Ahad (30/1), menandai 30 hari dilakukannya aksi boikot terhadap Pengadilan Militer Israel oleh setidaknya 500 tawanan administratif. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes atas penawanan mereka yang tanpa batas waktu, dakwaan, dan pengadilan.
Di antara 500 tawanan tersebut, terdapat 3 anak di bawah umur, salah satunya adalah Amal Nakhleh yang pada Selasa (25/1) dinyatakan positif Covid-19, sekaligus mengalami penyakit autoimun kronis.
Sejak Maret 2002 tercatat jumlah tawanan administratif tidak pernah kurang dari 100 orang. Sementara itu, sepanjang 2021, Israel telah mengeluarkan 1.595 perintah penahanan administratif, jauh melampaui laporan pada 2020, yaitu sebanyak 1.114 perintah.
Direktur Asosiasi Dukungan Tawanan dan Hak Asasi Manusia Addameer, Sahar Francis, mengatakan bahwa aksi boikot tesebut dilakukan setelah berbagai upaya telah diusahakan demi melawan strategi penanahan tanpa alasan yang jelas.
Sumber :
https://english.wafa.ps/Pages/Details/127842
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








