Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa telah ditemukan kuburan massal di Desa Tantura pada Kamis (20/01). Kuburan tersebut ‘disembunyikan’ di bawah tempat parkir Pantai Dor, sebelum akhirnya ditemukan. Sedikitnya 200 warga Palestina yang dibantai oleh Zionis ketika peristiwa Nakba 1948 diduga dikubur dalam kuburan tersebut.
Menurut para sejarawan Palestina, tragedi Tantura terjadi pada malam 22—23 Mei 1948. Ketika itu, penduduk Desa Tantura ditembak oleh pasukan Zionis dengan brutal, sebagai bentuk ‘pembalasan dendam’ atas tewasnya 8 pasukan zionis ketika peristiwa Nakba. Menyikapi penemuan kuburan tersebut, Otoritas Palestina segera memerintahkan dilaksanakannya penyelidikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Tantura.
Layaknya kuburan di Pantai Dor yang ‘disembunyikan’ berpuluh tahun lamanya, tragedi Tantura seakan menjadi sejarah kelam yang sengaja ‘dikubur’ dalam-dalam oleh zionis. Suara-suara penduduk Palestina yang menyampaikan fakta mengenai tragedi Tantura dianggap sebagai dongeng belaka. Barulah ketika warga Israel sendiri yang angkat bicara, dunia lantas menoleh dan percaya bahwa hal tersebut nyata.

Makam di Pantai Dor yang di bawahnya terdapat kuburan penduduk Desa Tantura
Sumber : https://www.middleeasteye.net/opinion/israel-palestine-no-longer-bury-tantura-massacre
Ilan Pappe merupakan salah satu sejarawan Israel yang ‘membuka’ fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Tantura. Pada akhir tahun 1990-an, Pappe merupakan salah satu pengajar di Universitas Haifa. Salah satu mahasiswa yang ia bimbing adalah Teddy Katz—yang saat itu memutuskan untuk menulis tesis tentang peristiwa Nakba 1948. Melalui penelitiannya, Katz telah mengungkapkan bahwa pada 1948, sekitar 200 penduduk Desa Tantura ditembak secara brutal sebagai ‘pembalasan dendam’ akibat tewasnya sekitar 8 tentara zionis.
Namun, tesis Teddy Katz yang ditulis secara ilmiah dan didukung oleh data-data yang valid justru dianggap sebagai ‘pencemaran nama baik’. Lebih buruk lagi, thesisnya diberi nilai rendah dan dihapus dari perpustakaan. Kebenaran yang disuarakan oleh Katz justru membuatnya dikucilkan oleh orang-orangnya sendiri, mengakibatkan stres berkepanjangan yang membuatnya terserang stroke sebanyak dua kali dan harus bergantung dengan kursi roda sepanjang hidupnya.
Ilan Pappe selaku pembimbingnya telah berusaha semaksimal mungkin menuntut keadilan bagi Katz. Sejak awal tahun 2000-an, Pappe selaku dosen, tetap aktif melakukan kampanye dan menerbitkan artikel untuk menyampaikan apa yang terjadi di Tantura kepada masyarakat dunia. Usaha-usaha ini membuat Pappe kehilangan pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Haifa pada 2008. Tidak hanya itu, Pappe dan Katz dituduh sebagai ‘pengkhianat’ dan mahasiswa dilarang sama sekali untuk membaca apalagi menjadikan karya-karya mereka sebagai rujukan. Tulisan-tulisan Pappe dan Katz ‘dihapus’ dari perpustakaan, layaknya Zionis ‘menghapus’ penduduk Palestina ketika peristiwa Nakba.
Setelah usaha melalui tulisan tidak berhasil, seorang pembuat film bernama Alon Schwarz membuat film dokumenter berjudul Tantura. Film ini menampilkan kesaksian dari mantan tentara Israel yang menyaksikan langsung tragedi yang terjadi di Tantura.
Moshe Diamant, salah satu veteran Israel mengatakan, “Hal itu tidak boleh diberi tahu, itu bisa menyebabkan seluruh skandal. Saya tidak ingin membicarakannya, tetapi itu terjadi. Apa yang bisa kau lakukan? Itu telah terjadi.” Sementara seorang veteran lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “Tidak baik mengatakan ini, (tapi) mereka memasukkan (para korban) ke dalam tong dan menembaknya. Saya ingat darah di dalam tong tersebut.”
Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan bahwa fakta Nakba terus-menerus sengaja dikaburkan oleh pemerintah Israel untuk mengubur kebenaran akan kejahatan dan pembantaian yang mereka lakukan terhadap penduduk Palestina. Kejahatan Zionis tidak berhenti pada 1948, tetapi terus berlanjut hingga saat ini, dengan berbagai tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan.
Tragedi Tantura hanyalah satu di antara tragedi-tragedi lain yang ‘dikubur’ dalam-dalam oleh Israel di balik agenda-agenda mereka. Pembantaian-pembantaian yang terus mereka tutupi, menunjukkan betapa takutnya mereka akan terbongkarnya kesalahan-kesalahan lainnya. Mereka takut mata dunia internasional akan semakin terbuka dengan tindakan apartheid yang telah mereka lakukan sejak lama terhadap penduduk Palestina.
Salah satu bentuk ketakutan mereka adalah ketika Sekretaris Jenderal Amnesti Internasional (AI), Agnes Callamard, mengatakan bahwa Israel telah menolak untuk melakukan diskusi dengan mereka. Meskipun demikian, Callamard mengatakan bahwa organisasinya akan melakukan apa saja demi menyebarluaskan aksi apartheid Israel terhadap Palestina.
Setelah mengetahui apa yang telah dilakukan oleh zionis terhadap penduduk desa Tantura dan Palestina secara keseluruhan, kita hanya memiliki dua pilihan: menutup mata dan membiarkan kebenaran terus terkubur, atau mengungkap kebenaran tersebut dan menyampaikannya ke sebanyak mungkin orang. Sebab satu suara dari kita sangat berarti. Kebenaran tidak boleh dibungkam, apartheid harus dihentikan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber :
https://english.palinfo.com/news/2022/1/22/Israeli-Veterans-Finally-Admit-to-Mass-Killing-in-Tantura
https://www.middleeasteye.net/opinion/israel-palestine-no-longer-bury-tantura-massacre
https://www.haaretz.com/opinion/.premium-the-ghosts-of-tantura-1.10558131
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








