“Anak Saya Meninggal Cepat dengan Sakit yang Mengerikan”
Gagal ginjal akut tengah membuat cemas para orang tua Indonesia yang mempunyai balita. Terlebih lagi, ada ratusan kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak, setengahnya dilaporkan meninggal. Gagal ginjal akut di Indonesia dikenal secara medis dengan istilah gangguan ginjal akut progresif atipikal/Acute Kidney Injury (AKI). Kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak usia 6-bulan – 18 tahun terjadi peningkatan terutama dalam dua bulan terakhir ini. Dilaporkan dari kasus yang ada, paling banyak didominasi usia 1-5 tahun (balita).
Gagal ginjal akut adalah kondisi saat ginjal berhenti bekerja secara tiba-tiba, tetapi tidak bersifat permanen atau kronis. Artinya, penyakit tersebut bisa disembuhkan, jika pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat. Jika tak ada masalah kesehatan lain yang menyertai, umumnya ginjal dapat kembali bekerja dengan normal. Gejala yang muncul pada penderita gagal ginjal akut ditandai dengan diare, mual, muntah, demam selama 3–5 hari, batuk, pilek, sering mengantuk, serta jumlah urin semakin sedikit hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali.
Sejauh ini penyebab gagal ginjal akut masih belum diketahui jelas dan masih dalam penelitian. Akan tetapi, menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril biopsi yang dilakukan terhadap ginjal pasien yang sudah meninggal membuktikan bahwa kerusakan pada ginjal disebabkan oleh senyawa etilen glikol. Oleh karena itu, Kemenkes dan BPOM kemudian melarang penjualan hingga penggunaan obat sirop di Indonesia. Hal ini karena obat sirop diduga tercemar cairan Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).
Pertanyaannya adalah, mengapa kasus gagal ginjal akut baru melonjak sekarang padahal obat sirop telah dikonsumsi sejak lama? Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan sebagian kasus terjadi dipicu bahan baku dari obat-obatan yang beredar. “Berdasarkan data, ada terjadi pergeseran dari negara-negara impor bahan baku,” jelas Menkes di Istana Negara, Senin (24/10). Saat ini pihaknya bersama BPOM sedang melihat apakah ada perubahan jenis, tipe, atau asal dari bahan baku pelarut yang digunakan di obat sirop.
Pada kesempatan yang berbeda, pakar farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati mengungkapkan bahwa ada kemungkinan ini disebabkan oleh pergantian sumber bahan yang digunakan pada obat sirop tertentu, misalnya beralih pemasok bahan baku dari satu negara ke negara lain sehingga memicu obat sirop menjadi tercemar dan menyebabkan kematian pada anak-anak. “Industri farmasi itu kan kalau membuat obat pasti catch by batch, tidak mungkin langsung banyak, ada batch-nya, mungkin batch sebelum-sebelumnya masih aman karena selama ini menggunakan sumber tertentu yang tidak bermasalah,” katanya.
Per 24 Oktober 2022 Kemenkes melaporkan jumlah pasien dengan gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia mencapai 255 orang, dengan 143 atau 56% di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Ratusan orang tua berkabung akibat penyakit yang merenggut nyawa buah hati mereka. Agustina Melani adalah salah satunya. Ia harus mengikhlaskan kepergian anaknya yang baru berusia 15 bulan pada 25 Agustus karena penyakit gagal ginjal. Nadira Azea Almaira, sang anak, sempat menjalani perawatan selama lima hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Awalnya, Nadira hanya batuk, flu, dan demam. Agustina mengira bahwa gejala tersebut karena Nadira akan tumbuh gigi. Namun, kondisinya memburuk setelah diminumkan obat sirup parasetamol dari sebuah Puskesmas di bilangan Jakarta Selatan.
“Setiap empat jam saya kasih [obat], karena panasnya nggak turun-turun. Sempat sembuh, tapi demam lagi. Akhirnya tidak pipis,” katanya. Gejala tersebut juga disertai pembengkakan pada tubuh Nadira. Setelah masuk ke beberapa rumah sakit, Nadira dilarikan ke RS Fatmawati. Diagnosis laboratorium menunjukkan kreatinin dan ureum Nadira menunjukkan angka yang melampaui ambang batas. Artinya, ginjalnya tidak berfungsi. “Dan akhirnya anak saya meninggal begitu cepat dengan sakit yang begitu mengerikan.”
Agustina Melani saat bersama putrinya Nadira Azea Almaira.
Sumber: bbc.com
Desi, ibunda dari Tiara (nama samaran), juga membagikan kisah putrinya yang berusia 20 bulan. Tiara sudah satu bulan menderita gagal ginjal akut sebelum akhirnya tidak sadarkan diri atau koma. Cerita bermula pada 2 September 2022 ketika Tiara demam dan langsung dibawa ke RS Aulia di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Karena demamnya baru satu hari, pihak rumah sakit hanya memberi obat untuk Tiara.
Terdapat tiga obat sirop yang diterima Desi dari dokter “Yang saya ingat hanya paracetamol saja, dua lagi obat batuk pilek, saya lupa namanya,” kata Desi. Ini bukanlah obat demam pertama yang dikonsumsi Tiara. Pada Agustus 2022, sebelum dirawat ke RS Aulia, Tiara sebenarnya sempat demam dan Desi membeli obat di apotek. Obat yang Desi beli adalah obat sirop Unibebi Cough Syrup 60 ml yang kini ditarik peredarannya karena kandungan Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas aman.
Tiara telah minum berbagai obat, tapi demam tak kunjung turun. Saat awal pengobatan, dokter ginjal anak memberi tahu Desi kalau putrinya terinfeksi bakteri saja. Akan tetapi, pada 5 September, ketika Tiara melakukan cek darah, hasilnya leukosit Tiara tinggi dan harus dirawat inap karena ia didiagnosis menderita gagal ginjal akut. Sejak saat itu, Tiara sudah tidak bisa lagi untuk buang air kecil—hanya keluar sekitar 3 cc urin untuk kebutuhan pengecekan di laboratorium. Masalahnya, peralatan di rumah sakit masih terbatas. Dua rumah sakit yang Desi datangi untuk merujuk anaknya, memiliki keterbatasan alat, sehingga pada 9 September, Tiara dirujuk lagi ke RSAB Harapan Kita di Palmerah, Jakarta Barat.
Tiara selanjutnya menjalani operasi pasang selang di perut untuk mencuci ginjalnya dengan metode cuci darah CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis). Setelah itu, kondisinya berangsur normal, meskipun air seni yang keluar masih sangat sedikit. Namun, pada 14 September, Tiara mengalami sesak napas dan harus masuk ruangan ICU lagi. Saat itu, dokter memberi tahu kalau kondisi Tiara sangat berat. Pada 23 September, Tiara pun mengalami koma dan sampai laporan ini dibuat (23/10) atau persis sebulan lamanya, Tiara masih belum sadar. Menurut penuturan dokter, Tiara mengalami komplikasi ke otak. Komplikasi ini adalah efek dari gagal ginjal yang diderita Tiara. Dua kali upaya CT Scan telah dilakukan; pertama diketahui ada penyumbatan di otak, lalu kedua diketahui ada penumpukan cairan di otak. “Itu yang bikin anak saya masih belum sadar sampai saat ini,” ujar Desi.
Yusuf Maulana, orang tua salah satu pasien penderita gagal ginjal akut di Yogyakarta.
Sumber: cnnindonesia.com
Sementara itu, RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta juga mengungkapkan terdapat pasien anak meninggal dunia terkait gagal ginjal akut meskipun tidak mengonsumsi obat-obatan apa pun sebelumnya. Yusuf Maulana mengatakan putrinya, ET (inisial), masih tampak sehat dan berinteraksi normal pada 16 September. Akan tetapi, sehari berselang anak kelimanya itu mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan. Selama ini, ET hanya mengonsumsi air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI (MPASI) racikan sendiri maupun kemasan yang sudah berlabel BPOM. Makanan pendamping baru diberikan saat ET jelang memasuki usia 7 bulan. Masih di tanggal yang sama, ET mulai mengalami demam. Orang tua menengarai ia tertular kakak-kakaknya yang pada saat itu juga terserang batuk pilek. Putrinya itu menjadi sulit tidur dan bahkan sesekali kejang serta tatapan matanya mulai kosong alias tidak fokus.
Gejala diare pun muncul pada kemudian hari. ET kemudian dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Gamping dan kemudian dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito. Dokter Spesialis Anak RSUP Dr. Sardjito, Kristia Hermawan, menjelaskan ET mengalami masalah pernafasan dan hati, di samping gagal ginjal, ketika dibawa ke RSUP Dr. Sardjito. Penanganan oleh RSUP Dr. Sardjito tak mampu memulihkan kondisi ET yang kian hari kian menurun. Seingat Yusuf, putrinya tak sampai menjalani hemodialisis atau terapi cuci darah. Pada akhirnya, Yusuf dan istri harus merelakan kepergian si bungsu dari kelima bersaudara itu pada 25 September dini hari, atau dua hari setelah ET menginjak usia tujuh bulan. Yusuf dan istri meyakini RSUP Dr. Sardjito telah berupaya sebaik mungkin demi menyelamatkan putrinya.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengaku belum dapat berkomentar banyak soal kasus penderita ginjal akut misterius yang tak pernah mengkonsumsi obat-obatan sebelumnya. Budi menjelaskan pihaknya masih melakukan penelitian kepada surveilans. Hal itu dilakukan guna memastikan pasien yang menderita penyakit ginjal akut misterius tersebut memang benar tidak mengonsumsi obat-obatan atau mungkin lupa telah mengonsumsi obat-obatan. Sejauh ini, Kemenkes menemukan 102 obat jenis sirop yang sempat dikonsumsi oleh pasien penyakit gagal ginjal akut. Setelah proses pengujian, terdapat tiga obat sirop yang berbahaya karena mengandung Etilen Glikol dan Dietilen Glikol yang melebihi ambang batas aman. Ketiga obat tersebut adalah Unibebi Cough Sirop, Unibebi Demam Sirop, dan Unibebi Demam Drops.
Kemenkes mengimbau masyarakat agar untuk sementara waktu tidak memberikan obat kepada anak dalam bentuk cairan/sirop tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. “Sebagai alternatif, masyarakat dapat menggunakan sediaan lain seperti tablet, kapsul, suppositoria (anal), atau lainnya,” ujar Jubir Kemenkes, Syahril (19/10). Di samping itu, pemerintah juga tengah mengimpor obat untuk menangani kasus gangguan ginjal akut yakni Fomepizole dari Singapura, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang. Beberapa sudah ada di Indonesia dan diberikan kepada pasien di RS Cipto Mangunkusumo. Hasilnya, kondisi 10 dari 11 pasien membaik.
Dengan maraknya penyakit gagal ginjal akut ini, para orang tua tentu menjadi lebih waspada terhadap kesehatan anak-anaknya. Meskipun demikian, Kemenkes mengimbau agar masyarakat, terutama orang tua, untuk tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan gejala-gejala yang sudah dijelaskan, orang tua dapat lebih memperhatikan kesehatan anaknya, terlebih dalam memperhatikan volume urin anak. Apabila terdapat gejala yang mengindikasikan AKI, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat. Para orang tua diminta untuk tidak sembarangan memberikan obat bebas atau mencari pengobatan sendiri untuk anak dan berupaya mengedepankan perawatan nonfarmakologis bila anak demam. Langkah-langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan mencukupi kebutuhan cairan, kompres air hangat, dan menggunakan pakaian tipis.
Vannisa Najchati Silma, S. Hum
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c51gky39d82o
https://setkab.go.id/kasus-gagal-ginjal-akut-pada-anak-meningkat-kemenkes-minta-orang-tua-waspada/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








