Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) didesak untuk menyelidiki kejahatan perang dalam serangan Israel pada Agustus 2022 di Jalur Gaza, Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan berita pada Selasa (25/10).
Organisasi advokasi hak asasi manusia tersebut mengumpulkan foto-foto pecahan senjata, citra satelit, dan kesaksian sebagai bukti bahwa kejahatan perang berlangsung dalam tiga serangan terpisah selama tiga hari kampanye pengeboman. Para korban, termasuk seorang anak laki-laki berusia empat tahun, seorang remaja yang sedang mengunjungi makam ibunya, dan seorang siswa yang hanya diam di rumah bersama keluarganya.
“Serangan terbaru Israel di Gaza hanya berlangsung tiga hari, tetapi itu adalah waktu yang cukup untuk melepaskan trauma dan kehancuran baru pada penduduk yang terkepung,” kata Agnes Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International. LSM yang berbasis di London tersebut memeriksa insiden ketiga yang menewaskan tujuh warga sipil dalam “roket terarah” yang Israel tuduh ditembakkan oleh kelompok-kelompok Palestina. “Tiga serangan mematikan yang kami periksa harus diselidiki sebagai kejahatan perang; semua korban serangan yang melanggar hukum dan keluarga mereka berhak mendapatkan keadilan,” tambah Callamard.
Amnesty telah mendokumentasikan 17 serangan selama agresi, tetapi hanya bisa mengumpulkan bukti yang cukup untuk menilai keabsahan tiga dari serangan tersebut. Pihak berwenang Israel telah memblokir pekerja Amnesty untuk mencapai Jalur Gaza sejak 2012, sehingga organisasi tersebut mengandalkan pekerja lapangan lokal, yang mengumpulkan 42 wawancara dan bukti visual dari lokasi serangan.
Pada 5 Agustus 2022, Israel melancarkan serangan militer di Gaza untuk menargetkan Jihad Islam Palestina dan cabang bersenjatanya, Brigade Al-Quds. Selama serangan itu, 49 warga Palestina tewas, termasuk 17 anak-anak, dan lebih dari 360 terluka saat serangan udara Israel menghujani Jalur yang terkepung selama tiga hari.
Amnesty mengatakan 33 orang tewas oleh pasukan Israel sementara tujuh orang terbunuh oleh roket Palestina yang “salah tembak”. Untuk sembilan sisanya, kelompok itu mengatakan tidak dapat menentukan pihak mana yang bertanggung jawab atas kematian mereka. Roket yang ditembakkan oleh kelompok bersenjata Palestina tidak menyebabkan kematian atau cedera serius terhadap warga sipil Israel.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







