Tuan Presiden,
Ini bulan Ramadan yang Mulia
Saya mengundang Anda untuk berbuka puasa bersama
Namun ku dapati rumahku telah hancur
Dan ibuku pulang dari antrian,
Dengan roti dan hati yang hancur
(Sayyidi Ro’is, Zain Ramadan)
Bulan Ramadan bagaikan dua sisi mata uang di Palestina. Di satu sisi, masyarakat bersuka cita menyambutnya, layaknya yang terjadi di belahan dunia lain. Terbayang bahwa ketika sahur seluruh penjuru kota akan diramaikan oleh para mesaharati yang menabuh gendang diiringi dengan gemerlap lentera atau al-fanous yang dibawa oleh anak-anak[1]. Setelah seharian berpuasa, suasana berbuka puasa pun tidak kalah istimewanya dengan disajikannya berbagai kudapan khas Ramadan seperti Qatayef, Kunafe, dan Maqlubah[2] yang disantap beramai-ramai di halaman Masjid Al-Aqsa berlatar langit senja yang memerah. Kemudian hari ditutup dengan bersama-sama melaksanakan salat tarawih di Masjid Suci di bawah taburan gemintang dan sejuknya angin malam. Sungguh indah.
Akan tetapi, sisi lain dari Ramadan di Palestina tidak dapat dipisahkan, setidaknya untuk tahun ini. Ramadan baru memasuki pekan kedua ketika mimpi buruk menjelma menjadi realita bagi penduduk Palestina. Pada Jumat kedua Ramadan tepatnya pada 15 April 2022, pasukan pendudukan Israel menyerang Masjid Suci al-Aqsa pada waktu salat Subuh. Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan sebanyak 152 warga terluka akibat tembakan peluru karet lapis baja, gas air mata, dan granat kejut. Pasukan juga menangkap lebih dari 400 warga, termasuk di antaranya 16 jurnalis dan 18 anak-anak.
Seorang perempuan jurnalis yang berhadapan dengan pasukan Israel
Sumber: https://qudsnen.co/the-worst-of-israeli-settler-attacks-on-al-aqsa-is-yet-to-come/
Tidak berhenti sampai di sana, serangan kembali dilancarkan oleh Israel pada Minggu tanggal 17 April 2022, tepat pada hari pertama hari raya Yahudi Pesach. Sebanyak 545 pemukim dilaporkan memasuki Masjid al-Aqsa dengan dilindungi oleh pasukan pendudukan yang bersenjata lengkap. Para pemukim menyerang dan menangkap jemaah tanpa pandang bulu, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia; sementara pasukan pendudukan menembakkan granat kejut dan gas air mata ke segala penjuru masjid untuk ‘membersihkan’ jalan bagi para pemukim. Pada hari pertama Pesach, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan setidaknya 19 warga terluka akibat serangan tersebut. Akan tetapi, ini ternyata barulah awal dari rangkaian serangan yang akan terjadi selanjutnya.
Hari raya Yahudi, Pesach, yang jatuh bertepatan dengan bulan suci Ramadan menjadi salah satu ‘alasan’ yang menguatkan Zionis untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Masjid al-Aqsa, terlepas dari serangan yang mereka lancarkan setiap harinya di situs suci tersebut. Pesach merupakan hari bagi umat Yahudi untuk memperingati pembebasan bangsa Israil dari Mesir dan telah dirayakan sejak sekitar tahun 1300 SM. Pada masa itu, Fir’aun yang berkuasa di Mesir memerintahkan agar setiap anak yang lahir dari bangsa Israil harus ditenggelamkan di Sungai Nil atau dipaksa menjadi budak untuk mencegah lonjakan penduduk Yahudi di sana. Umat Yahudi kemudian melarikan diri dari Mesir dengan bantuan dari Nabi Musa as. Hari tersebut kemudian diingat sebagai Pesach dan dirayakan setiap tahunnya.
Pada tradisi Pesach, anak laki-laki akan diperintahkan untuk berpuasa sehari sebelum hari raya. Pada hari Pesach, umat Yahudi melaksanakan upacara perjamuan makan yang disebut Seder yang diisi dengan doa-doa, minum anggur, bernyanyi, dan membahas masalah keadilan sosial hingga kisah-kisah yang ditulis dalam kitab yang disebut Haggadah. Mereka juga akan memakan kudapan khusus selama Pesach seperti daging domba atau kambing jantan yang disembelih di Bait Suci (al-Aqsa) kemudian dipanggang, matzah (sejenis biskuit yang dibawa orang Israil ketika meninggalkan Mesir), dan roti yang tidak menggunakan ragi[3].
Namun, tampaknya kurang tepat apabila kita menyangka bahwa Pesach adalah satu-satunya ancaman yang menghantui muslim Palestina ketika bulan suci Ramadan. Apa yang direncanakan dan dilakukan oleh Zionis sebenarnya jauh melampaui itu. Pesach hanyalah satu bagian dari mata rantai penyerangan yang dilancarkan Zionis untuk ‘mencekik’ Masjid al-Aqsa dan Palestina. Sebelum dan setelah hari Pesach, berbagai serangan sudah mereka lancarkan demi ‘membersihkan’ al-Aqsa dari penduduk muslim Palestina dan menyediakan tempat bagi umat Yahudi. Pesach adalah momen yang digunakan oleh Zionis untuk melancarkan pembantaian dengan dalih ‘hari raya’, suatu upaya yahudinisasi dengan dalih ‘perintah Tuhan’.
Sejak dimulainya Ramadan pada awal April, pasukan Israel melakukan penyerangan di sejumlah kota di Palestina seperti Jenin, Nablus, Ramallah, Hebron, Betlehem, Al-Naqab, dan Kota Suci al-Quds. Hingga pertengahan April, sebanyak 18 warga Palestina dilaporkan gugur. Serangan ini bagaikan ‘penyambutan’ yang dilakukan Zionis terhadap datangnya bulan suci Ramadan yang ditunggu-tunggu oleh muslim Palestina. Mereka telah merencanakan untuk menciptakan suasana yang mencekam di seluruh kota di Palestina, dengan tujuan membuat takut penduduk dan mencegah mereka untuk meramaikan Masjid al-Aqsa. Sayangnya, upaya tersebut tidak pernah berhasil menciutkan nyali para penduduk Palestina.
Tidak hanya mengincar penduduk, Zionis juga memberikan tekanan kepada Departemen Wakaf di al-Quds dan Direktur Masjid al-Aqsa. Syekh Omar al-Kiswani, yang dengan sangat terpaksa menyeru menyeru agar jemaah Masjid al-Aqsa mengosongkan dan mencegah i’tikaf di dalamnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Terang saja keputusan itu mendapat kecaman dari masyarakat Palestina, tak terkecuali para ulama. Keputusan yang dikeluarkan menjelang hari raya Pesach tersebut menurut Ahli dalam urusan Al-Aqsa dan Al-Quds, Jamal Amr, merupakan tekanan yang dilakukan Zionis agar dapat membuka jalan bagi pendudukan dan kawanan pemukim untuk menyerang al-Aqsa dan melaksanakan rencana mereka.
Dan apabila kita menganggap bahwa urusan Palestina hanyalah seputar umat Islam dan Yahudi, hal tersebut salah besar. Hal tersebut sebab masalah Palestina merupakan urusan kemanusiaan yang melibatkan seluruh agama, dan Zionis adalah aktor yang selalu menginginkan peran utama dalam setiap momentum. Urusan Pesach juga menjadi masalah bagi umat Kristen di al-Quds sebab Zionis mengeluarkan keputusan bahwa pada malam Pesach, Gereja Ortodoks harus mengurangi jumlah jemaat di Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus. Polisi Israel mengatakan bahwa mereka hanya akan mengizinkan 1.000 orang untuk memasuki Gereja Makam Kudus pada “Sabtu Agung”, serta 500 orang untuk memasuki Kota Tua dan mencapai alun-alun Patriarkat dan Gereja Makam Kudus. Keputusan ini ditolak oleh Patriarkat Ortodoks yang mengatakan bahwa mereka tidak akan melepaskan hak dan kebebasan para penganutnya untuk beribadah, dan mematuhi semua ritual dan doa yang akan diadakan seperti biasa. Dia menambahkan bahwa semua anggota gereja memiliki hak untuk mengakses Gereja Makam Kudus dan perbatasannya selama perayaan “Sabtu Agung” dan “Pesta Kebangkitan Agung”.
Semakin dekat dengan perayaan Pesach, Zionis semakin menjadi-jadi dalam melancarkan aksinya. Mereka telah merencanakan untuk menyembelih hewan kurban di Masjid al-Aqsa, bahkan membuat iklan yang menjanjikan imbalan uang bagi orang-orang yang menyembelih kurbannya di Masjid al-Aqsa. Tindakan ini mendapat kecaman tidak hanya dari umat Muslim, melainkan juga dari tokoh Kristen dan Yahudi antiZionis di al-Quds.
“Umat Kristen bersama muslim Palestina akan membela Masjid al-Aqsa sampai mati dan tidak akan pernah menyerahkan kuncinya kepada pendudukan Israel. Kami akan mati terhormat dengan kepala tegak di sekitar Masjid al-Aqsa dan Gereja Makam Suci di Kota Tua Al-Quds. Kita semua berasal dari bangsa yang sama dan budaya yang sama.” Demikian ucapan kepala Organisasi Populer Dunia untuk Keadilan dan Perdamaian Al-Quds, Pastor Manuel Musallam.
Sementara itu, Neturei Karta, kelompok anti-Zionis ultra-Ortodoks internasional, mengutuk penyerbuan Masjid al-Aqsa oleh Zionis dengan mengatakan, “Orang-orang jahat ini melanggar perintah Tuhan, dan dilarang bagi seorang Yahudi untuk menginjakkan kaki di tanah suci al-Aqsa. Seorang Yahudi sejati tidak menantang muslim atau memprovokasi perasaan mereka. Kami, orang-orang Yahudi melawan Zionis, berjuang bersama saudara-saudara kami rakyat Palestina melawan pendudukan Zionis sampai akhir negara Zionis dan pembebasan tanah dari para perampas, atas izin Tuhan.”
Pasukan pendudukan menyerang seorang pria dan mencegah jemaah memasuki Masjid Al-Aqsa
Sumber: https://www.#/20220418-this-ramadan-we-must-continue-to-speak-out-against-palestinian-suffering/
Tuan Presiden,
Kami adalah pelarian
Kami adalah orang yang diusir
Kami adalah orang yang dituduh bersalah,
Dengan alasan ibadah
Orang-orang menghukumi kami denda berupa pemberantasan
Orang-orang membungkam lisan kami,
Hanya karena kami bersyahadat
Bait tersebut kurang lebih menggambarkan apa yang terjadi pada penduduk Palestina ketika Pesach. Selama seminggu, sejak 17 hingga 21 April, penduduk Palestina yang berada di Masjid al-Aqsa digempur habis-habisan. Perempuan, lansia, bahkan anak-anak turut menjadi target serangan. Sebanyak 3.670 pemukim kolonial Israel menyerbu al-Aqsa selama lima hari tersebut, melakukan ritual Talmud dan tindakan provokatif, dengan dilindungi oleh pasukan pendudukan yang menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah jemaah. Akan tetapi, penduduk Palestina tetap bergeming menjaga Masjid al-Aqsa. Sebab mereka tahu, masjid suci tersebut adalah milik umat Islam sehingga tidak ada yang harus ditakuti.
Seorang pria dan dua wanita tetap beribadah di Masjid Al-Aqsa meski diawasi tentara
Sumber: https://adararelief.com/penduduk-palestina-bergeming-di-al-aqsa/
Pasca-Pesach, keliru jika kita menganggap bahwa umat Islam Palestina sudah bebas untuk beribadah di al-Aqsa. Kebijakan Israel memang mengatakan akan menutup Masjid al-Aqsa dan kompleksnya di al-Quds Timur yang diduduki bagi orang Yahudi dan nonmuslim lainnya sejak Jumat (22/4) hingga akhir Ramadan. Namun, bukan berarti seluruh wilayah Palestina telah aman. Menjelang akhir Pesach, Zionis telah menembakkan setidaknya empat rudal ke Gaza pada 18 April. Kemudian pada hari terakhir Pesach, pesawat-pesawat tempur Israel kembali menggempur Gaza dan wilayah pantainya. Tak hanya di Gaza, Ramallah, Hebron, dan Tepi Barat, para pemukim juga melancarkan serangan dan menangkap sejumlah penduduk, seakan mengatakan, “rantai serangan ini tidak akan terputus dengan dilarangnya Zionis memasuki Al-Aqsa.”
Dari rangkaian serangan tersebut, tidak banyak yang dapat ditayangkan oleh media. Bahkan Facebook dan Instagram memblokir akun-akun yang menyuarakan apa yang terjadi di Palestina dan Masjid al-Aqsa. Supermodel Bella Hadid dan media Palestina Al-Qastal merupakan contoh yang mengalami perlakuan tidak adil dari media, hanya karena mereka menunjukkan apa yang telah terjadi di Palestina pada akun media sosial mereka.
Sejumlah negara juga telah mengutuk serangan yang terjadi, termasuk PBB. Akan tetapi, penduduk Palestina membutuhkan lebih dari itu. Tidak hanya kecaman, mereka membutuhkan tindakan nyata, kebijakan yang tegas, bukan sekadar basa basi yang kemudian perlahan terlupakan seiring berjalannya waktu. Lebih parahnya lagi, beberapa negara bahkan melakukan normalisasi dengan Israel dan memilih menutup mata terhadap apa yang terjadi di Palestina dan Masjid Suci al-Aqsa.
Mata rantai serangan yang dilancarkan oleh Israel pada Ramadan ini semoga membuka mata kita bahwa Palestina adalah urusan kemanusiaan, bukan hanya urusan agama tertentu. Oleh sebab itu, kita yang berada di Indonesia juga harus membantu Palestina dengan apa pun yang kita bisa, baik melalui materi, media, dan tentunya melalui doa-doa kita terutama di sepuluh hari terakhir Ramadan ini. Semoga suatu saat nanti, apa yang kita doakan dapat terwujud, seperti larik terakhir dari lagu yang dinyanyikan Zain Ramadan:
Tuan Presiden
Kita akan berbuka puasa di Al-Quds,
Ibukota Palestina
Sebagaimana ditulis oleh Allah yang Maha Pemberi Harapan
Yang saling terkait antara harapan dan doa
Suasana buka puasa di Masjid Al-Aqsa
Sumber: https://adararelief.com/suasana-berbuka-puasa-di-masjid-al-aqsa/
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/ramadan-di-palestina-mesaharati-para-penabuh-genderang-yang-membangunkan-sahur/
[2] Selengkapnya di https://adararelief.com/maqlubah-nasi-simbol-harapan-dan-baitul-maqdis/; https://adararelief.com/al-jardali-pedagang-yang-telah-menjual-qatayef-selama-50-tahun/
[3] https://tirto.id/sejarah-paskah-yahudi-dan-bedanya-dengan-paskah-kristen-dmJG
Sumber:
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128869
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128811
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128823
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128840
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-aqsa-mosque-jerusalem-storm-raid-settlers
https://www.#/20220414-christian-leader-in-jerusalem-well-die-in-defence-of-al-aqsa-mosque/
https://www.#/20220418-this-ramadan-we-must-continue-to-speak-out-against-palestinian-suffering/
https://www.#/20220416-israeli-attack-on-al-aqsa-is-an-insult-to-muslims-worldwide/
https://www.#/20220417-the-worst-of-israeli-settler-attacks-on-al-aqsa-is-yet-to-come/
https://www.#/20220415-over-150-palestinians-injured-as-israeli-police-storm-al-aqsa/
https://qudsnen.co/israeli-forces-raid-al-aqsa-mosque-attack-arrest-worshipers/
https://qudsnen.co/the-worst-of-israeli-settler-attacks-on-al-aqsa-is-yet-to-come/
https://paltoday.ps/ar/post/440717/منع–الإعتكاف–في–المسجد–الاقصى–ي–ثير–ضجة–والتنفيذ–لمن–يملك–القرار
https://www.palinfo.com/news/2022/4/15/152-مصاب–ا–واكثر–من-400-معتقل–بفعل–اقتحام–الاحتلال–للمسجد–الاقصى
http://www.womenfpal.com/news/2022/4/16/الاحتلال–يعتدي–بوحشية–على–النساء–وكبار–السن–في–باحات–المسجد–الاقصى
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







