Suasana suka cita yang biasa memenuhi hari pertama tahun ajaran baru, tidak terlihat dari wajah para siswa. Mereka berduka atas kepergian salah satu temannya karena agresi terbaru Israel di Jalur Gaza.
Tangisan terdengar di sudut-sudut kelas. Begitu foto Lian Mosleh al-Shaer, siswa kelas 5 SD Khan Yunis, ditempatkan di kursinya, air mata teman-teman sekelasnya pun berlinang. Gadis kecil itu meninggal karena luka-lukanya saat pengeboman Israel di kotanya. Selain itu, dua orang lainnya dan sejumlah anggota keluarganya terluka selama agresi pada awal Agustus.
Retal Al Shaer, teman Lian, mengatakan, “Saya tidak lagi punya teman bernama Lian. Kami dulu bergembira, bermain, dan berangkat bersama ke sekolah. Hari ini sangat berbeda karena kami bersekolah tanpa dia. Kehilangan teman adalah hal menyakitkan.”
“Saya berharap ia masih di sini; pergi bersama ke sekolah dan duduk di satu meja, tetapi (agresi) itu membuat saya kehilangannya. Kursinya kini kosong tanpanya. Apa salah temanku hingga direnggut nyawanya, masa depannya, dan mimpinya?”
Hala Al-Shaer, ibu dari Lian, tampak sedih. Dia bergantian melihat ke kiri dan ke kanan siswa, seolah-olah mereka semua adalah putrinya. Dia ingat setahun yang lalu ketika dia berada di dalam sekolah itu, menemaninya dan mengantarkannya kepada guru. Sang ibu yang berduka itu mengatakan, “Hari ini tahun ajaran baru dimulai, para siswa kembali ke sekolah dengan senang dan gembira, tetapi saya merindukan putri saya yang sangat ingin kembali ke sekolah dan membeli pakaian dan alat tulis seperti anak seusianya. Hari ini, saya merasa sakit saat melihat teman-temannya, tetapi saya mencoba mengendalikan diri dan bersabar dengan perpisahan ini.”
Sementara itu, Direktur Direktorat Pendidikan Khan Yunis, Abdul Rahim Al-Farra, mengatakan, “Kami meluncurkan kegiatan tahun ajaran baru di sekolah Lian sebagai penghargaan atas semangatnya. Kami menyesalkan hilangnya seorang siswi di antara sejumlah lainnya yang hilang dalam agresi kriminal Israel di Jalur Gaza.”
Al-Farra menunjukkan bahwa pesan mereka, dan pesan para siswa, adalah “Kami mencintai kehidupan dan mencari kebebasan. Cita-cita kami adalah membangun bangsa dan umat manusia, untuk menciptakan generasi yang terdidik dan berbudaya.”
Pada Senin pagi, sekitar 1,4 juta siswa kembali ke sekolah pemerintah, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), dan sekolah swasta di Palestina, setelah liburan musim panas berakhir.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







