Pada 17 Agustus 2022, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-77. Berbagai cita-cita, harapan, dan resolusi terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya usia tanah air tercinta. Akan tetapi, di tengah gegap gempita lomba-lomba 17 Agustus yang setiap tahunnya terlaksana, adakah ruang di hati ini untuk mengingat mereka? Mereka, 32.216 anak Indonesia yang kehilangan orang tua sejak Maret 2020 akibat pandemi Covid-19.
Mereka adalah anak-anak pada umumnya yang tadinya memiliki rumah hangat dan dekapan ayah ibu untuk pulang. Namun, kehilangan orang tua mengubah kehidupan mereka dari berbagai sisi. Anak-anak yang tadinya memiliki ayah yang menafkahi dan ibu yang mendampingi, kini harus berdiri tegak seorang diri. Syukurnya, sebanyak 10.548 anak telah mendapatkan bantuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Akan tetapi, jumlah tersebut belum seluruhnya, yang artinya masih banyak anak-anak yatim piatu yang membutuhkan uluran tangan para dermawan.
Menurut data dari Kementerian Sosial, pada 2022, jumlah anak yatim piatu di Indonesia adalah 4.023.622 jiwa. Di antara jumlah yang sangat banyak tersebut, hanya 45.000 di antara mereka yang berada di bawah asuhan lembaga kesejahteraan sosial. Setelah merasakan pedihnya kehilangan orang tua, tidak semua dari mereka beruntung mendapatkan bantuan untuk bertahan.
Perubahan kondisi ekonomi setelah kehilangan orang tua juga harus dirasakan anak-anak ini. Sebanyak 3.978.622 anak yatim piatu akhirnya terpaksa tinggal bersama anggota keluarga mereka yang kurang mampu. Mereka yang awalnya dapat makan tiga kali sehari, bersekolah, dan bermain layaknya anak-anak pada umumnya, tidak jarang harus meninggalkan ‘kemewahan’ tersebut demi mencari sesuap nasi untuk dimakan pada hari itu.
Meski harus menjalani kehidupan yang berbeda, mereka tetaplah anak-anak. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini. Namun, bagaimana mereka akan terbentuk menjadi sosok pemimpin yang berkualitas apabila sebanyak 1.712.946 anak yatim piatu tidak bersekolah? Berbagai faktor menghalangi mereka untuk menuntut ilmu di sekolah, meskipun itu sebenarnya adalah hak mereka.
Di usia Indonesia yang ke-77 tahun ini, mari kita ingat bahwa anak-anak yatim piatu di Indonesia juga memiliki mimpi. Kita semua mengharapkan Indonesia tumbuh semakin baik lagi pada hari kemerdekaan ini, salah satunya dengan mendukung anak-anak Indonesia untuk tumbuh sebaik mungkin, terlepas dari apakah mereka masih memiliki orang tua atau tidak.
Anak-anak yatim piatu mungkin tidak bisa mendapatkan orang tua mereka kembali, tetapi kita dapat membantu memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Mereka memiliki hak untuk diperlakukan sama seperti anak-anak lainnya di dunia ini dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan sebagai anak-anak pada umumnya. Bermain, belajar, serta memiliki rumah dan keluarga yang mendukung mereka, merupakan dunia yang seharusnya anak-anak miliki, tanpa terkecuali.
Mereka mungkin tidak meminta, tapi apakah kita tega mengabaikan mereka? Akankah hati kita membiarkan anak-anak yatim piatu berada dalam kondisi yang semakin memprihatinkan tanpa melakukan apa pun? Maukah kita menyaksikan anak-anak yatim piatu di Indonesia bertumbuh tanpa sempat menempuh pendidikan? Cukuplah nurani kita yang menjawabnya. Biarlah tindakan kita yang membuktikan, apakah kita benar-benar peduli pada generasi penerus bangsa, atau justru memilih untuk menutup mata. Indonesia sudah selama ini merdeka, maka izinkanlah anak-anak ini juga merasakan gegap gempitanya.
Anak-anak yatim piatu di Indonesia membutuhkan kita. Maka, mari bersama Adara Relief International, kita dukung anak-anak yatim piatu di Indonesia untuk mendapatkan hak mereka selayaknya anak-anak pada umumnya, agar di usianya yang ke-77 ini, Indonesia dapat tersenyum menatap calon-calon generasi mudanya berkualitas, berpendidikan, dan tentunya berakhlak mulia.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
Fahham, Ahmad Muchaddam. 2022. Urgensi Undang-undang tentang Perlindungan Yatim Piatu. Puslit BKD
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







