Pada 13 Oktober, hanya enam hari sebelum Udai Tamimi melakukan perlawanan terakhirnya di pintu masuk permukiman ilegal Israel di Ma’ale Adumim, Ibrahim al-Nabulsi “merayakan” ulang tahunnya yang ke-19. Namun, petarung muda itu tidak pernah sampai di hari ulang tahunnya. Pada 9 Agustus, di salah satu bangunan terbengkalai di kawasan Faqous di Kota Tua Nablus, pemuda dengan julukan “Singa Nablus” itu dibunuh oleh pasukan khusus Israel yang menyamar. “Semuanya adalah Ibrahim… kalian semua adalah Ibrahim.” kata Huda Al-Nabulsi, ayah Ibrahim, saat dia membaringkan tubuh kaku putranya.
Baca juga selengkapnya tentang Udai Tamimi di sini
Pada 13 Oktober, keluarga dan teman-teman Al-Nabulsi mengadakan upacara simbolis untuk ulang tahun ke-19 pemuda itu. “Saya tidak pergi ke peringatan itu,” kata B, seorang teman dekat Al-Nabulsi. Dia hanya duduk di Bab al-Saha di Kota Tua dan membagikan permen kepada orang yang lewat untuk menghormati orang Palestina yang dibunuh oleh Israel. Di depan B, berdiri kanvas marmer berhiaskan nama-nama martir dari Kota Tua. “Saya ingat dia sangat bersemangat untuk memberikan teman kami, S, kejutan ulang tahun,” kenang B., “Dia sangat ngotot ingin merayakan ulang tahun S yang ke-21.”
Mengenakan t-shirt dan celana hitam sebagai tanda berkabung, teman Ibrahim lainnya, K, menghela nafas dan berkata: “lihat sekeliling kita, kota ini kosong. Anda dapat menemukan lebih banyak dari kami di kuburan sekarang.” K kemudian menunjuk ke arah kalung yang tergantung di lehernya yang dihiasi gambar para korban yang dia kenal, sebuah bukti kehilangan yang dia bawa bersamanya setiap hari. Kalungnya terbuat dari logam, dan wajah para korban diukir, bukan dicetak. Tiga wajah menghiasi setiap sisi, total ada enam. “Jika saya memiliki lebih banyak ruang, saya akan menambahkan wajah semua teman dan orang terkasih saya yang telah terbunuh,” katanya sambil tertawa getir.
Beberapa waktu terakhir, Al-Nabulsi difoto dan difilmkan berjalan di Kota Tua, sambil membawa senapannya pada siang bolong. Anak-anak kecil di Kota Tua akan bersemangat untuk berbicara tentang Al-Nabulsi begitu mereka mendengar namanya. Di antara sekelompok pemuda, terdapat seorang gadis kecil yang usianya belum genap lima tahun. Ia juga mengenakan kalung dengan foto Al-Nabulsi. Meskipun dia tampaknya belum sepenuhnya memahami siapa itu Al-Nabulsi, dia mengisyaratkan pengakuan pentingnya dengan mengatakan “Ibrahim” saat dia menarik kalung itu, sebagai bukti bahwa Ibrahim Al-Nabulsi telah menjadi ikon dan legenda dalam sejarah konfrontasi dan perlawanan Palestina.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








