Tepat di utara Gaza, Najwa Abu Hamada (46) masih syok karena kehilangan putra tunggalnya, Khalil (19), dalam sebuah pengeboman di dekat rumah mereka di Kamp Pengungsi Jabalia. Abu Hamada mengatakan dia baru saja makan siang dengan putranya sebelum dia pergi dengan salah satu temannya. “Kurang dari satu menit setelah dia pergi, saya mendengar ledakan bom yang keras,” kata Abu Hamada. “Segera saya keluar ke jalan sambil berteriak ‘anakku, anakku!’”
Pengeboman itu terjadi di depan sebuah supermarket di sebelah rumah mereka, menewaskan lima warga sipil, termasuk anak-anak. “Hal pertama yang saya lihat adalah tubuh sahabat putra saya. Saat itulah saya berteriak dan tahu bahwa anak saya mungkin juga telah terbunuh,” kata Abu Hamada. “Beberapa menit kemudian saya menemukan anak saya. Dia berlumuran darah dan tergeletak di tanah. Saya berteriak sangat keras memanggil ambulans. ”
Abu Hamada mengatakan bahwa Khalil adalah putra satu-satunya setelah selama 15 tahun berusaha untuk memiliki anak. “Saya melakukan lima putaran fertilisasi in vitro, semuanya gagal. Kemudian putaran IVF terakhir berhasil dan Khalil hadir. Dia adalah seluruh hidupku. Saya ingin dia cepat lulus sehingga saya bisa menemukan pengantin untuknya. Saya tidak punya orang lain selain dia. Saya tidak percaya dengan apa yang terjadi dan saya tidak ingin percaya,” kata Abu Hamada sambil menangis.
Sementara itu, Umm Mohammad al-Nairab (60), duduk menangisi kematian cucunya, Ahmad (11), dan Moamen (5). “Tadi malam, kedua anak itu pergi membeli barang-barang di supermarket di seberang jalan…..” kata al-Nairab sambil terisak-isak. “Hanya beberapa saat sebelum kami mendengar ledakan keras, saya dan orang tua mereka berteriak: ‘Anak-anakku, anak-anakku!’. Bagian tubuh mereka berlumuran darah,” kata al-Nairab.
Orang tua anak-anak itu terlalu putus asa untuk berbicara dengan anggota media. “Ahmed sangat berprestasi dalam studinya. Dia adalah putra tertua dan dia memiliki dua saudara perempuan,” kata al-Nairab. “Apa yang mereka lakukan hingga dibom dengan cara ini? Jalanan penuh dengan pejalan kaki dan anak-anak. Berapa banyak keluarga di Gaza yang terbangun hari ini karena agresi Israel yang sedang berlangsung? Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







