Selama tujuh tahun, Muhammad al-Mudallal dari Rafah berjuang dengan istrinya untuk bisa memiliki keturunan. Allah kemudian menganugerahkan mereka seorang anak yang mereka beri nama Fuad, yang kini berusia 15 bulan. Bayi yang mereka nanti-nantikan tersebut kini terluka akibat serangan udara Israel selama agresi pada awal Agustus. Cedera tersebut mengancam bagian tangan dan kakinya.
Cedera Fuad terkonsentrasi di bagian kiri tubuhnya, terutama di area tengkorak, tangan, dan kaki. Ia tidak dapat menggerakkannya secara normal seperti sebelumnya. Di tengah ketakutan keluarganya akan dampak cederanya, anak itu selalu berteriak sepanjang hari di sebelah ibunya. Ibunya hanya bisa berbaring di sebelahnya, tidak bisa memeluknya atau menyusuinya akibat luka parah di tangan, kepala, punggung, dan berbagai bagian tubuhnya. Ibunya juga masih harus menjalani berbagai operasi.
Serangan udara di lingkungan Al-Sha’ut yang padat penduduk, menyebabkan Fuad dan keluarganya kehilangan rumah yang runtuh saat mereka berada di dalamnya. Serangan juga menghancurkan rumah-rumah yang berdekatan di pusat Rafah, menyebabkan kematian tujuh warga Palestina dan melukai lebih dari tiga puluh lainnya.
Sekitar dua minggu setelah berakhirnya agresi, suara ledakan telah berhenti, tetapi suara tangisan terus terdengar, bahkan bertambah. Siksaan pahit semakin terasa dengan terlukanya bayi Fuad dan ibunya, yang masih harus menjalani pengobatan. Di dalam sebuah ruangan di Departemen “Neurologi” Rumah Sakit Gaza Eropa di Khan Yunis, terdengar teriakan dan tangisan seorang anak yang ingin memeluk ibunya, tapi tidak bisa.
Nenek dan ayah Fuad selalu mencoba menenangkannya dengan meletakkan botol dan kadang-kadang menggendongnya dan membawanya ke koridor rumah sakit. Akan tetapi, itu semua hanya menyalakan lebih banyak api di hati seorang ibu yang terpaksa dijauhkan dari bayinya.
Muhammad al-Mudallal, ayah Fouad, mengatakan: “Alhamdulillah.. kami mendapat uang kompensasi.. sekarang yang penting istri dan anak saya dapat mendapat perawatan dengan baik.” Dia menunjukkan bahwa mereka berada di ruang perawatan intensif dan keluar dari sana beberapa hari yang lalu, tetapi masih membutuhkan perawatan yang panjang. Dia berkata: “Saya berharap mereka akan baik-baik saja. Kami menantikan anak selama tujuh tahun sampai Allah menganugerahkan Fuad kepada kami. Saya sangat takut kehilangan dia dan ibunya.”
Dia menambahkan, “Cedera Fuad terkonsentrasi di tengkorak dan dirawat di ruang perawatan intensif. Setelah dia keluar, dia masih menderita cacat di bagian kiri, dan karena cedera serius ibunya, kami tidak dapat memindahkan dan rawat dia di luar Gaza. Kami sangat perlu menyelesaikan perawatannya, baik di sini maupun di luar negeri.”
Dia melanjutkan, “Luka istri saya masih cukup parah. Dia menjalani operasi enam jam, dan sepanjang waktu dia menangis karena rasa sakit dan ketakutan akan keadaan anak kami satu-satunya. Hari ini, saya berada di tiga bencana. Anak, istri, dan rumah saya hancur total.” Dia menyimpulkan dengan mengatakan: “Saya tidak memikirkan apa pun selain ingin keluarga saya baik-baik saja dan istri serta anak saya kembali hidup normal.” Inilah yang Al-Mudallal katakan saat wawancara dengan wartawan Safa selama pertemuannya di Rumah Sakit Eropa.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







