Tawanan Palestina Khalil Awawdeh, telah melakukan mogok makan selama 154 hari sebagai protes atas penahanannya yang berkepanjangan, tanpa dakwaan atau pengadilan oleh otoritas Israel. Ia kini menghadapi risiko kematian mendadak, kata Hasan Abd Rabbo, Juru Bicara Komisi Urusan Tawanan, pada hari Minggu (14/8).
Abd Rabbo mengatakan bahwa kondisi kesehatan Awawdeh semakin memburuk dari hari ke hari. Dia menderita nyeri sendi yang parah, sakit kepala, dan penglihatan kabur, juga ketidakmampuan berjalan tanpa kursi roda. Dia menambahkan bahwa Awawdeh juga kehilangan setengah dari berat badannya dan tidak dapat mengenali istrinya yang mengunjunginya di rumah sakit Israel, Assaf Harofeh.
Awawdeh, 40, dari kota Idna di Distrik Hebron, Tepi Barat selatan, pernah mengehentikan mogok makannya pada hari ke-111 setelah otoritas penjara Israel menjanjikan penahanan administratifnya tidak akan mereka perpanjang. Akan tetapi, ia melanjutkan mogok makannya seminggu kemudian setelah Israel mengingkari janji dan memperpanjang masa penahanan administratifnya.
Pada Kamis (11/8), pengadilan militer Israel mengizinkan pengacaranya dan seorang dokter untuk mengunjungi Awawdeh untuk pertama kalinya. Ini mereka lakukan untuk menyiapkan laporan medis tentang kondisi kesehatannya dan menyerahkannya ke pengadilan hari Minggu depan untuk pembebasannya. Ayah empat anak ini telah menjadi tawanan sejak 27 Desember 2021 di bawah status penahanan administratif, tanpa dakwaan atau pengadilan.
Strategi penahanan administratif Israel memungkinkan penahanan warga Palestina tanpa tuduhan atau pengadilan untuk jangka waktu yang dapat diperbarui, biasanya berkisar antara tiga dan enam bulan. Tindakan ini Israel lakukan berdasarkan bukti yang tidak mereka ungkapkan, bahkan pengacara tawanan tidak mendapat izin untuk hadir.
Saat ini, Israel menahan lebih dari 680 warga Palestina di bawah penahanan administratif, yang ilegal menurut hukum internasional. Kebanyakan dari mereka adalah mantan tawanan yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara karena perlawanan mereka terhadap Israel. Amnesti Internasional menggambarkan penahanan administratif Israel sebagai “praktik kejam dan tidak adil yang mendorong dipertahankannya sistem apartheid Israel terhadap Palestina.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







