Hari Kanker Sedunia diperingati pada 4 Februari setiap tahunnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong pencegahan, deteksi dini, serta pengobatan terhadap penyakit kanker. Pada tahun 2022 ini, Hari Kanker Sedunia mengambil tema Close the Care Gap agar semua orang mampu memahami dan mengakui ketidakadilan dalam perawatan kanker di seluruh dunia sebab ditemukan fakta bahwa ketidaksetaraan dalam perawatan kanker telah menelan korban jiwa dan orang-orang yang mencari perawatan kanker menghadapi hambatan pada setiap kesempatan.
Oleh karena itu, salah satu isu utama yang diangkat adalah equity, atau kesetaraan dalam akses terhadap perawatan kanker. Tidak peduli siapa atau di mana, semua orang berhak mendapatkan akses informasi akurat tentang kanker dan layanan perawatan berkualitas dalam pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan dukungan.
Namun, kesetaraan ini akan sangat sulit bahkan mustahil diterima oleh para tawanan Palestina, mengingat pengabaian medis sistematis telah diberlakukan oleh penjajah sejak lama. Di balik tembok penjara pendudukan Israel, tawanan Palestina dihadapkan pada kebrutalan, baik berupa kekerasan maupun pengabaian terhadap kesehatan mereka. Sebagai akibatnya, beberapa tawanan yang dibebaskan dengan alasan kesehatan yang memburuk, dilaporkan meninggal tidak lama setelah dibebaskan, sementara yang lainnya dilaporkan meninggal di dalam penjara.
Pengabaian medis terhadap tawanan yang menderita sakit kronis merupakan salah satu kekerasan terhadap tawanan yang dilakukan oleh Layanan Penjara Israel (IPS). Klub Tawanan Palestina (PPC) menerangkan bahwa sepanjang 2021, terdapat lebih dari 500 tawanan Palestina di penjara-penjara Israel, baik laki-laki maupun perempuan, menderita penyakit, termasuk belasan di antara mereka yang menderita kanker.
Kelompok hak asasi Palestina telah lama mengutuk “pengabaian medis yang disengaja” dan telah mendokumentasikan kematian puluhan tawanan Palestina yang sakit saat berada dalam tahanan Israel sejak 1967. IPS tidak memberi mereka perawatan yang memadai untuk kondisi kesehatan mereka dan hanya memberi mereka obat penghilang rasa sakit, yang terus dijadikan alasan untuk cuci tangan atas meninggalnya tawanan akibat pengabaian medis.
Pada peringatan Hari Kanker Sedunia 2021, Riad Al-Ashqar, Direktur Pusat Studi Tawanan Palestina, mengatakan bahwa terdapat 16 tawanan yang menderita kanker di penjara pendudukan dan berisiko kehilangan nyawa.
Ashqar menunjukkan bahwa kanker merupakan penyebab utama kematian tawanan Palestina di penjara-penjara Israel. Kamal Abu Waer dari Jenin dan Saada al-Gharabli dari Kota Gaza, meninggal pada 2020 dalam keadaan menderita kanker. Layanan pendudukan menolak untuk membebaskan mereka meskipun kondisi kesehatan mereka terus memburuk. Para tawanan penderita kanker mengalami penderitaan luar biasa di tangan pendudukan yang merampas hak dasar mereka untuk mendapatkan perawatan yang layak.
Pada September 2021, Hussein Masalmah (39), meninggal akibat kanker darah (leukimia) dan kanker sumsum tulang stadium lanjut yang dideritanya. Masalmah merupakan tawanan yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ia dibebaskan dalam keadaan sakit setelah 19 tahun menjalani masa penawanan. Sebelumnya, Masalmah mengeluhkan sakit perut yang parah saat ditawan di Penjara Naqab selama dua bulan sebelum otoritas penjara memindahkannya ke Rumah Sakit Soroka di Beer al-Sabaa (Beersheba).

Hussein Masalmah
Sumber : www.aljazeera.com
Komisi Urusan Tawanan Otoritas Palestina (PA) mengatakan bahwa Masalmah meninggal karena “kebijakan kelalaian medis sistematis” yang dilakukan otoritas Israel terhadapnya dan telah lama dipraktikkan terhadap ratusan tawanan yang sakit di penjara-penjara Israel.
Pada awal 2022, Nasser Abu Hmeid (50), tawanan yang divonis hukuman seumur hidup dan telah menghabiskan 30 tahun di penjara Israel dalam beberapa penangkapan, mengalami situasi kesehatan yang memburuk. Ia menderita kanker paru-paru stadium lanjut, sebagai akibat dari perlakuan semena-mena, kondisi penjara dengan sanitasi buruk, rendahnya tingkat pelayanan kesehatan, dan berlanjutnya kebijakan pengabaian medis sistematis yang disengaja.
Abu Hmeid mengalami koma 12 hari setelah menderita radang paru-paru yang parah akibat kontaminasi bakteri. Ia adalah korban dari malapraktik saat pemasangan tabung untuk mengosongkan udara dari paru-parunya, menyebabkan komplikasi kesehatan terbaru, termasuk kenaikan suhu yang parah. Kelompok advokasi tawanan Palestina menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel menolak untuk mengungkapkan rincian kondisinya.
Sementara itu, Asosiasi Dukungan terhadap Tawanan dam HAM Palestina, Addameer menyerukan intervensi mendesak untuk pembebasan tawanan Palestina yang berada dalam kondisi rentan, salah satunya adalah tawanan Adminsitratif yang menderita kanker, Abdel Baset Ma’atan. Ia memiliki riwayat kanker saluran cerna dan paru-paru. Selama bertahun-tahun sebelum penangkapannya, Ma’atan telah menjalani beberapa operasi, termasuk membuang bagian ususnya pada 2018. Selain itu, Ma’atan telah memulai perawatan radioterapi di Turki dan memerlukan perawatan berkala setiap enam bulan.
Namun, Abdel Baset Ma’atan juga menjadi sasaran praktik sistematis pengabaian medis Layanan Penjara Israel. Ia tidak menerima perhatian medis, termasuk pemeriksaan berkala yang diperlukan untuk memantau penyakitnya. Ma’atan hanya diberikan pemeriksaan medis standar penjara rutin di klinik Penjara Ofer dan obat yang diresepkan hanya untuk mengatasi kolesterol dan kekurangan vitamin D.
Masih panjang deretan nama penderita kanker yang harus mendekam di penjara Israel, bertahan dalam keterbatasan dan pengabaian medis. Momentum Hari Kanker Nasional 2022 ini hendaknya menjadikan dunia internasional sadar dan terpanggil untuk mendesak Israel agar segera membebaskan para tawanan yang menderita kanker dan penyakit kronis lainnya.
Tawanan, bagaimana pun, memilik hak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak, sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa VI. Pasal 91 dan 92 Konvensi Jenewa IV menekankan bahwa penjara harus mencakup rumah sakit yang layak, dengan kehadiran seorang dokter yang memenuhi syarat, di samping inspeksi medis setidaknya sebulan sekali untuk memantau nutrisi tawanan dan untuk mendeteksi penyakit menular. Israel telah mengabaikan ini semua, tanpa sanksi apa pun.
Selamat Hari Kanker Sedunia, close the care gap. Mari peduli. (LMS)
Sumber:
https://www.worldcancerday.org/
https://samidoun.net/2020/11/kamal-abu-waer-palestinian-prisoner-killed-by-israeli-medical-neglect/
https://www.un.org/unispal/document/auto-insert-187419/
https://www.addameer.org/news/4670
https://www.albawaba.com/news/israel-bans-urgent-healthcare-palestinian-prisoner-cancer-1460569
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








