Persatuan Pelajar Nasional Inggris (NUS) pada Selasa (1/11) mengumumkan bahwa mereka telah memecat presiden terpilihnya, Shaima Dallali, menyusul penyelidikan kode etik independen atas tuduhan antisemitisme. “Menyusul penyelidikan independen yang dipimpin oleh King’s Counsel atas tuduhan antisemitisme, khususnya terhadap presiden terpilih saat itu, berdasarkan Kode Etik NUS, sebuah panel independen telah menemukan bahwa pelanggaran signifikan telah terjadi terhadap kebijakan NUS,” jelas organisasi tersebut. “Sesuai temuan ini, kami telah mengakhiri kontrak presiden. Kami dapat meyakinkan pihak yang berkepentingan bahwa proses ini sangat kuat dan bahwa kami dapat dan harus percaya pada hasilnya.”
NUS menambahkan bahwa mereka tahu akan ada “perasaan yang kuat” di sekitar masalah ini. “Kami mendesak orang-orang untuk menghormati proses dan menahan diri dari mengambil bagian atau melanggengkan penyalahgunaan, terutama online, terhadap siapa pun yang terlibat dalam masalah ini.” Penyelidikan dilakukan setelah kelompok-kelompok Zionis yang agresif, termasuk Persatuan Pelajar Yahudi (UJS), menerbitkan sebuah surat terbuka yang mengungkapkan keprihatinan tentang tulisannya di media sosial yang ditulis oleh perempuan berusia 26 tahun itu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tulisan tersebut mengacu pada pertempuran yang terjadi pada awal abad ke-7 antara Muslim dan penduduk Yahudi di Khaybar, sebuah oasis di Semenanjung Arab. Tulisan itu menyatakan bahwa “pasukan Muhammad” akan kembali ke Gaza.
NUS mengatakan Chloe Field, wakil presiden pendidikan tinggi, akan bertindak sebagai ketua pelaksana Dewan NUS dan menjabat sebagai presiden organisasi itu menggantikan Dallali. Menulis di Twitter, Dallali mengungkapkan bahwa dia baru mengetahui bahwa dia telah dipecat melalui sebuah tulisan di platform media sosial. Ironisnya, pemecatan tersebut bertepatan dengan hari pertama Bulan Kesadaran Islamofobia. “Itu tidak bisa diterima,” dia bersikeras.
Dallali lahir dari ayah Tunisia dan ibu Sudan. Dia datang ke Inggris pada tahun 2000 dan belajar di City University of London dan memperoleh gelar Master di bidang Hukum. Dewan Muslim Inggris menggambarkan pemecatan Dallali sebagai peristiwa yang “sangat meresahkan”. Dia telah menjadi sasaran “banjir pelecehan Islamofobia”, tambah organisasi itu. “Banyak mahasiswa muslim takut akan Islamofobia yang mereka hadapi di kampus. Keputusan ini hanya akan meningkatkan ketakutan itu dan menimbulkan pertanyaan tentang posisi mereka di NUS. Orang-orang yang berada di balik pemecatan itu berutang penjelasan.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








