Uni Eropa pada Jumat (12/8) menyatakan kekhawatirannya atas pembunuhan Israel terhadap dua anak Palestina dalam dua insiden terpisah di kota Nablus dan Hebron, di Tepi Barat yang diduduki.
Delegasi Uni Eropa untuk Palestina menulis di akun twitter mereka bahwa mereka “khawatir” dengan penembakan Israel terhadap dua anak laki-laki Palestina berusia 16 tahun di Nablus dan Hebron. Mereka menekankan bahwa “di bawah hukum internasional, penggunaan kekuatan harus proporsional dan diterapkan sebagaimana mestinya, dan digunakan sebagai upaya terakhir untuk melindungi kehidupan. Pembunuhan tersebut harus segera diselidiki dan mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.”
Delegasi UE menambahkan, “Anak-anak memiliki perlindungan khusus di bawah hukum humaniter internasional. Israel memiliki kewajiban untuk menegakkan komitmennya terhadap hak asasi anak, termasuk. hak untuk hidup.”
Pasukan pendudukan Israel menembak Hussein Jamal Hussein Taha (16), di perut bagian bawah dengan peluru tajam saat mereka menyerbu Kota Tua di Nablus. Hussein sedang dalam perjalanan untuk berbelanja bahan makanan dengan ayah dan saudara laki-lakinya yang berusia 13 tahun ketika seorang tentara Israel menembaknya di perut. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Rafidia dan menjalani operasi selama sekitar satu jam 15 menit sebelum dokter menyatakan kematiannya. Selama serangan mematikan itu, pasukan Israel juga membunuh dua orang lainnya.
Pada hari yang sama, Mu’min Yasin Muhammad Joude Jaber (16), ditembak di dada dengan peluru tajam oleh pasukan Israel sekitar pukul 3 sore di daerah Bab al-Zawiya, Hebron, Tepi Barat. Dia dipindahkan ke Rumah Sakit Aley, kemudian diresusitasi dan dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Ahly di Hebron untuk menjalani operasi. Mu’min dinyatakan meninggal sekitar pukul 5 sore.
Sejumlah besar tentara Israel dikerahkan di seluruh Hebron, termasuk penembak jitu yang ditempatkan di atap gedung, saat warga Palestina berdemonstrasi memprotes serangan militer Israel ke Nablus. Mu’min ditembak dengan satu peluru di dada, melukai jantung dan paru-parunya, yang menyebabkan serangan jantung.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 40 anak Palestina telah terbunuh sepanjang 2022, termasuk 20 anak Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan 17 anak di Jalur Gaza yang tewas dalam agresi tiga hari.
Pada 2021, sebanyak 86 anak-anak Palestina dibunuh oleh Israel, termasuk 69 anak-anak di Jalur Gaza. Angka ini menjadikan 2021 sebagi tahun paling mematikan dalam catatan anak-anak Palestina sejak 2014.
Selama agresi 11 hari di Jalur Gaza pada Mei 2021, pasukan pendudukan Israel membunuh 60 anak-anak Palestina menggunakan peluru yang ditembakkan dari tank, amunisi langsung, dan rudal yang dijatuhkan dari drone yang dipersenjatai, serta pesawat tempur dan helikopter Apache yang bersumber dari AS.
Lonjakan terbaru dalam pembunuhan anak terjadi pada 2018 ketika pasukan dan pemukim Israel membunuh 57 anak-anak Palestina. Kebanyakan dari pembunuhan itu terjadi pada peristiwa Great March of Return di Jalur Gaza, menurut dokumentasi yang dikumpulkan oleh Defense for Children International-Palestine (DCIP).
Berdasarkan dokumentasi itu pula didapati bahwa sejak 2000, lebih dari 2.198 anak-anak Palestina telah terbunuh akibat kehadiran militer dan pemukim Israel di Wilayah Pendudukan Palestina.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








