Tidak terasa, bulan suci Ramadan tinggal menunggu hitungan hari. Di berbagai belahan dunia, umat muslim bersuka cita, memaksimalkan ibadah untuk bersiap menyambutnya, salah satunya dengan banyak mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat di masjid. Akan tetapi, situasinya berbeda di Palestina. Sejak Rabu malam (16/3), Masjid Al-Aqsa diserbu oleh para pemukim Israel yang memperingati hari libur Yahudi, Purim. Umat muslim yang harusnya bisa beribadah dengan tenang di Masjid Al-Aqsa, diusir oleh para pemukim seakan Al-Aqsa adalah milik mereka.
Sebanyak 198 pemukim Yahudi memasuki kompleks Al-Aqsa untuk merayakan Purim. Hari berikutnya, hampir 117 pemukim kembali datang, namun kali ini dengan perlindungan pasukan pendudukan Israel. Sejak pukul 7 pagi mereka telah menyerbu Masjid Al-Aqsa. Tak hanya itu, polisi juga membatasi akses bagi warga Palestina untuk memasuki Masjid Al-Aqsa. Tujuannya satu, menghalangi warga Palestina untuk melakukan protes agar umat Yahudi dapat merayakan Purim dengan ‘aman’.
Purim, atau dalam bahasa Ibrani disebut ‘Lots’, adalah salah satu festival umat Yahudi yang tahun ini dimulai pada Rabu malam (16/3) dan berakhir pada Jumat (18/3). Purim adalah perayaan umat Yahudi untuk mengingat Ester, yang merupakan Ratu Persia sekitar 2000 tahun yang lalu. Ester dinilai berjasa karena ‘menyelamatkan’ ratusan umat Yahudi yang diperintahkan dibunuh oleh Haman, menteri utama Raja Persia Ahasuerus (Xerxes I). Ester dianggap sebagai ratu pemberani karena ia sendiri yang menghadap raja dan memohon agar umat Yahudi tidak ada yang dibunuh. Izin tersebut dikabulkan oleh raja pada bulan Yahudi, Adar 13, pada abad ke-5 SM yang kemudian disebut dengan Purim.
Festival Purim ini kemudian dirayakan setiap tahun dengan membacakan kisah Ester di sinagog. Apabila nama Haman–menteri utama raja—disebut, maka anak-anak akan menghentakkan kaki mereka, mendesis, dan menggoyangkan kerincingan untuk meredam nama tersebut. Anak-anak juga akan bermain kostum layaknya Halloween kemudian memberikan hadiah kepada teman-teman mereka dan orang-orang miskin. Mereka juga membuat makanan khas yang selalu disajikan saat Purim yaitu Hamantaschen, sebuah kue yang diisi dengan biji-bijian. Mereka meyakini bahwa biji-bijian adalah makanan utama Ester selama ia tinggal di penjara.

Seorang pemukim di Hebron mengenakan kostum saat Purim dengan dilindungi polisi Israel
Sumber : https://www.haaretz.com/.premium-purim-a-time-to-rejoice-and-plunder-1.5231246
Di balik sukacita umat Yahudi yang merayakan Purim, selalu ada penderitaan warga Palestina yang ditutupi, bahkan sejak puluhan tahun yang lalu. Pada 1994, terjadi sebuah peristiwa yang tidak mungkin dilupakan oleh penduduk Palestina. Sebanyak 29 warga Palestina dibunuh di Masjid Ibrahimi, tepat pada hari perayaan Purim yang juga bersamaan dengan tibanya bulan suci Ramadan.
Hosni Issa al-Rajabeh, salah seorang saksi pada peristiwa tersebut, menceritakan kengerian dan trauma yang ia alami sejak menyaksikan pembunuhan itu. Ia mengatakan bahwa pada akhir bulan Februari, hari raya Purim yang ketika itu jatuh pada Kamis malam membuat suasana masjid sangat menegangkan karena sekelompok besar orang Yahudi ingin memasuki masjid bersamaan dengan umat muslim yang akan salat. Akan tetapi, malam itu tidak ada tindakan kekerasan.
“Keesokan paginya, saya datang untuk salat subuh bersama istri dan anak-anak saya sekitar pukul 04.30. Ketika kami tiba di masjid, seorang pemukim menyambut kami di masjid, sangat aneh,” katanya kepada Al Jazeera. “Kemudian, para wanita dan anak-anak diberitahu oleh keamanan bahwa mereka harus berdoa di ruang yang terpisah dari para pria. Itu juga aneh.” lanjutnya.
Rajabeh ingat, ia memasuki ruang utama masjid dan memulai salat subuh. “Imam mulai membaca ayat Sajdah. Dia membaca selama empat menit, dan ketika orang pertama berlutut, saya mendengar suara tembakan dan listrik padam. Awalnya, saya pikir itu mungkin kembang api untuk hari raya Yahudi, tetapi setelah lima detik, pria di sebelah saya jatuh ke depan. Saya menyadari dia telah ditembak; begitu juga orang di depan saya, dan saya juga,” kata Rajabeh.
Dia dipukul dua kali di lengan. Salah satu peluru masuk tepat di bawah siku, sementara yang kedua menghancurkan sendi sepenuhnya. Ia mengatakan bahwa penembaknya adalah pemukim Israel bernama Baruch Goldstein, bersama dua rekannya yang menembak sekitar beberapa meter dari belakang masjid. Alih-alih menawarkan bantuan kepada mereka yang terbunuh dan terluka, Israel memberi para pemukim lebih banyak ruang dan akses ke masjid. Seolah-olah mereka memberi penghargaan kepada para pembunuh.

Masjid Ibrahimi di Hebron, lokasi pembunuhan jamaah Palestina saat festival Purim
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2016/2/26/remembering-the-ibrahimi-mosque-massacre
Setelah diselidiki, diketahui bahwa Goldstein adalah seorang imigran Amerika yang aktif dalam gerakan politik Kach, ekstremis di permukiman Israel terdekat, Kiryat Arba, dan dia dikenal oleh intelijen Israel. Dia ditemukan dan dipukuli sampai mati oleh orang banyak segera setelah pembantaian. Pemerintah Israel telah menyatakan bahwa Goldstein bertindak sendiri, tetapi banyak saksi pada saat itu melaporkan melihat dua atau tiga penyerang.
Selain Rajabeh, korban lainnya yang selamat dari peristiwa tersebut adalah Sharif Ghaith. Dia ditembak sekali di wajah. Peluru menembus pipi kanannya tepat di atas mulut, dan keluar melalui rahang bawahnya. Bekas luka fisiknya dapat ia tutupi dengan janggutnya, namun trauma psikologis yang ia alami tidak bisa ditutupi dengan apa pun.
“Setiap Ramadan, saya ingat pagi itu. Setiap kali saya melihat orang yang terluka, saya ingat pagi itu. Ini tak terlupakan,” kata Ghaith kepada Al Jazeera. “Setiap kali saya pergi ke masjid, saya merasa frustrasi dan tertekan. Setiap kali saya melihat mayat dan yang terluka, saya kembali teringat dengan apa yang terjadi atas diri saya. Lebih buruk lagi karena tentara Israel tidak selalu mengizinkan saya masuk ke masjid. Mereka mengenal saya dan bahwa saya selamat dari pembantaian itu, dan telah menolak saya masuk dalam banyak kesempatan.”
Setelah pembantaian itu, pemerintah Israel memberlakukan serangkaian tindakan keamanan di seluruh Hebron yang diduduki. Masjid Ibrahimi sendiri terbagi, dengan akses Muslim dikurangi dari seluruh ruang menjadi sekitar 40 persen dari situs. 60 persen lainnya dialokasikan untuk jamaah Yahudi, yang mengakses situs dari pintu masuk yang terpisah. Bagian kota yang dekat dengan permukiman Israel ditutup untuk penduduk Palestina, termasuk pusat ekonomi Jalan Shuhada. Bahkan warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut dilarang untuk berjalan di atasnya, demi ‘melindungi’ para pemukim Yahudi. Pos pemeriksaan juga didirikan di sekitar pintu masuk masjid, yang diawaki oleh tentara Israel. Agenda Yahudinisasi dijalankan di balik kedok ‘festival’, meninggalkan trauma mendalam bagi para penduduk Palestina untuk datang ke masjid.
Hefthi Yassin Abu Sneina, seorang pekerja Wakaf Palestina, dan saat ini menjadi kepala keamanan di Masjid Ibrahimi mengatakan bahwa militer secara efektif mengambil alih setelah pembantaian itu. “Israel membuat pekerjaan kami sangat menantang,” kata Abu Sneina kepada Al-Jazeera. “Di pos pemeriksaan di luar masjid, tentara menakut-nakuti orang setiap hari dan menghentikan orang memasuki masjid. Mereka bahkan kadang-kadang melarang staf masjid untuk datang bekerja. Sangat umum bagi karyawan kami untuk terlambat. Kami memiliki kartu identitas khusus yang seharusnya mencegah hal ini terjadi, tetapi mereka tidak menghormatinya dan masih melecehkan kami.”
Perdana Menteri Yitzhak Rabin dilaporkan marah dengan pembantaian yang dilakukan Baruch Goldstein atas orang-orang Palestina. Ia kemudian memberlakukan jam malam; penutupan jalan, gang dan toko; dan penghalang jalan memberikan dorongan besar untuk pembangunan Yahudi di Kota Tua Hebron. Ini adalah sisi lain dari kegembiraan Purim: ribuan penduduk kota Palestina terpaksa pergi karena pelecehan dan penghapusan sumber pendapatan mereka. Ini adalah aritmatika kegembiraan Purim: demi sekitar 500 orang Yahudi, sebuah perintah dikeluarkan untuk mengganggu kehidupan sekitar 200.000 orang Palestina.
Puluhan tahun yang lalu, Masjid Ibrahimi menjadi lokasi pembantaian umat muslim yang hendak bersujud kepada Tuhannya. Mereka dibunuh demi ‘melancarkan’ festival Yahudi Purim, memberlakukan agenda Yahudinisasi[1] di balik kegiatan ‘festival tahunan’. Hari ini, para pemukim semakin berani memasuki Masjid Suci Al-Aqsa. Bukan hanya ketika Purim atau ketika hari raya saja para pemukim memasuki Al-Aqsa, melainkan hampir setiap waktu, mengusir jamaah Palestina dan mencegah mereka beribadah. Haruskah menunggu peristiwa yang sama terjadi di Masjid Al-Aqsa baru kita akan bergerak? Nyawa penduduk Palestina itu berarti, tidak bisa dihargai hanya dengan ‘festival’ yang hanya berlangsung satu-dua hari.

Sumber: instagram Sahabat Al-Aqsha
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/adara-report-edisi-02-desember-2021-tanah-palestina/
Sumber :
https://www.middleeasteye.net/video/israeli-settlers-storm-al-aqsa-compound-purim
https://www.aljazeera.com/news/2016/2/26/remembering-the-ibrahimi-mosque-massacre
https://www.#/20220316-dozens-of-israeli-settlers-storm-al-aqsa-complex-to-celebrate-purim/
https://www.#/20210227-the-massacre-of-ibrahimi-mosque/
https://www.#/20210226-israel-bans-muslim-call-to-prayer-to-allow-settlers-to-celebrate-purim/
https://qudsnen.co/682-israeli-settlers-broke-into-al-aqsa-mosque-in-jerusalem-last-week/
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israeli-settlers-mark-purim-holiday-by-storming-al-aqsa/1076302
https://blogs.timesofisrael.com/purim-in-palestine/
https://www.jpost.com/features/in-thespotlight/israeli-history-photo-of-week-purim-in-palestine
https://english.aawsat.com/home/article/3530856/palestinians-call-protecting-al-aqsa-purim-holiday
https://www.haaretz.com/.premium-purim-a-time-to-rejoice-and-plunder-1.5231246








