Perwakilan Uni Eropa (UE), Duta Besar, dan Konsulat Jenderal UE untuk Palestina, mengadakan kunjungan pada Jumat (12/8) ke sekolah Ein Samiya Badui di timur Ramallah. Uni Eropa melancarkan protes terhadap keputusan pengadilan Israel di al-Quds (Yerusalem) yang akan menghancurkan sekolah tersebut.
Perwakilan Uni Eropa untuk Palestina Sven Kuhn von Burgsdorff yang berpartisipasi dalam kunjungan tersebut mengumumkan dalam pidatonya, “Ini bukan kunjungan pertama yang kami lakukan untuk memprotes keputusan penjajah. Israel. Sebagai kekuatan penjajah, Israel harus menghormati hak untuk pendidikan di bawah hukum internasional dan konvensi internasional yang relevan. Mereka harus menjamin hak anak-anak Palestina di Area C, Gaza, dan wilayah lainnya agar (anak-anak) dapat dengan mudah mencapai sekolah.” Burgsdorff menganggap keputusan pembongkaran sebagai pelanggaran dari semua kewajiban internasional dan menggambarkannya sebagai hal yang tidak logis, tidak sah, dan merupakan kejahatan pemindahan paksa.
Juru bicara Kementerian Pendidikan Sadiq Al-Khaddour menegaskan bahwa Israel menargetkan sekolah, identitas nasional, dan pendidikan Palestina di semua wilayah. Ia menyerukan tindakan serius dan perlunya dunia untuk mendukung hak anak-anak Palestina atas pendidikan. Al-Khaddour menyatakan bahwa siswa tidak perlu melakukan perjalanan jauh ketika sekolah sudah tersedia. Ia menekankan bahwa “Jika sekolah Palestina dihancurkan, kami akan membangunnya kembali. Siswa-siswa akan belajar di tenda dan di luar ruangan jika perlu.”
Dia menambahkan, “Kami tidak berurusan dengan sekolah-sekolah ini dengan standar yang sama dibandingkan dengan sekolah lain. Ketika kami berbicara tentang sekolah dengan tujuh siswa dan lima guru perempuan, ini menegaskan bahwa kami prihatin dengan penyediaan hak atas pendidikan. Kami tidak melihat kelayakan dari perspektif ekonomi dan biaya, melainkan dalam hal kelayakan moral, nilai, dan komitmen bagi hak siswa dalam pendidikan.”
Direktur Pusat Bantuan Hukum Al-Quds, Issam Al-Arouri, mengatakan bahwa pengadilan Israel di Al-Quds membatalkan perintah pencegahan pembongkaran sekolah pada Rabu lalu, berdasarkan perubahan instruksi atas peraturan bangunan yang berlaku di wilayah Palestina. Israel mengubah aturannya dan mulai menganggap tanah Palestina sebagai tanah Israel. Israel menganggap setiap pembangunan di Area C sebagai serangan terhadap properti mereka. Dengan demikian, sekolah (di sana) menjadi tidak terlindungi dan berada dalam bahaya pembongkaran.
“Kami merencanakan proses hukum mulai minggu depan dengan permintaan untuk membebaskan sekolah dari aplikasi perizinan,” tambah Al-Arouri. “Satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan sekolah adalah dengan memberikan tekanan politik yang mendesak dan segera, dengan harapan memberi kita beberapa waktu untuk langkah hukum baru yang dapat menyelamatkan sekolah.”
Seorang penduduk Palestina bernama Muhammad Hussein Kaanba mengatakan bahwa pemukim dan tentara Israel terus-menerus menyerang sekolah dan wilayah secara keseluruhan dan menyita peralatan sekolah. “Semua ini mereka lakukan untuk mengusir penduduk. Akan tetapi, kami tidak akan meninggalkan daerah kami.”
Sekolah Ein Samiya Badui pertama kali buka pada pertengahan Januari. Sekolah ini berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Komite untuk Menolak Tembok dan Permukiman, dan dengan bantuan dana Eropa. Dengan bantuan sukarelawan, sekolah tersebut telah melayani siswa dari komunitas Ein Samiya di Area C.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







