Handala dan Anak-anak yang Merindukan Pelukan Tanah Air – Mari berkenalan dengan Handala (حنظلة), seorang pengungsi berusia sepuluh tahun yang terusir dari tanah airnya. Handala merupakan tokoh rekaan ikonik yang digambar oleh seorang kartunis kenamaan Palestina, Naji Al-Ali. Sosok Handala hanya terlihat dari belakang, dengan baju compang-camping, dan berdiri tanpa alas kaki. Rambutnya seperti rambut landak yang menggunakan durinya sebagai senjata. Handala bukanlah anak yang gemuk, bahagia, yang bisa bersantai dan bermanja.
“Handala adalah karya representatif yang saya lahirkan. Ke mana pun saya pergi, semua orang bertanya tentangnya. Ia lahir di (negara) Teluk sebagai persembahan bagi semua. Namanya Handala, dan ia telah berjanji kepada orang-orang untuk setia terhadap dirinya,”[1] ungkap sang karikaturis. Handala pertama kali dipublikasikan pada 13 Juli 1969 di surat kabar Kuwait, al-Siyasah.
Handala dan Karikaturis Naji Al-Ali

Sumber: Middle East
Al-Ali menggambarkan Handala sebagai dirinya—anak yang tercerabut masa kecilnya karena diusir dari kampung halaman dan tanah airnya. Al-Ali masih berusia sepuluh tahun saat peristiwa Nakba atau malapetaka 1948 terjadi.[2] Nakba menandai diusirnya 750.000 warga Palestina dari desa mereka, termasuk Desa Al-Shajara, sebuah desa kecil di kawasan Al-Jalil (Galilee) yang menjadi tempat tinggal keluarga Al-Ali. Pada Mei 1948, desa itu dihancurkan sepenuhnya oleh pasukan Yahudi dan 893 penduduknya diasingkan. Keluarga Al-Ali melarikan diri ke Ain al-Hilweh, sebuah kamp pengungsi di Lebanon selatan.[3] Rangkaian peristiwa itu, membentuk hidup dan kesadaran politik Naji Al-Ali; betapa keadilan dunia tidak berpihak kepada Palestina, bahkan terhadap anak-anak yang terlahir dari rahimnya.
Baca juga Fakta di Balik Deklarasi Balfour dari Perspektif Yahudi Anti-Zionis
Hari-hari ini, 73 tahun sejak Nakba, kekerasan, penangkapan, dan pengusiran masih terus terjadi di Palestina, termasuk terhadap anak-anak. Nakba yang dulu terjadi sesungguhnya masih berlangsung hingga saat ini—dan oleh karenanya sosok Handala terus hidup sebagai ikon bagi anak-anak yang terusir sekaligus juga harapan bangsa Palestina untuk mendapatkan kembali tanah yang dirampas.

Handala dapat ditemukan di Tembok Apartheid, di kamp pengungsian, di dinding-dinding bangunan di Palestina, ia adalah simbol kampanye gerakan boikot terhadap Israel, ia juga hiasan yang menggantung di aksesoris penduduk Palestina, dan lebih dari itu, ia terpahat di hati bangsa Palestina.
Handala berarti kegetiran. Nama ini merepresentasikan kesulitan, kesedihan, dan kepahitan hidup yang harus ditanggung oleh anak-anak Palestina. Namun, Handala juga merupakan nama sebuah tanaman yang hidup di gurun, yaitu Handhal atau labu gurun. Tanaman ini sangat tangguh, memiliki akar yang dalam juga kemampuan untuk tumbuh kembali sekalipun dicabut dan dipotong berkali-kali.[4] Dengan demikian, dalam nama Handala terangkum dua kata, yaitu kegetiran dan ketahanan. Sekeras apa pun upaya yang dilakukan untuk menghilangkannya, ia akan tetap tumbuh, menjalar, dan merambah di tanah tempat ia ditanam. Ia adalah lambang perjuangan sekaligus kesetiaan bangsa Palestina terhadap tanah air mereka.

Lebih jauh lagi, sang karikaturis, Naji Al-Ali, menjelaskan makna yang terkandung dalam sosok Handala, “Handala berusia sepuluh tahun, dan selamanya berusia sepuluh tahun. Pada usia tersebut, aku meninggalkan kampung halamanku, dan ketika ia kembali, Handala akan tetap sepuluh tahun, tetapi ia akan mulai bertumbuh. Hukum-hukum alam tidak berlaku untuknya sebab ia unik. Segalanya akan kembali normal saat tanah airnya kembali (merdeka).”[5]
Al-Ali menggunakan Handala untuk menunjukkan bahwa masalah Palestina belum terpecahkan, dengan menyatakan bahwa Handala akan mengungkapkan wajahnya lagi kepada pembaca hanya ketika para pengungsi Palestina dapat kembali ke tanah air mereka dan mendaptkan lagi kebanggaan mereka sebagai bangsa Arab.[6]
Jika Palestina adalah seorang ibu, maka Al-Ali dan anak-anak Palestina lainnya adalah jiwa-jiwa yang rindu untuk kembali ke pangkuan dan merasakan kehangatan pelukannya. Mereka menantikan saat-saat perginya tangan-tangan yang menahan, mengekang, dan mengusir mereka dari buaian negeri. Kedamaian yang dirindukan oleh anak-anak Palestina ini hanya akan kembali hadir saat negerinya terbebas dari penjajahan. Ketika hari itu tiba, barulah Handala dan anak-anak Palestina dapat kembali tumbuh, berkembang, dan terbebas dari trauma yang selama ini telah memenjarakan mereka. (LMS)
[1] “Through the Eyes of Palestinian Refugee” http://www.handala.org/handala/
[2] Jamil Sbitan. 2012. “Handala will Age Again Soon” https://www.jadaliyya.com/Details/26128
[3] Norren Sadik. 2013. “The Palestinian Boy Who Remain 10 Years Old” https://newint.org/blog/2013/05/16/handala-palestine-naji-al-ali
[4] “Story Behind Handala” https://storiesfrompalestine.info/2021/07/25/handala/
[5] Ibid
[6] Mary Totry dan Arnon Medzini. “ The Use of Cartoons in Popular Protests that Focus on Geographic, Social, Economic And Political Issues”, European Journal of Geography, Vol. 4 no. 1 (2013): 22—35. http://eurogeojournal.eu/articles/EJG_6021_Naji%20Al%202013_final_1.pdf








