Tanggal 23 September diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional untuk merayakan aspek unik dari budaya tuli sekaligus sebagai momen untuk merenungkan dan memastikan inklusi yang lebih besar bagi komunitas ini. Bahasa isyarat memungkinkan orang yang tuli atau susah mendengar untuk menikmati hak seperti orang lain, sehingga mereka dapat belajar, bekerja, dan bersosialisasi. Bahasa ini menggunakan posisi dan gerakan tangan untuk berkomunikasi dan telah ada selama berabad-abad.
Ada 71 negara yang mengakui bahasa isyarat sebagai bagian dari kerangka hukum mereka, dengan total 300 bahasa isyarat yang ada di dunia. Sebagian besar dari 70 juta orang tuli di seluruh dunia, mengaku bangga menjadi bagian dari anggota komunitas tuli. Komunitas tersebut diikuti oleh mereka yang terlahir tuli, juga oleh mereka yang tumbuh dalam komunitas yang mewarisi bahasa isyarat dari orang tua, beberapa menggunakan bahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi utama di antara anggota.
Tantangan komunitas tuli pada hari ini di antaranya adalah begitu banyak aspek kehidupan yang berputar secara online, juga diperburuk oleh pandemi Covid-19. Hal ini membuat orang yang tuli atau mengalami gangguan pendengaran merasa terasing dari aktivitas sehari-hari, seperti pergi bekerja atau ketika berkomunikasi dengan teman dan keluarga.
Namun demikian, isolasi dan hambatan lain terhadap hak-hak dasar ini bukanlah sesuatu yang muncul hanya sejak pandemi. Orang-orang yang tuli atau sulit mendengar sering kali dikucilkan dari komunitas masyarakat, tidak diberikan akses yang sama terhadap layanan dasar, dan menghadapi stigma dan kekerasan. Siswa tuli, misalnya, mereka terasing dari keluarga dan masyarakat karena sekolah mereka tidak menawarkan pengajaran dalam bahasa isyarat.
Erica, seorang perempuan tuli yang hidup dengan HIV di Uganda, tidak tahu bahwa dia memiliki anak kembar ketika dia melahirkan. Perawat tidak tahu bahasa isyarat dan tidak menyuruhnya untuk terus mengejan setelah melahirkan anak pertamanya. Akibatnya, Erica kehilangan anak keduanya. Tilgen, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun di Kirgistan, harus pindah dari keluarga dan komunitasnya untuk mendapatkan pendidikan bahasa isyarat karena bahasa isyarat tidak diajarkan di sekolah-sekolah dekat rumahnya.
Bagi komunitas tuli, bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pondasi untuk mengamankan hak-hak dasar sebagai bagian dari komunitas. Saat dunia merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional, pemerintah harus memastikan terpenuhinya hak asasi orang tuli, menghormatinya, dan mendukung keikutsertaan mereka dalam masyarakat.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







