Pusat Sosial Sada telah mendokumentasikan setidaknya 125 pelanggaran terhadap konten digital Palestina selama sebulan terakhir, mencatat bahwa pelanggaran ini didistribusikan di sebagian besar platform media sosial global. Platform ini memengaruhi konten, narasi, dan akun yang berhubungan dengan situasi Palestina serta pelanggaran berkelanjutan dari pendudukan Israel.
Sekali lagi, Facebook kembali menempati urutan pertama dalam menekan konten Palestina, kata kelompok itu dalam laporan bulanannya pada Selasa (1/10). Sebanyak 77 pelanggaran didokumentasikan oleh raksasa media sosial pada Oktober, termasuk menghapus akun sepenuhnya, menonaktifkan akun, membatasi jangkauan, dan mencegah pengguna dari penggunaan beberapa fitur, seperti streaming langsung, iklan, dan posting di grup. Sada Social mencatat bahwa 78 akun pribadi, 29 halaman publik, dan dua grup publik Facebook terkena pelanggaran digital. Sementara itu, 30 pelanggaran lainnya didokumentasikan di Instagram, 4 di TikTok, 1 di YouTube, 5 di Twitter, dan 1 di SoundCloud, kata Sada Social.
Untuk pertama kalinya, Telegram juga bergabung dengan platform media sosial lainnya dalam menekan konten Palestina, dengan 7 pelanggaran berupa penghapusan posting terkait Palestina. Ini terjadi setelah upaya resmi oleh otoritas pendudukan Israel yang menekan administrasi Telegram untuk menghapus akun dan unggahan yang terkait dengan Palestina.
Pusat tersebut mengatakan 42% dari konten yang terpengaruh adalah kata-kata dan keterangan yang terkait dengan perjuangan Palestina, 35,6% adalah gambar para martir Palestina yang dibunuh oleh pendudukan Israel atau gambar serangan Israel, dan 14% adalah video, terutama untuk prosesi pemakaman para martir yang dibunuh oleh pasukan Israel. Sada Social menunjukkan bahwa jurnalis dan outlet berita paling banyak disasar sejak awal tahun karena 49% pelanggaran didokumentasikan di halaman outlet media dan akun jurnalis. Ini merupakan “pembunuhan digital untuk jurnalisme Palestina” dan “pelanggaran berat terhadap hak kebebasan berekspresi.”
Sada Social Center adalah organisasi hak digital Palestina yang diluncurkan pada 2017 untuk melindungi narasi Palestina di platform media sosial. Pada tahun 2020 saja, lembaga tersebut telah mendokumentasikan 1.200 pelanggaran terhadap konten Palestina, termasuk 25 di Instagram, 10 di YouTube, 801 di Facebook, dan 276 di Twitter. Namun, pada tahun 2021, terjadi peningkatan pelanggaran terhadap konten Palestina, menjadi 1593 , termasuk 174 di Instagram, 16 di YouTube, 853 di Facebook, dan 445 di Twitter.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








