Bulan November tahun ini, seluruh dunia disibukkan dengan ajang kompetisi olahraga bergengsi internasional, yaitu Piala Dunia yang sedang berlangsung di Qatar. Nyaris seluruh dunia tengah merayakannya dengan suka cita, menunjukkan dukungan terbaik bagi tim yang menjadi jagoan mereka. Masing-masing suporter tampil totalitas, mengenakan atribut khas tim yang mereka dukung, sembari menyemangati para pemain yang sedang bertanding di lapangan.
Di sela-sela keriuhan tersebut, media sosial menampilan foto-foto para suporter yang mengenakan atribut khas Palestina. Bukan hanya penduduk Palestina, melainkan suporter dari berbagai negara juga turut mengenakan atribut Palestina untuk menunjukkan solidaritas. Mereka dengan bangga mengenakan keffiyeh, ataupun mengibarkan bendera Palestina di barisan tribun. Hal tersebut mengingatkan kita sejenak, bahwa pada November, ada satu hari yang bersejarah bagi penduduk Palestina.

Bendera Palestina berkibar di Piala Dunia Qatar (https://english.wafa.ps/)
Pada 1977, PBB menetapkan 29 November sebagai Hari Solidaritas Palestina. Tanggal tersebut dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengingatkan bahwa pada tanggal yang sama, Israel telah memperkuat penjajahan dan sistem apartheidnya terhadap Palestina melalui pengesahan Resolusi Partisi (Partition Plan) pada 1947. Dipilihnya tanggal ini juga sebagai pengingat bahwa pada 1967, Israel terang-terangan melakukan pelanggaran dengan mengakui kota suci Al Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota mereka secara sepihak, tanpa memedulikan kecaman dari penduduk Palestina dan seluruh dunia.
Tujuh puluh lima tahun yang lalu, tepatnya pada 29 November 1947, Sidang Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 181 atau Resolusi Partisi mengenai pembagian wilayah Palestina menjadi dua, yaitu wilayah Yahudi dan Arab. Resolusi tersebut disetujui oleh 33 majelis, sementara 13 majelis lainnya menolak dan 10 majelis memilih untuk tidak bersuara. Sejak saat itu, sebagian besar wilayah Al Quds dan Betlehem berada di bawah kendali internasional.

Wilayah Palestina pasca-Resolusi Partisi (https://www.aljazeera.com/)
Pengesahan Resolusi Partisi membuat umat Yahudi-imigran mendapatkan bagian wilayah di pesisir sekitar Tel Aviv, sementara penduduk asli Palestina hanya mendapatkan 45 persen dari wilayah yang tersisa. Kecaman dan penolakan dari negara-negara Arab yang pro-Palestina sama sekali tidak diindahkan. Layaknya kue, tanah Palestina “dipotong” tanpa izin oleh pihak yang tidak memiliki hak atasnya, lantas “diberikan” kepada pihak yang tidak berhak menerimanya.
Resolusi ini adalah awal dari perampasan wilayah-wilayah Palestina yang terjadi selanjutnya. Hanya dalam satu tahun, wilayah Palestina yang tersisa untuk penduduk aslinya hanya 22 persen, yaitu Tepi Barat dan Gaza. Jumlah yang sangat sedikit ini kemudian diambil alih juga oleh Zionis pada 1967, membuat penduduk Palestina layaknya orang asing di tanah kelahiran mereka dan tanah nenek moyang mereka sendiri. Banyak juga yang terpaksa untuk pergi mencari kehidupan baru di belahan dunia lain, sebab situasi di tanah air mereka semakin lama semakin tidak terkendali.

Perbandingan wilayah Palestina sejak 1917 hingga 2020 (https://www.aljazeera.com/)
Resolusi Partisi dapat dikatakan sebagai “gerbang baru” yang memperluas penggusuran dan pengusiran penduduk Palestina dari rumah mereka sendiri, dan tidak kunjung berhenti hingga hari ini. Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2022, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) melaporkan bahwa Israel telah menghancurkan 590 bangunan milik penduduk Palestina, membuat 707 orang terpaksa mengungsi[1]. Sedangkan sejak tahun 2009 hingga Oktober 2022, Israel telah menghancurkan 8.867 bangunan, mengusir 12.973 penduduk Palestina[2].
Seluruh penduduk Palestina terkena dampak dari penggusuran, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Sejak awal tahun hingga Agustus 2022, PBB melaporkan bahwa Israel telah mengeluarkan 64 perintah pembongkaran terhadap sekolah-sekolah di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds Timur. Sekolah-sekolah tersebut merupakan tempat bagi 6.400 siswa dalam menempuh pendidikan, meskipun mereka harus bersekolah di bawah tekanan dan ketakutan. Sepanjang periode itu juga, Israel tercatat telah melakukan 115 pelanggaran terkait pendidikan terhadap siswa-siswa yang sedang bersekolah, membuat 8.000 siswa terkena dampaknya dan meningkatkan risiko putus sekolah[3].
Tak cukup “hanya” dengan menggusur manusia, Israel juga menggusur pohon-pohon di Palestina. Pada Oktober 2022, Israel mengeluarkan perintah untuk mencabut 30.000 pohon yang ditanam oleh para petani Palestina di hutan lindung seluas 1.600 hektar yang terletak di kita Khirbet A’tuf, selatan Tubas, di Lembah Yordan. Wilayah tersebut merupakan area subur yang menjadi rumah bagi sekitar 65.000 warga Palestina, yang hidup di bawah ancaman penggusuran berkali-kali karena tempat tinggal mereka ditetapkan sebagai zona militer oleh pasukan Israel[4].
Zaitun, pohon yang menjadi identitas penduduk Palestina, juga menjadi korban kebijakan sewenang-wenang Israel. Tahun ini, tepatnya mulai Oktober, penduduk Palestina seharusnya bersuka cita menyambut datangnya musim panen zaitun. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Musim panen zaitun dihantui ketakutan dan kecemasan, karena para pemukim berulang kali menyerang para petani Palestina yang sedang memanen buah zaitun mereka. Meskipun area penanaman pohon zaitun cukup luas, sekitar 43.000 dunam (43 kilometer persegi), tak terhitung juga jumlah pohon-pohon zaitun yang telah dicabut oleh pasukan Israel di berbagai wilayah Palestina, sebab sekali mereka melakukan pencabutan, ratusan pohon zaitun akan habis dibabat[5].
Banyaknya pelanggaran, bahkan hingga merenggut nyawa, membuat Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa 2022 adalah tahun yang paling mematikan bagi penduduk Palestina. Berdasarkan data dari PBB, Kementerian Kesehatan Palestina, dan laporan MEE, pasukan Israel tercatat telah membunuh 29 penduduk Palestina di Tepi Barat pada bulan Oktober saja. Jumlah ini jika diakumulasikan menjadi 130 penduduk Palestina yang dibunuh sejak awal tahun hingga Oktober 2022.
Defense for Children International Palestine (DCIP) menambahkan bahwa setidaknya 28 anak Palestina telah ditembak dan dibunuh oleh pasukan Israel atau pemukim di Tepi Barat sejak awal tahun hingga Oktober 2022. Jumlah tersebut termasuk 17 anak yang tewas saat agresi Gaza yang berlangsung selama tiga hari pada Agustus, dengan korban paling kecil adalah anak yang masih berusia empat tahun[6].
Pada Hari Solidaritas Palestina tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa Partition Plan telah mencekik penduduk Palestina selama 75 tahun lebih, dan hingga saat ini masih berlangsung. Penjajahan, penggusuran, pembunuhan, masih terjadi setiap harinya hingga nyaris menjadi rutinitas di Palestina. Tanpa memandang usia, laki-laki, perempuan, orang dewasa maupun anak-anak, semuanya terkena dampak dari kebijakan apartheid yang tidak kunjung usai ini. Maka, pada Hari Solidaritas Palestina tahun ini, kita kembali diingatkan untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita di Palestina dengan apa yang kita bisa, sebab mereka juga berhak menerima perlakuan adil sesuai dengan hak-hak asasi yang melekat dalam diri mereka sebagai manusia dan bangsa.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.ochaopt.org/data/demolition
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131165
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131362
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131345
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131383
https://www.aljazeera.com/news/2020/6/26/palestine-and-israel-mapping-an-annexation
https://www.aljazeera.com/news/2021/5/18/mapping-israeli-occupation-gaza-palestine
https://www.#/20221015-festival-launches-gazas-olive-picking-season/
https://www.#/20221105-october-was-deadliest-month-in-deadliest-year-for-palestinians/
- https://english.wafa.ps/Pages/Details/131165 ↑
- https://www.ochaopt.org/data/demolition ↑
- https://www.#/20220831-un-6400-palestinian-students-education-at-risk-due-to-israel-demolition-orders/ ↑
- https://english.wafa.ps/Pages/Details/131362 ↑
- https://www.#/20221015-festival-launches-gazas-olive-picking-season/ ↑
- https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-west-bank-october-deadliest-month-year-palestinians ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








