‘Rosh Hashanah’, atau Tahun Baru Yahudi 2022 dimulai pada 25 hingga 27 September 2022. Bagi penduduk Kota Suci Al-Quds (Yerusalem), ini berarti bersiap siaga akan serbuan para pemukim ekstrem ke Masjid al-Aqsa.
Terbukti, sejak Senin dini hari (26/9), pasukan Israel sudah mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di bawah usia 40 tahun untuk memasuki kompleks Al-Aqsa. Tak hanya itu, mereka juga memeriksa kartu identitas jamaah dan membarikade beberapa gerbang menuju kompleks Al-Aqsa, termasuk Gerbang Damaskus, rute Via Dolorosa, dan titik masuk lainnya ke Al-Aqsa. Pasukan pendudukan juga mencegah paramedis Palestina memasuki Masjid al-Aqsa melalui Lions Gate. Walaupun paramedis telah mencoba memasuki Al-Aqsa sejak Subuh, tetapi pasukan pendudukan tetap mencegah mereka untuk bisa masuk. Selain itu, Israel juga mengerahkan pesawat pengintai di langit Yerusalem untuk memantau pergerakan orang-orang di kota yang telah naik di atas Masjid al-Qibli di dalam kompleks Al-Aqsa.
Fakhry Abu Diad, seorang aktivis Palestina di Al-Quds, menggambarkan adegan pada Senin pagi di Al-Quds sebagai sebuah ‘pengepungan’, “Otoritas pendudukan memberlakukan pengepungan ketat terhadap Masjid al-Aqsha,” katanya, “Mereka mendirikan sejumlah barikade militer di pintu masuk dan semua jalan yang mengarah ke sana, menutup Kota Tua dengan pos pemeriksaan militer, mengendalikan atap rumah dan dinding bangunan Kota Tua untuk mencegah kedatangan orang-orang Al-Quds ke Al-Aqsa.”
Sementara menghalangi jamaah muslim yang hendak beribadah, militer Israel membiarkan bahkan menjaga pemukim ilegal untuk menyerbu kompleks Al-Aqsa. Ratusan pemukim memasuki kompleks dari Gerbang Al-Mughrabi di bawah perlindungan ketat dari pasukan keamanan. Menurut Wakaf Islam, badan Palestina-Yordania yang menjalankan urusan kompleks Al-Aqsa, serbuan tersebut dilaksanakan secara sistematis dan terorganisasi dengan mengelompokkan 50 orang pemukim dalam satu rombongan. Sebagian dari mereka secara provokatif melakukan ritual Yahudi dengan meniup shofar, terompet tradisional Yahudi, di luar gerbang kompleks Al-Aqsa dan di lingkungan pemakaman Bab al-Rahmah.
Laporan lokal mengatakan bahwa polisi menyerang jamaah muslim dan memaksa mereka untuk pergi. Puluhan pemuda Palestina akhirnya menunaikan salat subuh di luar gerbang masjid karena polisi membatasi mereka masuk ke dalam. Setidaknya enam warga Palestina telah ditangkap. Bentrokan kemudian terjadi antara pemuda Palestina dan petugas polisi di daerah Bab al-Asbat dan Bab al-Amud (Gerbang Damaskus) di Kota Tua. Pasukan mengusir mereka dan menembakkan tabung gas air mata di dalam situs suci.
Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan kejadian pada Senin siang (26/9), saat militer Israel tanpa pandang bulu menyerang seorang lansia, Khair As-shaimi, hingga jatuh dan kepalanya terbentur lantai. Padahal, As-Shaimi yang juga merupakan seorang murobith (penjaga) Al-Aqsa hanya sedang mencoba masuk ke masjid dari Gerbang Al-Asbat. Pasukan juga menyerang seorang muslimah asal Kanada, yang sedang membuat film di halaman Masjid al-Aqsa dan secara paksa memindahkannya dari area masjid.
Ancaman Terhadap Status Quo Masjid Al-Aqsa
Dunia internasional telah mengakui sejak 1967, bahwa status quo masjid Al-Aqsa adalah milik umat Islam, dan pengelolaannya telah diserahkan pada Dewan Wakaf Yordania (Awqaf). Meski demikian, Zionis Yahudi terus berupaya untuk merebut status itu dengan berbagai cara, salah satunya dengan dalih merayakan hari-hari besar mereka.
Secara provokatif, sistematis, dan terang-terangan, Zionis Israel berupaya menunjukkan kekuatan mereka di Al Aqsa. Kelompok ekstrem sayap kanan Israel telah menyerukan serangan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsa pada hari libur Rosh Hashanah. Sedangkan polisi Israel mengeluarkan pernyataan versi mereka sendiri yang mengklaim kekuatan mereka atas Al-Aqsa: “Di bawah kepemimpinan komandan Brigade Yerusalem, polisi terus berfokus pada kawasan Kota Tua sebagai bagian dari persiapan intensif untuk Rosh Hashanah. Tadi malam, sejumlah pemuda membarikade diri di masjid, dan pada pagi hari, dengan dimulainya kunjungan [pemukim], mereka mulai menembakkan kembang api dari waktu ke waktu.” kata pernyataan itu, “dua pria,” tambahnya, ditangkap karena “melempar batu” ke pasukan polisi.”
Pada beberapa pekan mendatang, serbuan pemukim diperkirakan akan terus berlangsung dalam jumlah besar, seiring Rosh Hashanah yang jatuh pada minggu ini, dilanjutkan dengan peringatan hari paling suci dalam agama Yahudi atau Yom Kippur pada 5 Oktober, dan Sukkot atau pesta perayaan panen yang diperingati pada 10 hingga 17 Oktober nanti. Pada tahun lalu, dalam pesta Sukkot selama tujuh hari, jumlah pemukim yang menyerbu Al-Aqsa mencapai 3.600 orang. Sementara itu, dalam jangka waktu satu tahun, yaitu sejak September 2021 hingga September 2022 kini, tercatat 47.988 orang Yahudi sayap kanan menyerbu Masjid al-Aqsa. Administrasi Temple Mount, organisasi sayap kanan, mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun tersibuk bagi orang Israel dalam menyerbu Masjid al-Aqsa sepanjang sejarah “berdirinya” negara apartheid.
Oleh karena itu, Sheikh Ikrima Sabri, seorang imam veteran di Masjid al-Aqsa, mengatakan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan meninggalkan orang-orang Al-Quds sendirian dalam membela Al-Aqsa. Sebaliknya, negara-negara Arab dan dunia Islam harus bergerak untuk mendukung Masjid al-Aqsa dan melindunginya.
Lebih dari 100 partai politik, organisasi, kelompok dan inisiatif pemuda di seluruh dunia menyerukan Liga Arab untuk mengadakan pertemuan darurat untuk membahas meningkatnya agresi Israel di Masjid al-Aqsa (26/9). Badan-badan tersebut mengutuk serangan pemukim Israel di Masjid al-Aqsa yang telah meningkat. Mereka juga menekankan pentingnya mengadakan pertemuan darurat Liga Arab dan pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk mengutuk dan menolak “peningkatan serangan Yahudi, dan untuk mengaktifkan diplomasi demi mencegah pelanggaran Israel yang lebih jauh terhadap Al-Aqsa.”
Umat Kristiani yang berada di Al-Quds juga turut mengutuk pelanggaran status quo atas Al-Aqsa yang dilakukan oleh Israel. Pastor Manuel Musallam, seorang imam katolik Palestina, kemarin (26/9) menyerukan semua orang Kristen di Palestina untuk memobilisasi dan melindungi Masjid al-Aqsa dari serangan pemukim Israel yang direncanakan dilakukan dalam beberapa hari dan minggu mendatang.
Dalam siaran persnya, Pastor Musallam mengatakan bahwa “keberhasilan rencana pemukim untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa berarti penghancuran keberadaan Kristen dan Islam di Al-Quds.” Berbicara kepada orang-orang Kristen di Al-Quds dan di seluruh Palestina yang bersejarah, ia meminta jemaatnya untuk berdiri “berdampingan bersama saudara-saudara Muslim, membela Masjid al-Aqsa dari agresi Israel.” Dia menegaskan kembali bahwa melindungi Masjid al-Aqsa berarti melindungi Gereja Makam Suci dan Gereja Kelahiran, serta keberadaan Islam dan Kristen di Palestina.
Sumber:
https://english.wafa.ps/Pages/Details/131017
https://www.middleeasteye.net/news/aqsa-israel-settlers-storm-jewish-new-year
https://www.#/20220926-al-aqsa-mosque-tensions-high-after-settlers-storm-courtyards/
https://www.#/20220927-calls-for-holding-emergency-arab-league-meeting-on-al-aqsa-mosque/
https://www.#/20220926-50000-right-wing-jews-desecrate-al-aqsa-mosque/
https://safa.ps/post/336322/مستوطن–ينفخ–بالبوق–داخل–الأقصى–والاحتلال–يضرب–مصلين
https://wafa.ps/Pages/Details/33944
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








