Perubahan iklim ekstrem membuat beberapa negara di dunia mengalami iklim terburuk sehingga menimbulkan bencana alam. Perubahan Iklim adalah perubahan yang signifikan pada iklim, suhu udara, dan curah hujan dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan iklim menyebabkan peristiwa cuaca yang lebih sering, ekstrem, dan tidak dapat diprediksi. Beberapa bulan terakhir, memasuki penghujung 2022, bencana alam telah terjadi berulang kali di berbagai negara di belahan dunia. Jutaan orang telah menjadi korban dari dampak bencana alam yang silih berganti, dampak tersebut tidak hanya satu, tetapi merambah ke dampak lainnya.
Di Afrika Barat dan Afrika Tengah, curah hujan di atas rata-rata yang membuat banjir dahsyat telah mempengaruhi lima juta orang di 19 negara di seluruh kawasan, merenggut ratusan nyawa, menjungkirbalikkan mata pencaharian, menggusur puluhan ribu rumah mereka, dan menghancurkan lebih dari satu juta hektar lahan pertanian. Salah satunya di Nigeria. Krisis banjir telah menjadi bencana yang menewaskan sedikitnya 500 orang dan mempengaruhi lebih dari 1,4 juta orang, kata Nasir Sani-Gwarzo, Sekretaris Tetap Kementerian Kemanusiaan, Penanggulangan Bencana dan Pembangunan Sosial Nigeria.
Bergeser ke Benua Asia. Di Asia Selatan, jutaan orang yang saat ini berada di garis depan perubahan iklim, terpaksa harus meninggalkan rumahnya karena permukaan air sering kali naik tanpa peringatan. Di Yamuna Khadar, India, misalnya, saking seringnya mengalami bencana banjir, mengungsi telah menjadi sebuah gaya hidup bagi warganya. Menurut Bank Dunia, perubahan iklim dapat memaksa 216 juta orang di dunia untuk bermigrasi di negara mereka sendiri pada 2050. Di Asia Selatan saja, 40,5 juta orang diperkirakan akan mengungsi. “Hujan ekstrem di negara bagian Himalaya di India adalah yang terbaru dari serangkaian peristiwa di Asia Selatan yang diperburuk oleh perubahan iklim,” kata Harjeet Singh, kepala strategi politik global di Climate Action Network International.
Tempat penampungan sementara penduduk Yamuna Khadar di bawah jembatan layang setelah rumah mereka terendam banjir.
Sumber: aljazeera.com
Sementara di negara tetangganya, Pakistan, banjir dahsyat telah berdampak parah bagi kehidupan 33 juta orang. Menurut Otoritas Manajemen Bencana Nasional Pakistan (NDMA), lebih dari 1.500 orang tewas, termasuk 552 anak-anak. Bencana banjir tersebut juga telah menghancurkan persediaan air. Sebanyak 80% keluarga tidak memiliki cukup air bersih dan banyak orang tidak punya pilihan selain minum dari sumber air yang terkontaminasi. Satu dari lima rumah tangga mengaku mendapatkan air untuk minum dan memasak dari kanal, mata air, atau sungai yang sebagian besar sudah tercemar banjir. Oleh karena itu, bencana menimbulkan permasalahan baru, yaitu penyakit menular. Data survei terbaru dari otoritas kabupaten dan provinsi di Pakistan menunjukkan terdapat lonjakan jumlah kasus malaria (dengan jumlah hampir dua kali lipat di beberapa daerah), demam berdarah, dan diare akut, terutama di provinsi Sindh dan Balochistan.
Sebaliknya, beberapa negara di Afrika dan Asia lainnya justru mengalami gelombang panas dan kekeringan yang parah, bahkan akan menjadi sangat ekstrem dalam beberapa dekade mendatang dan dapat mengancam keberlangsungan kehidupan manusia. Sejak 2010–2019, sebanyak 38 gelombang panas telah menyebabkan kematian lebih dari 70.000 orang di seluruh dunia, atau seperenam dari sekitar 410.000 kematian akibat bencana yang terkait dengan iklim dan cuaca ekstrem dalam rentang waktu yang sama.
Melihat bangkai ternak di Ethiopia, Somalia, bukan hal yang mengherankan.
Sumber: reliefweb.int
Gelombang panas ekstrem membuat kekeringan di Somalia menjadi yang terburuk dalam 40 tahun. Di antara dampak gelombang panas ini adalah krisis pangan yang menempatkan anak-anak sebagai kelompok yang mengalami konsekuensi paling parah, dengan lebih dari separuh balita (1,8 juta) menghadapi kekurangan gizi akut. Hampir 6,7 juta orang di Somalia (41% dari populasi, meningkat hampir 2,4 juta orang dari angka sebelumnya), diperkirakan akan berjuang melawan kekurangan pangan yang meluas antara Oktober dan Desember pada tahun ini. Wilayah Tanduk Afrika menghadapi kegagalan musim hujan untuk kelima kalinya secara berturut-turut sehingga menyebabkan lebih dari tujuh juta anak-anak menghadapi kelaparan ekstrem di seluruh wilayah.
Krisis pangan juga dialami oleh para korban bencana banjir di Pakistan. 8,62 juta orang Pakistan menghadapi krisis atau tingkat darurat kerawanan pangan dan sebagian besarnya berada di wilayah yang terkena dampak banjir. Lebih dari 3,4 juta anak Pakistan menghadapi kelaparan, dengan perkiraan 760.000 anak di daerah yang dilanda banjir mengalami kekurangan makanan parah dan berisiko kekurangan gizi. Banjir menghancurkan tanaman, ternak, dan lonjakan harga. Tingginya harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan bahan makanan pokok sejak banjir membuat warga tidak mampu menjangkaunya, terlebih setelah mereka kehilangan rumah dan pendapatan mereka. Kenaikan harga pangan akibat konflik perang, krisis ekonomi, dan pandemi Covid-19 ikut menjadi pendukung dari dampak bencana perubahan iklim.
Tidak hanya manusia, binatang ternak dan satwa liar pun ikut terkena dampak bencana kekeringan. Satwa liar di Kenya, misalnya, mati dalam jumlah besar di banyak hutan lindung yang tersebar di seluruh negeri. Kekeringan dua tahun yang melelahkan di Kenya memusnahkan 2% spesies zebra paling langka di dunia. Pendiri dan Direktur Eksekutif Grevy’s Zebra Trust, Belinda Low Mackey, mengatakan bahwa tingkat kematian spesies tersebut akan meningkat jika tidak ada hujan yang signifikan di wilayah itu. “Sejak Juni, kami telah kehilangan 58 zebra Grevy dan kasus kematian melonjak saat kekeringan meningkat,” katanya. Konservasionis khawatir akan lebih banyak kematian dialami oleh spesies yang terancam punah. Selain itu, Nancy Githaiga, Direktur Africa Wildlife Foundation di Kenya, mengatakan bahwa 109 ekor gajah tercatat telah mati di Taman Nasional Tsavo, selama setahun terakhir. “Walaupun kasus perburuan liar menurun drastis karena adanya pengawasan, tetapi jumlah gajah saat ini turun drastis karena kekeringan,” katanya.
Andrew Letura, petugas ekologi dan pemantauan di Grevy’s Zebra Trust, berlutut di samping bangkai Zebra Grevy yang terancam punah, yang mati selama kekeringan, di taman nasional Samburu, Kenya, 23 September 2022.
Sumber: edition.cnn.com
Tanpa investasi jangka panjang yang lebih besar dari komunitas internasional dalam solusi berbasis sains, infrastruktur tahan risiko, dan kapasitas nasional, iklim ekstrem semacam ini akan terus meninggalkan jejak kehancuran, terutama di negara-negara yang negara berpenghasilan rendah atau menengah ke bawah. Para ilmuwan juga telah berulang kali menekankan perlunya membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius (2,7 derajat Fahrenheit). Pelanggaran terhadap ambang batas tersebut dapat berisiko pada efek perubahan iklim yang berakibat jauh lebih parah pada manusia, satwa liar, dan ekosistem. Klimatologi terbaru memperjelas bahwa satu-satunya cara untuk mengurangi kemungkinan kejadian serupa di masa depan adalah dengan menurunkan emisi global, terutama di negara-negara berpenghasilan tinggi.
“Sangat tidak adil bahwa negara-negara yang rapuh harus menanggung kerugian dan kerusakan yang mematikan akibat panas yang ekstrem, ketika mereka (negara-negara maju-red.) secara jelas dan terbukti paling tidak bertanggung jawab atas perubahan iklim,” kata Martin Griffiths, Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). “Negara-negara yang lebih kaya memiliki sumber daya untuk membantu rakyatnya beradaptasi. Akan tetapi, negara-negara miskin yang seharusnya tidak bertanggung jawab atas gelombang panas yang menyiksa ini, tidak memiliki sumber daya tersebut.”
Di Indonesia sendiri, menurut laporan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, bencana alam telah terjadi sebanyak 2.718 kali sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Oktober 2022. Kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 1.083 kali, tanah longsor 483 kali, dan cuaca ekstrem 867 kali. Sementara itu, gempa bumi terjadi sebanyak 21 kali, kebakaran hutan dan lahan 239 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 21 kali. Bencana banjir merupakan bencana yang paling banyak memakan korban jiwa.
Bencana banjir melanda Aceh Utara
Sumber: cnnindonesia.com
“Dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 160 jiwa, hilang 28 jiwa, 790 luka-luka, serta penduduk yang terdampak dan mengungsi sebanyak 3.193.001 jiwa,” jelasnya. Di antara jumlah korban tersebut, pada awal Oktober, banjir telah membuat 31.404 orang di Aceh Utara dan 2.436 orang Aceh Timur terpaksa mengungsi. Adapun BNPB mencatat Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memiliki frekuensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor tertinggi di Indonesia. “Kabupaten Bogor ini adalah daerah dengan frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi paling tinggi di Indonesia, tidak hanya di Jabodetabek,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, pada Selasa (11/10).
Bencana alam dan perubahan iklim, memang tidak hanya terjadi di tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, alarm penanda rusaknya alam telah ‘dibunyikan’ bumi. Serangkaian bencana alam telah terjadi, seperti banjir ataupun kebakaran hutan, sebagai peringatan bagi manusia atas aktivitas keserakahannya yang telah ‘melukai’ bumi. Namun, tidak banyak perubahan yang terjadi. Protes-protes yang dilakukan sejumlah aktivis lingkungan diabaikan begitu saja. Perusakan bumi tetap dilakukan.
Pun pada tahun ini, bencana alam kembali datang dengan durasi yang lebih panjang dan dirasakan hampir merata di seluruh penjuru bumi. Hampir seluruh belahan bumi merasakan bencana alam yang terjadi, baik mereka yang tinggal di negara-negara maju, berkembang, maupun mereka yang tinggal di negara miskin. Perbedaanya, bagi mereka yang tinggal di negara-negara miskin, kehadiran bencana tidak mampu mereka hadapi dengan baik karena keterbatasan teknologi dan kemampuan ekonomi.
Sementara mereka yang tinggal di negara-negara kaya, sekaligus sebagai produsen karbon terbesar, meskipun mendatangkan kerugian material dan immaterial, namun bencana dapat dilalui dengan jauh lebih mudah. Keadaan ini tentu menjadi tidak adil karena kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas negara-negara kaya, dampak buruknya juga menghantam negara-negara miskin yang ‘hanya’ menyumbang emisi karbon dan rumah kaca di bawah 1%. Namun, terlepas dari semua itu, aktivitas keserakahan ini sejatinya hanya dilakukan segelintir pihak, tetapi akibatnya harus ditanggung oleh seluruh masyarakat dunia, bahkan oleh hewan dan tumbuhan.
Keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai masyarakat dunia, seluruh pihak harus bersatu agar alam tidak lagi dirusak dan manusia bisa kembali hidup harmoni secara natural, berdampingan dengan tumbuhan dan hewan sebagai sesama makhluk bumi. Sebab jika tidak, perusakan alam ini sama halnya dengan penghancuran dan pemusnahan seluruh makhluk di muka bumi ini, tidak terkecuali manusia.
Vannisa Najchati Silma, S. Hum
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/africa/drought-claims-109-elephants-in-kenyan-national-park-over-past-year/2699551 https://adararelief.com/bnpb-sebut-bencana-hidrometeorologi-capai-rekor-bencana-alam/
https://adararelief.com/banjir-rendam-aceh-utara-31-ribu-warga-terpaksa-mengungsi/
https://adararelief.com/4-764-warga-jadi-korban-banjir-aceh-timur-2-436-mengungsi/
https://edition.cnn.com/2022/10/13/africa/hundreds-killed-nigeria-floods-intl/index.html
https://edition.cnn.com/2022/10/05/africa/kenya-drought-wildlife-climate-intl-cmd/index.html
WHO Emergency Appeal Health Crisis in Flood-Affected Pakistan, September 2022- Mei 2023, https://reliefweb.int/report/pakistan/who-emergency-appeal-health-crisis-flood-affected-pakistan-september-2022-may-2023
Extreme Heat Preparing for the Heatwaves of the Future, Oktober 2022, https://reliefweb.int/report/world/extreme-heat-preparing-heatwaves-future-october-2022
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







