48 Tahun Peristiwa Perang Yom Kippur-Perang Yom Kippur atau dikenal juga sebagai Perang Oktober adalah pertempuran yang melibatkan Israel, Mesir, dan Suriah. Perang yang pecah pada 6 Oktober 1973 ini tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi sebelumnya yaitu Perang Enam Hari tahun 1967. Dalam Perang Enam Hari yang berlangsung sejak 5 sampai 10 Juni 1967, Israel berhasil memukul mundur pasukan dari negara Arab dan memperluas wilayah pendudukannya hingga empat kali lipat. Kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari mengakibatkan Mesir kehilangan Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza seluas 23.500 mil persegi[1], Jordania kehilangan Tepi Barat serta Al-Quds Timur[2], dan Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan yang strategis. Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang pecahnya Perang Yom Kippur enam tahun setelah Perang Enam Hari tahun 1967.
Wilayah yang berhasil dikuasai Israel pada Perang Enam Hari ditandai dengan warna hijau
Sumber : https://www.aljazeera.com/features/2018/10/8/the-october-arab-israeli-war-of-1973-what-happened
Demi merebut kembali wilayah-wilayah yang diambil alih oleh Israel pada perang 1967, Mesir bersama dengan Suriah mulai menyusun rencana untuk menyerang kembali Israel. Mesir dan Suriah kemudian memutuskan untuk melancarkan serangan bertepatan dengan Hari Raya Keagamaan Yahudi Yom Kippur yang jatuh pada hari Sabtu, 6 Oktober 1973. Pada hari itu, tidak ada siaran radio maupun televisi, toko-toko dan jalur transportasi ditutup, dan tentara Israel yang biasanya berjaga pada hari itu meninggalkan posnya untuk memperingati Hari Raya Yom Kippur. Hal ini sangat sesuai rencana Mesir dan Suriah yang ingin menyerang Israel pada saat mereka sedang dalam kondisi lengah.

Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, Mesir dan Suriah mulai melancarkan serangan. Dengan dibantu persenjataan yang canggih dari Uni Soviet, serangan ditembakkan dari dua sisi yaitu dari utara dan selatan. Kekuatan Mesir dan Suriah juga semakin bertambah karena mendapat bantuan dari Irak dan Jordania. Pihak militer Israel yang pada saat itu sedang dalam kondisi yang kurang siap kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi tersebut.
Mesir dan Suriah dengan cepat menguasai medan pertempuran. Mesir saat itu sudah berhasil menyeberangi Terusan Suez, sementara Suriah berhasil melewati garis gencatan senjata 1967 dan merebut titik penting di puncak Gunung Hermon yang disebut dengan ‘Mata Israel’. Pencapaian tersebut diraih oleh Mesir dan Suriah hanya dalam waktu dua jam setelah serangan pertama dilancarkan. Mesir dan Suriah benar-benar berada di atas angin dan terlihat yakin bahwa mereka bisa memenangkan pertempuran karena melihat kerugian yang sangat besar dari pihak Israel.
Akan tetapi, situasi dengan cepat berbalik. Dalam waktu kurang dari 24 jam, Israel berhasil menguasai kondisi dan memukul mundur pasukan Suriah. Menyadari front Suriah berada dalam kesulitan, bantuan segera datang dari Arab Saudi, Irak, dan Jordania. Namun kekuatan negara-negara Arab tersebut lagi-lagi ditaklukkan oleh Israel. Dengan kekuatan militernya yang telah kembali pulih, Israel bahkan berhasil menembus batas hingga maju dengan jarak hanya 35 km dari Damaskus.
Tentara Israel di Perang Yom Kippur 1973
Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=all
Kondisi benar-benar berbalik, yang awalnya Israel kewalahan menghadapi serangan dadakan dari Mesir dan Suriah, kini Mesir dan Suriah yang harus bertahan habis-habisan menghadapi militer Israel yang kekuatannya sudah kembali stabil. Pada 16 Oktober 1973 atau sepuluh hari setelah perang dimulai, Israel sudah menembus garis pertahanan Mesir dan Suriah, bahkan berada pada jarak yang sangat dekat dengan Kairo.
Keesokan harinya, pada 17 Oktober 1973, Mesir, Suriah, dan negara-negara Arab yang membantu pertempuran memutuskan untuk mengubah strategi penyerangan. Mereka menggunakan minyak sebagai taktik untuk mengancam Israel. Negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengambil keputusan untuk mengurangi produksi minyak mereka sebanyak lima persen. Pengurangan produksi minyak ini mengakibatkan harga minyak melonjak besar-besaran di seluruh dunia.
Keputusan mengurangi produksi minyak ini juga disertai dengan perjanjian dari negara-negara Arab penghasil minyak. Negara-negara tersebut berjanji untuk mempertahankan tingkat pengurangan yang sama setiap bulannya hingga Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Arab yang diduduki selama perang tahun 1967 dan hak-hak rakyat Palestina dipulihkan.
Melihat situasi yang sedang memanas, PBB kemudian turut melibatkan diri untuk menengahi. Pada 22 Oktober 1973, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata antara pihak yang berperang dan meminta agar Israel menarik diri dari wilayah yang diduduki sejak 1967.
Pada 25 Oktober 1973, dilakukanlah gencatan senjata akibat korban yang sudah banyak berjatuhan. Dari pihak Mesir dilaporkan sebanyak 7.700 nyawa hilang dan sekitar 3.500 dari pihak Suriah. Demikian juga dari pihak Israel, meskipun dapat menguasai area pertempuran, tetapi mereka kehilangan sebanyak 2.600 tentara, ditambah 8.800 yang dalam kondisi luka-luka. Banyaknya korban yang berjatuhan bahkan membuat rakyat Israel mengkritik pemerintahnya sendiri yang dianggap kurang siap menghadapi ancaman. Akibatnya, Perdana Menteri Israel Golda Meir memutuskan untuk mengundurkan diri pada 1974.
Setelah gencatan senjata dilangsungkan, Mesir memanfaatkan situasi ini untuk mengambil kembali wilayahnya yang sebelumnya direbut oleh Israel. Mesir melalui presidennya yaitu Anwar Sadat kemudian memutuskan untuk menjalin perjanjian damai dengan pihak Israel. Keputusan ini akhirnya menguntungkan pihak Mesir dengan dikembalikannya sebagian wilayah Semenanjung Sinai ke Mesir pada 1974. Pada 1979, Mesir kembali menandatangani perjanjian damai dengan Perdana Menteri Israel yang baru, Menachim Begin. Kemudian pada 1982, Israel memenuhi janjinya untuk mengembalikan seluruh wilayah Semenanjung Sinai ke Mesir. Normalisasi Mesir terhadap Israel ini kemudian berdampak pada dikeluarkannya Mesir dari Liga Arab pada 1979 dan semua negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Kairo.
Presiden Mesir Anwar Sadat, Presiden AS Jimmy Carter, dan PM Israel Menachem Begin bersalaman setelah menandatangani perjanjian damai tahun 1979
Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=all
Selain Mesir, Jordania juga menjadi negara yang memutuskan untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1992. Keputusan ini kemudian menjadikan Mesir dan Jordania sebagai negara yang memiliki hubungan normal dengan Israel yang sebenarnya masih menduduki wilayah Tepi Barat, Al-Quds Timur, Gaza, dan sebagian Dataran Tinggi Golan hingga hari ini.[3]
Bertolak belakang dengan Mesir dan Jordania, Suriah menolak perjanjian damai dengan Israel yang mengakibatkan situasinya semakin terdesak. Israel kemudian merebut lebih banyak wilayah di Dataran Tinggi Golan dari Suriah.
Disebutkan di dalam Aljazeera bahwa tindakan Mesir yang melakukan normalisasi dengan Israel dianggap oleh penduduk Palestina sebagai tindakan yang mendahulukan kepentingan sendiri dan menempatkan permasalahan Palestina di belakang. Padahal, persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan yang seharusnya melibatkan bantuan dari seluruh negara, terutama negara-negara Arab yang secara geografis letaknya tidak jauh dari Palestina. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi saat ini adalah kepentingan pribadi setiap negara membuat mata mereka tertutup akan apa yang sedang terjadi di Palestina. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kepedulian akan Palestina harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Palestina adalah saudara kita, jika bukan kita, maka siapa lagi yang akan bergerak menegakkan kemanusiaan di tanah suci Palestina?
Sumber :
https://www.aljazeera.com/features/2018/10/8/the-october-arab-israeli-war-of-1973-what-happened
https://www.timesofisrael.com/worse-than-the-worst-case-scenario-the-dreadful-hours-before-the-yom-kippur-war/
https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=allHandayani, Sakti Ika. 2010. Perang Yom Kippur Tahun 1973. [Skripsi]. Depok : Universitas Indonesia.
Salsabila Safitri
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/belajar-dari-gaza-kota-para-penghafal-al-quran/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/kembar-pejuang-pembebas-palestina-dari-al-quds/
[3] Selengkapnya di https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/







