Anak berusia 6 tahun, Farouq Mohammed Abu Naja, meninggal di Jalur Gaza setelah Otoritas Israel menolaknya untuk mengakses perawatan medis di Hadassah Medical Center di Al-Quds (Yerusalem). Siaran pers yang berasal dari Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan mengutuk pembatasan diskriminatif Israel yang menghalangi akses pasien Palestina ke rumah sakit di luar Gaza.
“Kami mencoba semua cara yang bisa kami lakukan untuk mengobatinya. Akan tetapi, semua dokter memberitahu kami bahwa tidak ada obat untuknya di Gaza,” kata nenek Farouq. Keluarga tersebut menyerahkan dokumen kepada Otoritas Israel untuk mendapatkan izin meninggalkan jalur yang diblokade itu melalui Persimpangan Beit Hanoun (Erez). Permintaan mereka mendapat penolakan setelah Israel mengatakan telah melakukan “penyelidikan” dan menetapkan ada “alasan keamanan” sehingga anak itu tidak dapat meninggalkan Gaza untuk mendapat perawatan.
Ayah Farouq memegang izin yang memungkinkan dia meninggalkan Gaza setiap hari untuk mengakses pekerjaan di “Israel”. Namun, izin tersebut tidak dapat memberi keluarganya perlindungan dari tuduhan sewenang-wenang “ancaman keamanan”. “Ancaman apa yang berasal dari seorang anak berusia enam tahun ini bagi Israel sehingga mereka melarangnya?” Nenek Farouq bertanya. “Tidak ada alasan untuk menolak izin keluar, kecuali untuk menyiksa keluarga kami. Farouq seharusnya memiliki akses tanpa hambatan untuk mendapat perawatan kesehatan yang dia butuhkan. Ini adalah haknya sebagai seorang anak dan sebagai pasien.”
Al-Mezan telah mendokumentasikan bahwa sejak awal 2022, empat pasien–termasuk tiga anak-anak–meninggal setelah penundaan dan penolakan permintaan izin keluar oleh Israel. Pada awal tahun ini, Physicians without Borders mengungkapkan bahwa jumlah anak di bawah umur yang ditolak aksesnya ke perawatan medis di luar Gaza pada 2021 naik hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sekitar 32 persen aplikasi ditolak pada tahun lalu.
Dalam laporan bulanan pada Juli, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa 64 persen dari 1.619 aplikasi pasien untuk melintasi Beit Hanoun/Erez pada Juli 2022 telah disetujui, sementara 36 persen sisanya telah ditunda selama bulan itu. “Hanya di bawah sepertiga (30%) dari aplikasi adalah untuk anak-anak di bawah 18 tahun dan hampir seperlima (19%) adalah untuk pasien di atas 60 tahun,” terang organisasi tersebut. “11 pasien dari Jalur Gaza diminta untuk diinterogasi oleh keamanan pada Juli. Satu pasien dari 11 (9%) telah disetujui izinnya setelah diinterogasi dan 10 (91%) masih menunggu pemeriksaan.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








