfaatnya. “Sudah banyak yang mengajukan, tapi saya belum menerima satu paket pun meski hampir melewati setengah masa kehamilan,” kata Devi. Christian Skoog, perwakilan negara Unicef di Sri Lanka, mengatakan, “Situasi gizi ibu menjadi masalah dan terus memburuk. Berat badan lahir rendah adalah masalah besar di Sri Lanka karena ibu tidak mendapatkan nutrisi yang cukup selama kehamilan atau selama memberi ASI.”
Selain itu, anak-anak juga pergi ke sekolah dalam keadaan lapar. “Sebagian besar dari anak-anak ini, mulai dari tingkat SD, datang ke sekolah tanpa makan apa pun,” kata Anoma Sriyangi Dharmawardhane, Wakil Kepala Sekolah Horawala Maha Vidyalaya di Mathugama di Sri Lanka Selatan. “Setiap hari, sedikitnya 20-25 anak pingsan. Sekolah lalu mulai menawarkan bubur dan program makan tengah hari dengan dukungan orang tua yang secara sukarela turut memasak. Namun, kami sangat bergantung pada sumbangan untuk melanjutkan program itu.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








