Sekitar 20 tahun yang lalu, Mohammad Nassar (62 tahun), kehilangan putranya, Shadi, yang berpartisipasi dalam kegiatan perlawanan terhadap Israel selama intifada kedua Palestina. Nassar sejak saat itu terus berjuang untuk mengambil tubuh Shadi dari otoritas Israel. “Saya ingin menguburnya dengan hormat. Saya ingin tenang dengan mengetahui bahwa dia memiliki kuburan yang layak,” kata Nassar kepada Anadolu Agency. “Usia saya 62 tahun saat ini dan saya tidak pernah berhenti berjuang selama hampir 20 tahun.” Sejak 2008, Nassar telah menjadi tokoh sentral dalam Kampanye Nasional Pengembalian Jenazah Martir.
Para orang tua dari martir Palestina yang lokasi jenazahnya tidak diketahui, berkumpul menjadi anggota kampanye dan berjuang untuk mengetahui lokasi kuburan anak-anak mereka. “Kenangan kami bersama anak-anak melekat di setiap sudut rumah ini. Nama mereka tidak pernah hilang dari percakapan kami sehari-hari,” kata Nassar. Dia mengatakan bahwa ia menamai lima cucunya dengan nama anaknya, Shadi. Itu merupakan bentuk penghormatannya kepada putranya yang tidak pernah kembali lagi ke rumah.
Otoritas Israel telah menahan 102 jenazah penduduk Palestina sejak 2015, menurut Hussien Sheja’ah, koordinator kampanye tersebut. Di antara angka tersebut, terdapat delapan jenazah tawanan Palestina yang meninggal di dalam penjara tetapi pihak berwenang Israel menolak untuk mengembalikan jenazahnya kepada keluarga mereka. Selain ini, terdapat juga sepuluh jenazah anak dan tiga perempuan. Laporan yang disusun oleh Pusat Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Yerusalem (JALIC), yang memulai kampanye nasional, menunjukkan bahwa ada 256 jenazah di kuburan angka atau kuburan yang menggunakan sistem penomoran, alih-alih menuliskan nama jenazah.
“Penahanan jenazah adalah strategi hukuman kolektif yang mengatur kehidupan setelah kematian bagi penduduk Palestina. Ini adalah hukuman bagi para keluarga yang menggali kuburan untuk anak mereka. Harapan mereka hanya untuk mengetahui letak makam keluarga mereka agar dapat berziarah. Salah satu ibu Palestina mengatakan kepada saya, ini adalah luka yang tidak dapat pulih,” tutup Sheja’ah kepada Anadolu Agency.
Mohammed Shehadeh dari Euro-Med Human Rights Monitor mengatakan bahwa Israel secara terang-terangan melakukan pelanggaran mutlak berdasarkan hukum kebiasaan internasional pada tiga tingkat penting. Kebijakannya melanggar Konvensi Jenewa Keempat tentang pengembalian jenazah kepada keluarga mereka, katanya kepada Anadolu Agency.
Menahan jenazah Palestina merupakan strategi hukuman kolektif Israel. Di bawah Peraturan Den Haag Konvensi Jenewa Keempat, hal itu adalah terlarang serta bertentangan dengan larangan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi atau merendahkan martabat, yang terdapat dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Konvensi Jenewa Keempat melarang penyanderaan, termasuk menahan tubuh sebagai sandera atau alat tawar-menawar.
Strategi Israel yang menahan mayat orang-orang Palestina tanpa batas waktu sebagai alat tawar-menawar membawa kerugian dan rasa sakit yang luar biasa bagi keluarga jenazah. Mereka terus mengharapkan pertemuan terakhir dengan orang yang mereka cintai sebelum memakamkannya dengan layak. “Menolak hak penduduk Palestina untuk berpisah dengan orang yang mereka cintai adalah contoh lain dari tingkat dehumanisasi Israel, kebrutalan, dan bentuk siksaan kepada jutaan orang di bawah penjajahannya,” kata Shehadeh.
Shehadeh menyoroti bahwa kelompoknya secara konsisten mendesak pihak berwenang Israel untuk segera dan tanpa syarat mengembalikan jenazah penduduk Palestina. Ia juga telah mengangkat masalah ini kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan beberapa lembaganya. “Kami juga telah membawa masalah ini menjadi perhatian Parlemen Eropa dan Layanan Aksi Eksternal untuk menuntut mereka menekan Israel agar mengakhiri strategi brutal dan berbahaya ini. Advokasi dan kampanye gigih kami untuk tujuan ini akan berlanjut hinggai pembebasan 102 jenazah Palestina tercapai, ” tambahnya.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







