Ketika Asif Shehzad (30 tahun) pulang dari toko kelontongnya di Provinsi Punjab di Pakistan pada 12 Agustus, dia tidak pernah membayangkan bahwa itu adalah malam terakhirnya di bawah atap rumahnya. Shehzad mengatakan itu adalah malam yang biasa baginya dan keluarganya yang ketika itu sedang menghabiskan waktu di beranda. Akan tetapi, karena hujan, mereka masuk ke dalam kamar mereka. Namun, hujan malam itu tidak kunjung berhenti.
“Hujan turun tanpa henti, belum pernah saya lihat sebelumnya dalam hidup saya,” katanya. Rumahnya kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan, dan sebagian atapnya runtuh di berbagai tempat. Ia mengingat bahwa intensitas hujan, yang oleh menteri iklim negara itu dijuluki “monster monsun”, terus meningkat. Dia bisa melihat air turun dari pegunungan, mengalir ke desanya, mencapai rumahnya dan menyapu tujuh ternaknya kemudian menenggelamkan seluruh desa. Rumahnya sekarang menjadi tumpukan batu dan puing-puing.
Selama 18 hari terakhir, Shehzad dan keluarganya tinggal di tempat terbuka di dataran tinggi dekat desa dan hanya makan satu kali sehari. Mereka termasuk di antara 33 juta orang yang terkena dampak buruk banjir terparah dalam satu dekade. Lebih dari 1.000 orang tewas dan sepertiga negara itu terendam air akibat rekor hujan muson dalam dua setengah bulan terakhir. Menteri Keuangan Miftah Ismail memperkirakan kerusakan mencapai $10 miliar. Banjir telah menyebabkan runtuhnya infrastruktur komunikasi, karena jaringan jalan dan jembatan yang luas telah rusak, memutus akses dan membuat sulit untuk menjangkau orang-orang yang terdampar.
“Sembilan anggota keluarga dari kerabat saya meninggal ketika atap runtuh karena hujan,” katanya. “Pria lain tenggelam ketika mencoba menyelamatkan anaknya. Mayatnya ditemukan 150 kilometer dari sini. Lebih dari 300 anak termasuk di antara yang tewas.” Tapi sekarang dia juga memiliki kekhawatiran lain. “Penyakit sudah mulai menyebar dan saya khawatir dengan anak-anak saya,” katanya. “Kami tidak punya obat dan tidak ada bantuan. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika mereka jatuh sakit,” tambahnya.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.




















