Sada Social Center telah mendokumentasikan setidaknya 63 pelanggaran terhadap konten digital Palestina selama sebulan terakhir. Mereka mencatat bahwa pelanggaran ini terdistribusi di antara sebagian besar platform media sosial global. Sekali lagi, Facebook menempati urutan pertama dalam menekan konten Palestina, kata kelompok itu dalam laporan bulanannya pada Senin (1/8). Facebook melakukan 50 pelanggaran pada Juli, sementara 3 pelanggaran lainnya terdapat di Instagram, 5 di Tik Tok, 3 di YouTube, dan 2 di Twitter.
Platform ini mempengaruhi konten dan akun yang berhubungan dengan situasi Palestina dan pelanggaran Israel yang terus berlangsung. Lembaga tersebut menekankan bahwa platform ini melanjutkan penindasannya terhadap konten dan narasi Palestina, termasuk menghapus atau menonaktifkan akun 17 jurnalis. Pelanggaran terakhir terhadap jurnalis terjadi pada Hisham Abu Shaqra, seorang videografer Palestina yang berbasis di Tepi Barat dan kameramen Anadolu Agency.
Selain itu, Sada juga menunjukkan kebijakan sistematis Israel untuk membungkam mahasiswa Palestina di lembaga akademik. Ini mengacu pada unit khusus polisi Israel yang melakukan penyamaran dan menangkap Maryam Abu Qwaider, seorang mahasiswa farmasi Palestina di Universitas Ben Gurion Israel, pada 12 Mei. Saat itu, ia mengunggah kiriman di Facebook tentang jurnalis Al-Jazeera Shireen Abu Akleh. Pada 19 Mei, Pengadilan Pusat Israel memperpanjang penahanan Maryam Abu Qwaider menjadi empat hari tambahan. Pada 22 Mei, ia menjadi tahanan rumah selama 2 minggu dengan larangan terlibat dengan media sosial. Tanggal 26 Juli, Shin Bet dan polisi Israel mengklaim bahwa Abu Qwaider menerbitkan 10 kiriman di media sosial yang mengungkapkan “hasutan atau simpati dengan organisasi teroris.” Israel memperpanjang status tahanan rumah Abu Qwaider lagi dengan larangan menggunakan Internet dan media sosial.
Sada Social Center adalah organisasi hak digital Palestina yang beroperasi sejak 2017 untuk melindungi narasi Palestina di platform media sosial. Pada 2020 saja, pusat tersebut mendokumentasikan 1.200 pelanggaran terhadap konten Palestina, termasuk 25 di Instagram, 10 di YouTube, 801 di Facebook, dan 276 di Twitter. Pada 2021, mereka mendokumentasikan 1593 pelanggaran terhadap konten Palestina, termasuk 174 di Instagram, 16 di YouTube, 853 di Facebook, dan 445 di Twitter.
Sumber:
https://qudsnen.co/ngo-over-63-violations-against-palestinian-digital-content-documented-in-july/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







