University of Edinburgh telah mengecualikan staf Palestina dan akademisi Palestina dari kelompok yang dibentuk untuk membahas “dampak jahat” dari definisi antisemitisme Aliansi Peringatan Holocaust Internasional (IHRA) yang sangat kontroversial. Rincian marginalisasi suara Palestina dilaporkan oleh dosen senior Hubungan Internasional, Nicola Perugini. “Definisi antisemitisme IHRA digunakan untuk membungkam percakapan kritis tentang Palestina,” kicau Perugini. “Tebak, siapa di universitas saya yang telah dikecualikan dari ‘kelompok tugas dan penyelesaian’ yang akan membahas akibat buruk dari definisi tersebut? Staf Palestina dan cendekiawan Palestina.”
Perugini juga menyatakan keprihatinan atas pengadopsian definisi IHRA oleh universitas-universitas Inggris tanpa konsultasi terlebih dahulu. “Mayoritas universitas di Inggris mengadopsi definisi tersebut tanpa berkonsultasi dengan staf mereka, di bawah tekanan Gavin Williamson Tory, Sekretaris Negara untuk Pendidikan,” kata Periguni yang juga salah satu penulis buku Human Shields: A History of People in the Line of Fire (2020). Menurut dosen senior tersebut, Williamson, yang baru-baru ini mengundurkan diri dari jabatan pemerintah untuk ketiga kalinya, telah “memeras” universitas “dan mengancam akan memotong dana negara jika mereka tidak mengadopsi” definisi antisemitisme dari IHRA.
Tanggapan ketidaksetujuan terhadap definisi tersebut telah berkembang selama bertahun-tahun karena kekhawatiran tentang efeknya yang mengerikan terhadap kebebasan berbicara. Akademisi Yahudi termasuk di antara banyak individu, kelompok, dan institusi yang menentangnya. Jaringan Fakultas Yahudi (JFN) memperingatkan IHRA yang mengatakan bahwa definisi tersebut telah digunakan untuk “mengintimidasi dan membungkam kerja serikat pekerja, kelompok mahasiswa, departemen akademik dan asosiasi fakultas yang berkomitmen untuk kebebasan, kesetaraan, dan keadilan bagi warga Palestina.”
Para kritikus bersikeras bahwa definisi antisemitisme IHRA bermasalah karena tujuh dari sebelas contoh antisemitisme menyebutkan kritik terhadap Israel sama dengan rasisme anti-Yahudi. Akibatnya, pengadopsian definisi tersebut secara luas akan membuka kemungkinan tudingan antisemitise terhadap mereka yang mengkritik negara apartheid, sekaligus dapat menyangkal kebebasan dan hak warga Palestina untuk berbicara tentang penindasan yang mereka alami akibat pendudukan militer Israel yang brutal.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








