Ibu negara Turki, Emine Erdoğan, dengan penuh suka cita menjamu para musisi muda Palestina di Kompleks Kepresidenan pada Senin, 18 Juli 2022. Ia mengundang Palestinian Youth Orchestra (PYO) untuk konser di Turki, berkolaborasi dengan Orkestra Simfoni Kepresidenan Turki (CSO) dalam sebuah penampilan bertajuk “Konser Perdamaian” di Istanbul dan Ankara.[1]
Dalam pidato sambutannya, ia menyampaikan urgensi hidup damai berdampingan antarumat beragama, seraya menyoroti bahwa berbagai kepercayaan pernah hidup dalam iklim perdamaian yang unik di Palestina, di bawah pemerintahan Ottoman. Ibu negara Emine Erdoğan juga menyampaikan bahwa seni merupakan salah satu saluran untuk menyuarakan perdamaian dan persaudaraan. “Pada titik ini, saya percaya bahwa seni adalah alat yang paling cepat menjangkau orang dan menyampaikan ide dan emosi dalam bentuk yang paling halus. Karena seni mampu menembus segala prasangka, mencapai titik hati yang paling sensitif, dan pada gilirannya dapat mengingatkan manusai akan perdamaian dan persatuan. Oleh karena itu, jika ada obat yang dapat membuat orang menjadi peka, itu adalah seni.”[2]
Pada konser pertama yang digelar pada Selasa malam (19/7) di Ankara Historical Hall, PYO mempersembahkan dua orkes simfoni yang telah mereka gubah, yaitu orkes “Anatolian Rhapsody” yang digubah oleh Yusuf Yaln dan “Dance of the Altos” yang digubah oleh Bishara Kell dari Palestina. Setelah konser pertama, para musisi Palestina menampilkan “Konser Perdamaian” di Pusat Kebudayaan Atatürk (AKM) di Istanbul (21/7).
Ibu negara Turki, Emine Erdoğan, memberikan kalimat sambutan
di hadapan Palestinian Youth Orchestra, 18 Juli 2022
Sumber: dailysabah.com
Ide “Konser Perdamaian” ini sebenarnya berawal ketika Emine Erdoğan mengobrol melalui telepon dengan Maryam Afifi, salah satu musisi PYO. Perempuan muda yang berusia 27 tahun itu adalah seorang musikus double bass atau kontrabas. Ia juga tergabung di Al-Quds Girls Ensemble. Maryam menyatakan bahwa para musisi berjuang untuk kemerdekaan Palestina dengan memanfaatkan kekuatan musik. “Kami ingin menjadikan musik, nama negara kami, dan suara kami terdengar di Turki dan di seluruh dunia. Melalui seni kami melakukan perlawanan terhadap boikot, blokade, dan upaya menghapus nama Palestina dari tanah kami. Kami ingin mengakhiri penjajahan ini,” tambahnya.
Ibu negara Turki, Emine Erdoğan, berbicara melalui telepon dengan Maryam Afifi
Sumber: tccb.gov.tr
Maryam Afifi, Musik, dan Keteguhan
Maryam Afifi adalah perempuan Palestina yang memperjuangkan negaranya dengan segenap jiwa raga. Pada Mei 2021 tersebar video viral yang merekam penyerangan tentara Israel terhadapnya. Namun, perempuan itu tersenyum. Indah sekali. Menjadikan senyumannya sebagai simbol perlawanan sekaligus keteguhan perempuan Palestina yang turut serta dalam membela tanah airnya.
Senyuman itu pula yang membuat Emine Erdoğan terkesan dan mengundangnya untuk tampil dalam konser orkestra di Turki. “Hati dan doa kami selalu bersama Anda setiap waktu. Perempuan Palestina dan seluruh dunia bangga dengan keberanian Anda. Kami ingin melihat Anda di Turki sesegera mungkin. Bersama dengan orkestra, kami mengundang Anda untuk menampilkan musik Palestina di Turki,” tambahnya.[3]
Maryam Afifi pemain kontrabas di Al-Quds Girls Ensemble dan Palestinian Youth Orchestra
Sumber: dailysabah.com
Kronologi Penyerangan Maryam Afifi
Mei 2021 adalah bulan kelabu bagi Palestina. Sementara di Gaza Israel meluncurkan agresi berdarah, di Sheikh Jarrah, Al-Quds (Yerusalem), terjadi ketegangan akibat pengusiran paksa penduduk Palestina dari rumah mereka oleh pasukan Israel. Bentrokan terjadi antara penduduk Palestina yang tidak bersenjata dengan pasukan Israel selama lebih dari 10 hari. Pada 8 Mei 2021, tentara Israel menyerang puluhan warga Palestina, termasuk sejumlah perempuan. Beberapa di antara mereka dipukuli di wajah, ditendang, dan diseret oleh pasukan Israel.
Tentara Israel memborgol tangan Maryam Afifi
Sumber: https://twitter.com/Amir
Beberapa video penyerangan menjadi viral, termasuk video yang menampilkan tentara Israel yang menganiaya Maryam Afifi. Ketika itu Maryam sedang mencoba menyelamatkan seorang gadis yang terbaring di tanah dalam kondisi lemas dan memprihatinkan akibat penganiayaan pasukan Israel. Namun, sekitar 5 atau 6 tentara Israel yang mengerumuni gadis itu, menyerang Maryam, menarik kerudungnya, mendorong kepalanya ke tanah, menendang, menyeret, dan memborgol tangannya. Di balik kerudung berwarna merah yang ia kenakan, Maryam menunjukkan keberaniannya dengan melontarkan senyuman. “Saya baik-baik saja. Jangan khawatir.”[4]
Tentara Israel menarik kerudung Maryam Afifi dan menyeretnya dengan brutal
Sumber: https://twitter.com/ajmubasher
Tentara Zionis membawanya ke daerah semimiliter yang terisolasi dan mulai berbicara kepada Maryam dengan provokatif, sementara seorang tentara mengeluarkan ponselnya dan meraih bahu Maryam untuk berswafoto. Pada sebuah siaran langsung Al-Jazeera, Maryam mengatakan, “Itu adalah pelecehan seksual dan saya akan mencoba untuk menyebarkan foto ini ke organisasi hak asasi manusia. Dia tidak berhak menyentuh saya dengan cara ini dan berfoto dengan saya tanpa izin saya.”[5]
Keberanian Maryam Afifi menghadapi dan menentang tentara Israel
Sumber: https://twitter.com/MiddleEastEye
Dengan tangan yang diborgol, Maryam terduduk di tanah. Kepada seorang tentara Israel, sebuah pertanyaan retoris ia ajukan, “Apa yang telah saya lakukan? Saya hanya membela seorang gadis yang dipukuli. Saya membela orang-orang yang kalian diusir dari rumahnya. Apakah itu sebabnya saya ditangkap? Bagaimana perasaanmu? Saya tahu Anda adalah manusia dan mungkin memiliki keluarga.”
Tentara itu hanya terdiam tidak mengatakan sepatah kata, sementara Maryam meneruskan pertanyaannya. “Apakah Anda memiliki anak? Apakah Anda ingin anak-anak Anda tumbuh dan membela pihak yang salah dan membela penindas? Apakah itu yang Anda inginkan ketika Anda masih muda atau ketika Anda masih kecil–Apakah Anda tumbuh dengan impian seperti itu, membela yang salah dan menjadi penindas?”
Ketika para tentara melihat awak media mengambil dokumentasi kejadian tersebut, Maryam segera dibawa pergi dengan mobil polisi. Tentara membawanya terlebih dahulu ke kantor polisi kemudian ke pusat interogasi Al-Maskubiya, tempat penyiksaan dilakukan terhadap tawanan Palestina.
Maryam ditempatkan seorang diri di sebuah sel. Ia tidak tahu berapa lama ia harus berada di sana, yang ia tahu hanya sel itu sangat dingin. “Saya meneriaki mereka meminta mereka untuk menyalakan pemanas atau memberi saya pakaian hangat. Namun, tidak ada tanggapan.”
Para tentara menekan Maryam untuk mengakui bahwa ia telah memukuli seorang tentara, juga melakukan hal-hal lainnya sebagaimana didiktekan tentara kepadanya. Perempuan pemberani itu bergeming. Ia menolak untuk mengakui hal-hal yang tidak dilakukannya. Pasukan israel tidak dapat membuktikan hal-hal yang dituduhkan di depan pengadilan dan Maryam pun dibebaskan pada 9 Mei 2021. Penangkapan dan penganiayaan yang terjadi tidak lantas menyurutkan langkah Maryam. Ia tetap teguh berdiri menyuarakan dan membela hak-hak Palestina.
Maryam Afifi adalah satu dari sekian banyak perempuan Palestina yang berani melawan tentara Israel. Mereka menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan Palestina dengan lantang melalui segala cara. Tidak hanya melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui soft diplomacy, seperti seni. Para seniman Palestina, baik di dalam negeri maupun diaspora, percaya bahwa melalui seni, mereka dapat menyampaikan realita yang Palestina alami. Tidak hanya itu, mereka juga yakin bahwa seni dapat menggerakkan hati dunia untuk memboikot kejahatan Israel dan menegakkan keadilan.
Kejahatan terhadap manusia tidak boleh diabaikan, sebagaimana yang dikatakan Emine Erdoğan dalam sambutannya di hadapan anggota PYO. “Kejahatan terhadap kemanusiaan harus menjadi perhatian kita bersama dan menjadi agenda masyarakat internasional. Di mana pun hak asasi manusia, hak perempuan, dan hak anak dilanggar, hati kita harus berdetak di sana, karena hati nurani yang sejati selalu bersama dengan mereka yang air matanya tertumpah.”[6]
Vannisa Najchati Silma, S.Hum.
[1] https://www.anews.com.tr/turkey/2022/07/16/palestinian-youth-orchestra-to-perform-in-turkiye
[2] https://www.dailysabah.com/arts/first-lady-erdogan-hosts-palestinian-musicians-in-ankara/news
[3] https://www.tccb.gov.tr/en/news/542/127945/first-lady-erdogan-speaks-by-phone-with-maryam-afifi
[4] https://thepeninsulaqatar.com/article/01/07/2021/Powerful-voices-of-Palestinian-activists-heard-at-QF%E2%80%99s-Education-City-Speaker-Series
[5] https://mubasher.aljazeera.net/news/2021/5/10/ناشطة–مقدسية–تروي–للجزيرة–مباشر–ما–حدث
[6] https://www.dailysabah.com/arts/first-lady-erdogan-hosts-palestinian-musicians-in-ankara/news
Sumber:
https://twitter.com/MiddleEastEye/status/1391528411298861060 (Video)
https://twitter.com/ajmubasher/ (Video)
https://www.anews.com.tr/turkey/2022/07/16/palestinian-youth-orchestra-to-perform-in-turkiye
https://www.annahar.com/arabic/say7at/09052021101821397
https://www.dailysabah.com/arts/first-lady-erdogan-hosts-palestinian-musicians-in-ankara/news
https://mubasher.aljazeera.net/news/2021/5/10/ناشطة–مقدسية–تروي–للجزيرة–مباشر–ما–حدث
https://www.tccb.gov.tr/en/news/542/127945/first-lady-erdogan-speaks-by-phone-with-maryam-afifi
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








