Jalur Gaza di Palestina mengalami krisis listrik yang memprihatinkan dan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pada situasi yang sangat buruk, seperti ketika agresi dan setelahnya, pemadaman listrik mencapai hingga 16 jam dalam sehari. Jalur sempit yang terletak di pantai timur Laut Tengah itu merupakan wilayah yang hampir tidak memiliki sumber energi lokal untuk kebutuhan listrik mereka. Sejak 1967, Gaza telah bergantung pada impor listrik dari “Israel” yang harus mereka beli dengan harga yang tinggi. Sementara itu, satu-satunya pembangkit listrik di jalur itu tidak dapat beroperasi dengan maksimal, baik karena berbagai pembatasan, larangan, maupun agresi.
Dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta jiwa, Gaza membutuhkan pasokan listrik hampir sebesar 600 MW/hari. Akan tetapi, jalur itu hanya dapat memenuhi kurang dari 30% kebutuhannya, yaitu sekitar 180 MW. Sebanyak 60 MW berasal dari pembangkit domestik, 120 MW dari perusahaan listrik Israel, dan 30 MW dari Mesir, tetapi saluran dari Mesir telah terputus sejak Februari 2018.
Batas Harian Pasokan Listrik di Gaza (per megawatt)
Sumber: www.nbcnews.com
Penyebab utama dari krisis listrik di jalur Gaza adalah blokade yang diberlakukan Israel sejak 2006. Saat itu, pasukan Israel meledakkan enam transformator utama di satu-satunya pembangkit listrik di jalur itu. Meskipun setengah dari transformator yang rusak telah diperbaiki, tetapi krisis bahan bakar terus terjadi secara berkelanjutan. Gaza mengalami defisit energi yang besar dengan pemadaman listrik antara 12–16 jam dalam sehari.
Muhammad Thabet, Direktur Hubungan Masyarakat dan Media di Gaza Electricity Distribution Corporation, badan resmi yang bertanggung jawab atas pasokan listrik di Jalur Gaza, mengatakan kepada Al-Monitor, “Listrik adalah layanan dasar dan hak setiap warga negara. Sejak Israel menghancurkan satu-satunya pembangkit listrik kami pada 2006, kami telah berusaha untuk menyelesaikan krisis kekuasaan dengan para pemangku kepentingan. Kami tidak ingin masalah ini dipolitisasi untuk mencegah Israel menggunakannya sebagai kartu tekanan kepada penduduk Gaza. ”
Pada agresi 2011, Israel kembali menyasar saluran listrik dengan menghancurkan 5 dari 10 saluran yang memasok listrik ke Gaza. Israel juga melarang masuknya bahan bakar, sehingga Gaza Power Plant hanya dapat menjalankan dua dari empat turbinnya. Akibatnya, pasokan listrik menurun hingga 45%, dengan rata-rata listrik hanya tersedia selama lima jam per hari. Sementara itu, beberapa area terputus total dari jaringan listrik. Adanya peningkatan pemadaman ini semakin menghambat kebutuhan rumah tangga akan listrik, dan mengurangi pengoperasian fasilitas medis dan layanan umum lainnya.
Defisit Pasokan Listrik di Gaza
Sumber: https://www.ochaopt.org
Pada Agustus 2020, Israel memutuskan untuk menutup penyeberangan dengan Gaza dan menghentikan pasokan bahan bakar. Dalam waktu sekitar seminggu, yaitu pada 18 Agustus 2020, pembangkit listrik mati karena kekurangan bahan bakar. Pasokan listrik ke warga pun semakin berkurang, menjadi hanya empat jam per hari. Kondisi ini berlangsung selama tiga pekan, hingga kemudian pada 1 September, Israel membuka kembali penyeberangan sehingga pasokan listrik kembali ke rotasi maksimum delapan jam. Menurut survei yang dilakukan pada 2020, sebanyak 86,2% dari sampel warga Gaza menyebutkan bahwa mereka hanya mendapat listrik rata-rata 6–8 jam per hari, sementara sekitar 10% mendapatkan kurang dari 6 jam per hari.
Jumlah pasokan listrik yang dirasakan warga Gaza perhari.
Sumber: https://reliefweb.int
Ketersediaan listrik di Gaza juga sangat bergantung pada situasi keamanan yang terjadi di jalur itu. Pada agresi tiga hari di bulan Agustus 2022, misalnya, pembangkit listrik satu-satunya di Gaza sempat berhenti beroperasi. Padahal, energi listrik saat itu sedang sangat dibutuhkan terutama untuk sektor kesehatan. Oleh karena itu dalam kesehariannya, jika pasokan listrik tidak tersedia, warga Gaza beralih kepada sumber energi cadangan yang diperoleh dari sumber panas matahari, generator komersial, generator pribadi, dan cadangan baterai. Namun, kemampuan untuk memiliki sumber energi cadangan tersebut masih sangat terbatas. Tidak semua warga Gaza memiliki akses ke sumber energi alternatif karena mereka tidak mampu membayar, terutama warga Gaza yang berada di wilayah perdesaan.
Dengan kondisi ini, sulit dibayangkan bagaimana kondisi warga Gaza yang dalam keadaan terbatas, terus mengalami kesulitan dalam mengakses listrik untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka sering mengeluhkan tidak dapat menjalani rutinitas harian yang bergantung listrik di segala aktivitas, mulai dari mengangkut dan menyimpan makanan, bekerja, pendidikan, kesehatan, dan komunikasi. Bahan makanan dan sayuran menjadi busuk dan terbuang karena tidak bisa disimpan di lemari pendingin. Kerusakan alat elektronik juga terjadi akibat pemadaman listrik yang terus terjadi. Pada musim panas, warga Gaza menderita akibat kipas angin dan pendingin ruangan yang tidak berfungsi karena seringnya terjadi pemadaman listrik. Tabel berikut ini menggambarkan permasalahan yang dihadapi oleh penduduk Gaza akibat krisis listrik yang melanda mereka.
Masalah yang dihadapi masyarakat Gaza dalam kesehariannya akibat dari pemadaman listrik.
Sumber: https://reliefweb.int
Berbagai sektor pelayanan juga sangat terdampak oleh krisis listrik ini. Di sektor WASH (Water, Sanitation, Hygiene), menurut Gaza Water Utility, penurunan suplai listrik selama 5–7 jam per hari berdampak pada penurunan suplai air sebesar 20–50% ke seluruh wilayah Gaza. Sedangkan di sektor kesehatan, krisis energi berdampak pada krisis kesehatan, dengan pembatasan untuk 39 ruang operasi di rumah sakit di Gaza, bayi-bayi prematur berisiko tidak dapat menggunakan inkubator, juga berbagai fasilitas kesehatan lain yang sangat terbatas penggunaannya akibat krisis listrik.
Pada gilirannya, krisis ini berdampak pada kesehatan mental penduduk Gaza. Tabel berikut menggambarkan pengaruh yang dirasakan oleh penduduk Gaza dalam kisaran usia dari 18 hingga 56 tahun ke atas, yang mayoritas (di atas 92%) menyatakan bahwa krisis listrik telah mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Efek dari kurangnya daya listrik pada kesehatan mental warga.
Sumber: https://reliefweb.int
Noha al-Astal, penduduk Khan Yunis di Gaza selatan, tinggal bersama suami dan delapan anaknya di sebuah rumah bobrok di dalam lorong-lorong sempit. Ia menceritakan kesulitannya yang bertambah-tambah ketika agresi 2022 dan membuatnya merasa hidup tanpa martabat. “Di sini, di Gaza, kami tinggal di penjara, atau bahkan lebih buruk. Situasi semakin tidak tertahankan selama seminggu, tanpa listrik dan kemudian agresi. Tidak ada rasa keselamatan atau keamanan di sini, ” keluhnya.
“Dan sekarang kami kehabisan air, yang berarti kami tidak bisa lagi mandi, atau mencuci pakaian atau apa pun. Kami tidak dapat memiliki langganan generator pribadi atau mendapatkan panel surya. Yang kami inginkan hanyalah hidup dalam martabat dan memiliki layanan kehidupan minimum seperti listrik dan air. Ketika saya mengetahui bahwa pembangkit listrik akan berhenti bekerja, saya merasa bahwa hidup akan berhenti juga. Saya memeluk anak -anak saya dengan erat dan tangisan pahit kami pun pecah. ”
Sementara itu, The Institute for National Security Studies (INSS) yang berbasis di Tel Aviv menyatakan bahwa krisis listrik Gaza disebabkan oleh kurangnya uang tunai dan bahan bakar. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah Israel selalu menggunakan pola hukuman kolektif terhadap penduduk Gaza dengan mencegah masuknya bahan bakar, bahkan ketika sumber pendanaan telah tersedia. Pun jika bahan bakar telah mencukupi, infrastruktur dan power plant (pembangkit listrik) yang tersedia untuk mendistribusikan energi, sebagian besar masih disfungsional karena pengeboman Israel yang terus menyasar sumber energi listrik di Gaza.
Yunda Kania Alfiani
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan.
Referensi:
Al-Monitor. (2017). “Egypt Supplying Fuel to Rescue Palestinians”. https://www.al-monitor.com/originals/2017/06/gaza-electricity-crisis-egypt-diesel-rapprochement.html.
Al-Monitor. (2022). “Power Outgage Adds Unbearable Hardships Palestinians Gaza”. https://www.al-monitor.com/originals/2022/08/power-outage-adds-unbearable-hardships-palestinians-gaza
Dotan Halevy. (2022). “The Gaza Strip: An Israeli Crisis, Not a Climate Crisis”. https://www.haaretz.com/opinion/2022-06-28/ty-article-opinion/.premium/the-gaza-strip-an-israeli-crisis-not-a-climate-crisis/00000181-a650-db99-a7b3-bf5db4d20000
Euro-Med Human Rights Monitor. (2021). “Suffocation And Isolation: 15 Years of Israeli Blockade on Gaza”. https://euromedmonitor.org/en/gaza#.
Muhaisen, Ahmed Salama. (2007). “The Energi Problem in Gaza Strip and Its Potential Solution”. Conference Proceedings, Energi and Evironmental Protection in Suistainability Development (ICEEP), 145-153. Palestine Polythenic University. https://www.researchgate.net/publication/259979292_The_Energi_Problem_in_Gaza_Strip_and_its_Potential_Solution.
Palestine Children’s Relief Fund (PCRF). (2021). “What You Need to Know About the Electricity Crisis in Gaza. https://www.pcrf.net/president-s-blog/electricity-in-gaza.html.
The International Committee of the Red Cross (ICRC). (2020). “The Impact of the Electricity Crisis on The Humanitarian & Living Conditions in the Gaza Strip – Survey Study”. PAL Forward For Services & Consultancies Gaza, 1-20. https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/impact-electricity-crisis-humanitarian-living-conditions-gaza
The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories (B’Tselem ). (2020). “Summer 2020: Gaza’s Electricity Crisis Deepens Again, with 4 Hours of Daily Supply”. https://www.btselem.org/gaza_strip/20201029_gaza_electricity_crisis_deepens_summer_2020.
United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs in the Occupied Palestinian Territory (OCHA). (2015). “Impact of the Gaza Electricity and Fuel Crisis on Humanitarian Conditions”, 1-2. https://www.ochaopt.org/sites/default/files/ocha_opt_gaza_electricity_factsheet_July_2015_english.pdf.
United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs in the Occupied Palestinian Territory (OCHA). (2021). “Crisis Power Defisit in Gaza”. https://www.ochaopt.org/sites/default/files/electricity_power_may_2021.pdf.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








