Tentara pendudukan Israel pada Jumat (2/12) menyatakan kota Hebron sebagai “zona militer tertutup” untuk mencegah kunjungan dari organisasi hak asasi manusia dengan partisipasi ratusan aktivis di kota tersebut. Ini terjadi seminggu setelah tentara pendudukan menyerang aktivis Israel yang menunjukkan solidaritas dengan penduduk kota terhadap serangan pemukim. Tentara pendudukan mengklaim telah menutup kota untuk “mencegah bentrokan”.
Sekitar 300 aktivis datang ke Hebron untuk berpartisipasi dalam kunjungan dari 30 organisasi hak asasi manusia setelah serangan baru-baru ini terhadap warga Palestina dan aktivis Israel di Hebron. Kunjungan tersebut diselenggarakan oleh organisasi Israel Breaking the Silence, Asosiasi Hak Sipil di Israel, Peace Now, B’Tselem dan organisasi lainnya. Perintah militer mulai berlaku pada pukul 7 pagi sebelum para aktivis tiba untuk kunjungan tersebut. Pendudukan militer membatasi pergerakan aktivis yang berpartisipasi dalam kunjungan ke halte bus di dekat Masjid Ibrahimi.
Menurut tentara pendudukan, perintah untuk memberlakukan zona militer tertutup dikeluarkan ketika ada kebutuhan keamanan atau kebutuhan untuk menjaga ketertiban umum, sehingga suatu wilayah tertentu harus ditutup. Tentara pendudukan sempat mengizinkan pengaturan kunjungan untuk organisasi hak asasi manusia, tetapi pada kenyataannya “menolaknya” dengan mengeluarkan perintah militer ini.
Dua minggu lalu, 40.000 pemukim berpartisipasi dalam kunjungan di daerah yang sama di Hebron tempat pertemuan organisasi hak asasi manusia berlangsung. Ketika itu, para pemukim menyerang warga Palestina serta tentara Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








