Pasukan Israel pada Kamis pagi (18/8) menggerebek tujuh kantor kelompok hak masyarakat sipil Palestina di Tepi Barat; Addameer Prisoner Support and Human Rights Association, Al-Haq rights group, the Union of Palestinian Women Committees (UPWC), The Union of Agricultural Work Committees (UAWC), The Bisan Center for Research and Development, The Palestine chapter of the Geneva-based Defence for Children International, dan the Union of Health Work Committees (UHWC). Pintu kantor-kantor tersebut dilas untuk menghalangi kelompok hak asasi Palestina mengakses properti mereka.
Shawan Jabarin, Direktur Al-Haq, melaporkan bahwa tentara Israel menyerbu kantor organisasi hak-hak Palestina di Ramallah, dan meninggalkan perintah militer yang menyatakan organisasi itu ilegal. “Mereka datang, meledakkan pintu, masuk ke dalam, dan mengacaukan data-data,” katanya kepada Associated Press.
Mazen Rantisi, Kepala Dewan Direksi UHWC, yang mengelola beberapa rumah sakit dan puluhan klinik di seluruh Tepi Barat, mengatakan bahwa penutupan itu merupakan bagian dari strategi lama Israel. “Mereka menggerebek kantor kami saat fajar, mendobrak pintu, mengambil dokumen sekaligus komputer. Kami masih memeriksa apa lagi yang hilang. Mereka merusak kantor dan menutup pintu dengan logam,” kata Rantisi kepada Al-Jazeera. “Kami menemukan sebuah dokumen berbahasa Ibrani terpampang di pintu, menyatakan bahwa ini adalah organisasi tertutup, kami tidak diizinkan masuk, dan tidak ada jangka waktu yang ditentukan.”
Enam dari organisasi tersebut ditetapkan sebagai “teroris” oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz pada Oktober 2021. Beberapa kantor terpaksa ditutup dan banyak yang mengalami pemotongan dana. “Tujuannya untuk menghalangi jalan masyarakat sipil agar tidak berkembang, itu bagian dari menghancurkan masyarakat Palestina, dan membuat rakyat merasa kalah,” tambah Rantisi. “Ini pasti akan berdampak pada layanan yang kami tawarkan tetapi kami akan menemukan cara untuk melanjutkan pekerjaan kami.”
Penunjukan enam LSM sebagai teroris memicu reaksi keras di Eropa dan Amerika Serikat, serta dikecam oleh seorang pejabat senior PBB sebagai serangan terhadap pembela hak asasi manusia, kebebasan berserikat, berpendapat, berekspresi, dan hak partisipasi publik,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet. “Organisasi yang ditunjuk sebagai kelompok teror adalah beberapa kelompok hak asasi manusia dan kemanusiaan yang paling terkemuka di wilayah Palestina dan selama beberapa dekade telah bekerja sama dengan PBB,” tegas Bachelet.
Bulan lalu sembilan negara Eropa menyatakan penolakan mereka untuk berhenti bekerja sama dengan LSM Palestina karena kurangnya bukti yang membuktikan klaim “teroris” tersebut. Dalam pernyataan bersama, juru bicara kementerian luar negeri Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia mengatakan, “Tuduhan terorisme atau hubungan dengan kelompok teroris harus selalu diperlakukan dengan sangat serius. Oleh karena itu, penunjukan perlu dinilai dengan hati-hati dan ekstensif. Dengan tidak adanya bukti seperti itu, kami akan melanjutkan kerja sama dan dukungan kuat kami untuk masyarakat sipil,” tambah mereka.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







