Di Barat Daya Al-Quds, terdapat sebuah daerah yang sangat indah dan subur yang diberi julukan oleh UNESCO sebagai “Lembah Zaitun dan Anggur”. Wilayah ini memiliki luas sekitar 7.165 dunam dengan jumlah populasi sekitar 7000 jiwa. Di tempat ini, penduduknya menanami lahan pertanian mereka dengan terong, paprika, anggur, dan pohon khas Palestina yaitu zaitun. Pertanian tersebut diairi menggunakan sistem irigasi tradisional yang usianya sudah lebih dari 3000 tahun.
Battir, demikian nama wilayah tersebut. Ada yang mengatakan bahwa nama “Battir” berasal dari bahasa Fenisia yaitu “Batara” yang artinya memotong atau menebas. Namun, sumber lain mengatakan bahwa “Battir” berasal dari bahasa Arab “Bait At-Tair” yang memiliki makna rumah burung[1]. Terlepas dari asal usul namanya, wilayah ini terbukti memiliki pemandangan yang menakjubkan, bahkan dinobatkan oleh UNESCO sebagai salah satu wilayah yang termasuk dalam Daftar Warisan Dunia pada 2014.
Pertanian adalah nafas penduduk Battir. Ada sebuah pepatah lokal di Battir yang berbunyi, “seminggu berlangsung selama delapan hari, bukan tujuh.” Pepatah tersebut menggambarkan delapan keturunan utama di Battir yang bergiliran setiap harinya menyirami tanaman-tanaman yang ada di desa. Delapan keturunan tersebut antara lain Uweina, Butma, Batha, Kattoush, Mashni, Abu ‘Ebeid Allah, Abu Ni’ma, dan Mu’ammar.

Sistem irigasi dan pertanian di Battir
Sumber : http://america.aljazeera.com/articles/2014/6/23/unesco-palestinebattir.html
Dahulu, pada masa Ottoman, Battir merupakan salah satu dari rangkaian panjang desa-desa kecil yang terikat erat dengan Kota Suci Al-Quds. Sekian dekade yang lalu, kereta api dari Al-Quds biasa berhenti di Battir, melewati pasar-pasar sayuran yang selalu sibuk. Akan tetapi, hubungan Battir dengan Al-Quds sengaja “diputuskan” pada 1949 akibat pembangunan “Tembok Pemisah” oleh zionis, menyebabkan Battir terisolasi dari Al-Quds dan wilayah lain di sekitarnya.
Setelah berakhirnya Perang Enam Hari pada 1967, Battir yang saat itu jumlah populasinya sekitar 1.445 jiwa, berada di bawah pendudukan Zionis Israel. Pada 1995, ditandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Battir secara resmi akan dikelola oleh Otoritas Palestina (PA) melalui sembilan orang yang ditunjuk sebagai dewan desa. Sejak saat itu, sebanyak 23,7% dari tanah Battir diklasifikasikan sebagai Area B, sedangkan sisanya 76,3% diklasifikasikan sebagai Area C.
Peta Battir dan pos-pos terdepan ilegal Israel
Sumber : https://peacenow.org.il/en/settlers-established-a-new-outpost-on-the-lands-of-battir-west-of-bethlehem
Hari ini, Battir yang merupakan permata Palestina tersebut terus berusaha dicuri oleh Israel. Baru-baru ini, pada 10 Maret 2022, pemukim Israel mendirikan pos terdepan baru di desa Battir, memicu kekhawatiran penduduk setempat yang mencemaskan penyitaan lahan yang lebih banyak di desa tempat tinggal mereka.
Usaha pengambilalihan tanah Battir tahun ini merupakan yang keempat kalinya terjadi. Berdasarkan pernyataan dari aktivis lokal, Hasan Muamer, pemukim Israel pertama kali berusaha untuk mendirikan pos terdepan di Battir pada malam natal 2018. “Saat itu, kami berhasil mengusir mereka dari desa dan menjatuhkan karavan yang mereka dirikan,” kata Muamer.
Muamer menceritakan bahwa pada 2020 dan 2021 para pemukim melakukan upaya yang sama tetapi selalu dapat diatasi oleh penduduk Battir. Menyadari bahwa para pemukim tidak akan berhenti mengganggu desa mereka, Muamer dan penduduk Battir sepakat untuk membentuk patroli sukarelawan dengan tujuan untuk memantau area dan melindungi desa dari gangguan.
Setahun berlalu, patroli dinilai efektif karena pemukim tidak lagi menyerang desa mereka. Namun, pada 10 Maret lalu, para pemukim seperti sangat sengaja menunggu hingga tengah malam untuk menyerang. Ketika mereka mengetahui bahwa para petugas patroli telah pulang dan desa telah lepas dari pengawasan, para pemukim datang dengan perlindungan tentara ke puncak gunung di pinggiran Battir, membuat penduduk tidak bisa melakukan perlawanan. “Mereka membawa dua karavan mobil, tenda besar, tangki air, dan beberapa domba. Mereka mendirikan tenda di atas bukit,” kata Hassan Muamer kepada Middle East Eye. Sejak pos terdepan didirikan, warga Palestina tidak diizinkan masuk dalam radius satu kilometer dari daerah tersebut.

Pos ilegal terdepan Israel dan tanah Battir yang dihancurkan
Sumber : https://peacenow.org.il/en/settlers-established-a-new-outpost-on-the-lands-of-battir-west-of-bethlehem
Akan tetapi, bukan penduduk Palestina apabila hanya diam berpangku tangan tanpa melakukan perlawanan. Keesokan paginya, ketika seluruh penduduk telah menyadari apa yang terjadi, pertempuran pecah di pos terdepan. Tentara Israel menembakkan gas air mata dan bom suara ke arah penduduk yang melakukan demonstrasi, mereka juga menangkap seorang anak berusia 14 tahun.
Menurut Hasan Muamer, para pemukim yang mendirikan pos terdepan di Battir adalah pemukim yang pada 2019 juga mendirikan pos terdepan ilegal di Lembah al-Makhrour yang menghubungkan Battir dan Kota Beit Jala.
“Para pemukim ingin menghubungkan dua pos terdepan ini dan menyita ratusan hektar tanah Palestina. Para pemukim membuka jalan tanah yang menghubungkan pos terdepan baru dengan jalan beraspal yang ada di Lembah al-Makhrour, untuk memastikan akses antara dua pos terdepan. Ini semua adalah bagian dari rencana mereka, untuk memperpendek jarak antara dua pos terdepan, menyita lebih banyak tanah, dan akhirnya menghubungkan pos-pos ini ke permukiman ilegal Har Gilo, Gilo, dan Gush Etzion, menciptakan blok permukiman besar yang membentang dari Al-Quds, melalui Betlehem, sampai ke Hebron,” jelasnya.
Battir, sama seperti wilayah-wilayah lainnya di Palestina, sudah sejak lama menjadi sasaran Yahudinisasi tanah yang dilakukan oleh Zionis Israel[2]. Pertahanan dan perlawanan terus dilakukan oleh penduduknya tanpa kenal lelah. Hal ini sebab jika mereka lengah, mereka akan kehilangan tanah mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Muamer, “Kami tahu bahwa jika kami tidak segera menghentikannya (para pemukim), kami akan kehilangan tanah kami selamanya.”

Potret indahnya Desa Battir
Sumber : https://www.bethlehem.edu/2020/03/02/battir-a-palestinian-village/
Battir, bagi sebagian besar orang, barangkali hanyalah desa kecil yang penduduknya masih mengandalkan pertanian untuk bertahan hidup. Battir bukanlah Paris yang dipenuhi pesona gemerlap lampu atau Swiss yang pegunungannya ditutupi indahnya hamparan salju. Battir hanyalah desa kecil, tetapi sama berharganya dengan tempat-tempat lainnya di dunia. Desa yang disebut “rumah” oleh penduduk aslinya.
Battir adalah permata yang tersembunyi, bagian dari Tanah Suci Al-Quds yang dengan sengaja “dipotong” agar menjadi serpihan kecil yang dilupakan dunia. Akan tetapi, di mana pun tempatnya, permata tetaplah permata, tidak akan berkurang nilainya. Sangat wajar jika ada pihak yang iri dan ingin mencurinya. Tinggal kita sebagai pihak yang bertanggung jawab atas permata tersebut yang menentukan sikap. Apakah kita akan menjaganya dengan segala yang kita bisa, atau menyerahkannya begitu saja, seakan permata tersebut hanyalah batu yang tak berharga. Semoga kita semua termasuk golongan yang pertama, menjadi penjaga Palestina dengan upaya apapun yang kita bisa.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] https://www.bethlehem.edu/2020/03/02/battir-a-palestinian-village/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/adara-report-edisi-02-desember-2021-tanah-palestina/
Sumber :
https://www.middleeasteye.net/opinion/how-local-resistance-challenges-power-structures-palestine
https://english.palinfo.com/news/2022/3/7/Jewish-settlers-set-up-tents-mobile-home-in-Battir-village
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128309
https://www.worldheritagesite.org/list/Battir
https://www.bethlehem.edu/2020/03/02/battir-a-palestinian-village/
https://placeandsee.com/wiki/battir
http://america.aljazeera.com/articles/2014/6/23/unesco-palestinebattir.html
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







