Ashraf Rajabi (16) ditawan oleh pasukan Israel pada Oktober 2021, saat ia kembali ke rumahnya di kota Silwan di Al-Quds Timur yang diduduki. Anak Palestina itu dituduh melemparkan batu ke pasukan Israel selama protes terhadap penghancuran Permakaman Al-Yusufiya. Rajabi berada dalam tawanan Israel selama 10 hari, tetapi interogator gagal memberikan bukti atas klaim terhadapnya. Dia akhirnya dibebaskan bersyarat oleh pengadilan Israel, yang menjatuhkan denda sebesar $300 dan memerintahkan dia untuk tetap dalam tawanan rumah selama lima hari.
“Kami menerima perintah dari pengadilan pada hari kelima bahwa statusnya sebagai tawanan rumah akan diperpanjang,” kata ayahnya, Kayed Rajabi. “Sejak itu, pengadilan terus memperpanjang statusnya, tanpa menetapkan tanggal untuk mengakhiri tindakan tersebut,” Ayah Rajabi mengatakan bahwa dia dan keluarganya telah menjadi seperti “penjaga penjara” yang mengamati pergerakan putra mereka sepanjang waktu. Akibat hukuman tersebut, bocah Palestina itu tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial apa pun, baik dengan keluarga maupun teman-temannya.
Pihak berwenang Israel menggunakan strategi tawanan rumah terhadap anak-anak Palestina di bawah umur karena undang-undang tidak mengizinkan anak-anak di bawah usia 14 tahun dipenjara. Mereka menempatkan anak-anak di bawah tawanan rumah selama persidangan sampai mereka dewasa dan dapat diberikan hukuman penjara yang sebenarnya. Tidak ada angka pasti tentang jumlah anak-anak Palestina yang ditawan di bawah tawanan rumah oleh Israel. Menurut data yang dikumpulkan oleh organisasi tentang hak-hak tawanan, diperkirakan terdapat 4.500 warga Palestina yang ditawan,
Keluarga Rajabi sedang menunggu sidang berikutnya pada 18 April. Sampai hari itu, mereka harus terus mengamati bocah itu dan tidak pernah mengizinkannya keluar rumah dengan alasan apa pun. “Menjadi sipir untuk putra Anda di dalam rumah lebih sulit daripada penawanannya di penjara Israel,” kata ayahnya. “Bisakah Anda bayangkan betapa kami menderita setiap hari oleh kebijakan yang tidak adil ini?”
Sumber:
https://www.#/20220407-israels-house-arrest-policy-turns-palestinian-parents-into-prison-guards/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







