Israel telah menolak untuk memberikan izin visa kepada salah satu penyair terkenal Gaza yang berkuliah di Harvard, Mosab Abu Toha. Ia adalah penulis salah satu buku terpilih untuk Penghargaan Buku Palestina (PBA) tahun ini, Things You May Find Hidden in My Ear: Poems from Gaza. Toha sekarang menghadapi kemungkinan suram bahwa ia tidak akan bisa lulus dengan gelar Master dalam studi seni rupa di Syracuse, New York.
“Saya harus berada di Syracuse, NY, pada 15 Agustus, sementara Israel menolak izin saya untuk menghadiri wawancara visa di Al-Quds, besok.” kata Toha di Twitter pada Minggu (31/7). “Saya mengajukan izin sejak Mei lalu, Saya bisa kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan gelar MFA saya dalam penulisan kreatif. #help_mosab_get_his_visa.”
Toha, yang juga pendiri Edward Said Libraries, mengatakan bahwa dia telah mengajukan permintaan pada 10 Mei untuk izin pergi ke kedutaan AS di Al-Quds (Yerusalem) untuk wawancara visa pelajar pada 15 Juni. Saat itu Toha mendapat persetujuan. Akan tetapi, ketika dia memasuki Persimpangan Erez (Beit Hanoun), pejabat Israel di stan itu memerintahkannya untuk kembali ke Gaza. Meskipun dia telah mendaftar ulang pada 1 Agustus, mereka tetap menolak Toha.
Baca juga “Kurikulum Palestina di Al-Quds Jadi Target Yahudinisasi Pendidikan“
Setelah mengumumkan penolakan Israel atas lamarannya, Toha menerima pesan solidaritas dari banyak pendukungnya. Mereka menyerukan boikot akademis terhadap Israel. “Inilah tepatnya mengapa boikot akademis terhadap Israel itu tindakan yang benar dan perlu,” kata profesor, akademisi, dan penulis Palestina-Amerika, Steven Salaita. Pada 2014, sebuah kampanye oleh kelompok lobi pro-Israel memblokir penunjukan Salaita ke Universitas Illinois atas kritiknya terhadap negara Apartheid. “Alasan apa yang dimiliki rezim Zionis untuk mencegah pemuda ini memperoleh visa belajar?” tanya Salaita. “Karena mereka bisa, Karena mereka labil dan kejam, Karena mereka membagi hak menurut agama.”
Kasus Toha bukanlah hal yang langka. Dominasi dan kontrol Israel atas penduduk non-Yahudi di Palestina tidak hanya melanggar hak asasi penduduk asli, tetapi juga secara keras menghambat pertumbuhan dan perkembangan penduduknya, seperti Toha. Selama beberapa dekade, mereka telah menjadi sasaran sistem dominasi dan kontrol represif Israel yang oleh setiap kelompok hak asasi manusia telah dicap sebagai sistem supremasi rasial dan apartheid.
Israel menggunakan sistem kontrol populasi yang kejam atas penduduk Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Sistem ini membatasi pergerakan orang Palestina di dalam wilayah penjajahan, antara Tepi Barat dan Jalur Gaza, ke “Israel”, dan ke luar negeri. Namun, hanya orang Palestina yang pergerakannya dibatasi dengan cara ini. Sementara itu, warga Yahudi, termasuk pemukim ilegal, dapat melakukan perjalanan tanpa batas melalui wilayah tersebut.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







