Israel tidak pernah memandang bulu ketika menjalankan misi penjajahannya di Palestina, lelaki atau perempuan, dewasa, anak-anak, hingga lansia, semua dianggap berbahaya.
Penangkapan dan Penyiksaan Lansia oleh Zionis Berujung Kematian
Israel tidak pernah memandang bulu ketika menjalankan misi penjajahannya di Palestina, lelaki atau perempuan, dewasa, anak-anak, hingga lansia, semua dianggap berbahaya. Ini adalah kisah tentang Omar Abdelmajeed As’ad, lansia berusia 80 tahun yang ditangkap oleh tentara Israel dalam perjalanan pulang dari rumah kerabatnya menuju rumahnya di Jiljiya, utara Ramallah, Tepi Barat yang dijajah.
Tangan As’ad diikat dengan borgol plastik, matanya ditutup, dan ia dipukuli sebelum ditinggalkan di sebuah bangunan yang belum jadi. “Ia hanyalah seorang lelaki tua yang memiliki masalah pernapasan,” ucap seorang kerabatnya, menekankan bahwa peristiwa itu benar-benar memotret arogansi Israel—bahkan terhadap seorang lansia yang sakit-sakitan.
As’as merupakan seorang Amerika-Palestina dan ayah dari tujuh anak. Ia pindah ke Amerika pada 1970, menjadi penduduk Milwaukee, Winconsin, AS, lalu memutuskan untuk kembali tinggal di Palestina bersama keluarganya pada 2012. Meski berkebangsaan Amerika, tetapi statusnya yang juga sebagai seorang Palestina, tidak berbeda dengan orang Palestina lainnya: sama-sama tidak mendapatkan hak dasar untuk hidup secara aman. Statusnya sebagai warga negara adidaya, tidak mampu ‘menyelamatkannya’ dari ancaman dan kekerasan tentara Israel.
Juru bicara AS Ned Price hanya mengeluarkan pernyataan formalitas yang menyatakan bahwa Washington telah melakukan komunikasi dengan Israel dan menginginkan adanya penyelidikan menyeluruh mengenai hal ini. Tak ada kecaman, tak ada peringatan, apalagi sanksi. Padahal faktanya, warga negaranya yang telah berusia lanjut telah dihilangkan nyawanya dengan cara yang kejam.
Demikian juga dengan media mainstream Barat yang tidak banyak bersuara. Alih-alih mengutuk pembunuhannya, media mainstream tersebut hanya menuliskan ‘kematian setelah penangkapan’. Washington Post menulis, “Elderly Palestinian American dies after being detained by Israeli Soldiers in West Bank.” BBC pun menulis dengan nada yang sama, “Palestinian-American man, 80, found dead after Israeli raid in West Bank.” Demikian pula New York Times, NBC, The Guardian dan berbagai media Barat lainnya.
Media-media tersebut hanya berkutat pada wafatnya As’ad setelah ditangkap. Tidak ada judul atau pun isi berita yang menyatakan bahwa ia disiksa dalam keadaan tangan terikat dan kemudian ditinggal dalam keadaan tidak sadar, hingga akhirnya meninggal akibat serangan jantung. Peristiwa ini menjadi contoh kecil tentang bungkamnya media terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan zionis.
Pada akhir tahun lalu (26/12/21) dalam strategi car ramming atau serudukan mobil yang dilakukan oleh pemukim, seorang perempuan tua Palestina berusia 70 tahun, Gadeer Masalmah, meninggal di tempat akibat ditabrak oleh seorang pemukim di Rute 60, dekat Sinjil, Tepi Barat. Tidak lama berselang, seorang lansia kembali menjadi korban car ramming. Ia adalah Haj Sulaiman Al-Hathaleen dari Lingkungan Umm al-Khair, selatan Tepi Barat yang diduduki. Al-Hathaleen cedera parah setelah ditabrak truk Israel (5/1), dan hingga saat ini masih dalam keadaan kritis di ICU.
Peristiwa-peristiwa tersebut tentu mengingatkan kita bahwa beginilah gambaran keseharian yang dihadapi seluruh lapisan usia bangsa Palestina. Penjajahan dan kebijakan apartheid Israel menjadikan tidak adanya perlindungan bagi bangsa Palestina, meski mereka anak-anak, perempuan, atau lansia.
Anak-anak Palestina setiap harinya ditangkapi oleh tentara, entah di pos-pos perbatasan ataupun ketika bersekolah. Pada 2021, sebanyak 1.266 anak yang berusia di bawah 16 tahun menjadi tawanan, termasuk 142 anak berusia di bawah 12 tahun. Tak ada alasan yang jelas atas penangkapan terhadap tersebut dan mereka harus menjalani pengadilan militer. Demikian dengan para perempuan Palestina yang menghadapi pelecehan, siksaan, dan hukuman kolektif. Tidak ada toleransi apa pun, bahkan bagi tawanan yang hamil dan melahirkan. Ketika melahirkan, mereka dalam keadaan diborgol dan tidak diizinkan untuk beristirahat dari rasa sakit yang diderita.
Laporan kemanusiaan yang diterbitkan OCHA pada akhir 2021 menjadi relevan, bahwa kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh mayoritas bangsa Palestina atau setara dengan 1,8 juta orang adalah perlindungan (protection), dalam hal ini adalah advokasi dan tindakan agar mereka mendapatkan hak-hak dasar mereka yang sesuai dengan hukum internasional.
Oleh karena itu, peristiwa meninggalnya Kakek Omar perlu dijadikan momentum untuk dunia agar memberikan proteksi dan advokasi terhadap bangsa Palestina atas penjajahan dan politik apartheid yang dilakukan Israel. Jangan biarkan pengorbanan Rachel Corie yang meninggal pada 2003 akibat lindasan buldoser yang ingin menghancurkan rumah milik sebuah keluarga Palestina atau Tom Hurndall, seorang jurnalis AS yang tewas ditembak sniper pada 2004 akibat hendak menyelamatkan seorang anak Palestina di Gaza, terbuang percuma.
Jangan pula kita biarkan anak-anak Palestina berlama-lama mendekam dipenjara akibat bungkamnya dunia. Jangan kita lupakan nasib para perempuan yang dipenjara dan disika atas pembelaan terhadap tanah airnya dilupakan dunia. Juga jangan kita abaikan kekerasan yang terjadi terhadap para lansia. Kita harus mampu bersuara layaknya Emma Watson yang menyatakan bahwa “Solidarity is a Verb” sebagai dukungannya terhadap Palestina.
Ketika Watson kemudian dituding antisemit oleh Zionis, puluhan artis kenamaan Hollywood lainnya ikut bersuara mendukung dan menyatakan solidaritas untuk Palestina. Kita juga perlu mencontoh upaya boikot yang dilakukan para seniman internasional terhadap Sydney Festival karena disponsori oleh Israel. Kita harus melakukan apa yang kita bisa, agar setidaknya orang-orang di sekeliling kita mengetahui tentang nasib Palestina dan mau ikut bersuara. Kita perlu bersama-sama dengan lantang menentang segala bentuk penjajahan dan politik apartheid sebab dua hal tersebut selalu beriringan dengan kekerasan dan kekejaman.
Fitriyah Nur Fadilah
Penulis merupakan Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.








