Sabtu,26 Juni 2021 adalah hari ketiga demonstrasi terhadap Otoritas Palestina di Ramallah, ketika Najla Zeitoun keluar untuk meliput demonstrasi di dua outlet multimedia tempat ia bekerja sebagai pekerja lepas, lapor Anadolu News Agency.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya dan rekan-rekannya saat mereka meliput demonstrasi protes di Tepi Barat atas pembunuhan Nizar Banat, seorang kritikus vokal Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Pada hari itu, aparat keamanan Palestina yang berpakaian preman menyerang sejumlah perempuan jurnalis Palestina. Menurut Zeitoun, ia dan rekan-rekannya menjadi sasaran pelecehan fisik dan seksual, telepon mereka juga dirampas. Ia dipukuli habis-habisan oleh pasukan keamanan, detektif berpakaian preman, dengan alasan yang masih tidak ia mengerti.
Saat mereka berobat ke rumah sakit pemerintah di Ramallah, petugas medis menolak memberikan laporan yang membuktikan penganiayaan yang mereka alami. “Setelah Juni tahun lalu, cara hidup saya tidak akan pernah sama lagi,” kata jurnalis berusia 35 tahun itu kepada Anadolu Agency.
Zeitoun menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan bagaimana hidupnya telah berubah setelah serangan traumatis yang dideritanya di tangan petugas keamanan Palestina. “Luka dan memar di tubuh saya akhirnya memang sembuh, tetapi apa yang terjadi pada jiwa saya, jujur, tidak akan pernah sembuh. Efek hari itu masih mengirimkan gelombang kejut dalam hidup saya, secara fisik, psikologis dan sosial,” tuturnya.
Dia melanjutkan upaya pengaduan ke pengadilan Palestina dan meminta agar para penyerangnya diadili. Alih-alih mengambil tindakan terhadap para pelaku, pengadilan tidak hanya menolak permohonannya tetapi juga memerintahkan pihak berwenang untuk menginterogasinya.
Selain itu, Zeitoun juga tidak puas dengan kurangnya semangat organisasi hak asasi manusia dalam mengadvokasi dirinya dan korban penyerangan lainnya. Ia dan perempuan jurnalis lainnya telah menulis banyak surat kepada Uni Eropa, PBB, dan organisasi hak asasi manusia internasional lainnya untuk menekan Otoritas Palestina (OP).
“Setelah kami menghubungi lembaga-lembaga itu, Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh meminta maaf kepada beberapa dari kami dan mengabaikan yang lain. Pada hari yang sama, petugas keamanan mengusir salah satu rekan kami yang berdiri di depan kantor polisi, meminta pembebasan suaminya yang ditangkap selama protes,” kata Zeitoun.
Tiga hari kemudian, seorang petugas keamanan mengganggu dan mengancam Zeitoun dengan mengatakan, “Kali ini kami mematahkan tanganmu, lain waktu kami akan menghancurkan kepalamu.”
Pada akhir Desember 2021, saat meliput peringatan hari berdirinya gerakan Fatah, Zeitoun Kembali diancam. “OP memperlakukan saya seolah-olah saya adalah musuh. Saya tidak yakin mengapa. Jika mereka tidak ingin menghukum para penyerang kami, setidaknya berhentilah memperlakukan kami sebagai musuh,” katanya.
Anadolu Agency telah menghubungi dua pejabat Otoritas Palestina tetapi mereka belum menjawab.
Sumber :
https://www.#/20220110-life-has-never-been-same-since-26-june-says-palestinian-woman-journalist/








