Dua Kurd bersaudara, Muna El-Kurd dan Mohammed El-Kurd menjadi sorotan sejak ramainya berita penggusuran rumah di lingkungan Sheikh Jarrah, Al-Quds Timur. The Times menyebut mereka sebagai “bintang sosmed dari generasi Z yang melakukan live streaming atas kekerasan yang mereka saksikan di lingkungannya”, Arab News mengatakan mereka “Generasi Z Palestina yang menganulir narasi Israel”, sementara media lain menyebut mereka sebagai aktivis dan juru kampanye. Apa pun sebutan mereka di media, sesungguhnya Muna dan Mohammed adalah para pemuda lokal Al-Quds, Palestina, yang berjuang melawan pendudukan Israel yang telah mereka alami seumur hidupnya.
Muna dan Mohammed El-Kurd merupakan saudara kembar. Mereka lahir pada 15 Mei 1998 di Sheikh Jarrah, sebuah lingkungan Palestina di Al-Quds Timur. Di kawasan tersebut keluarga El-Kurd telah melewati beberapa generasi. Ayah mereka, Nabil al-Kurd, 77, telah tinggal di lingkungan ini sejak 1956, di atas tanah yang merupakan bagian dari proyek perumahan bagi pengungsi dari UNRWA, the UN Relief and Works Agency for Palestinian refugees. Ia pindah menetap ke daerah itu bersama orangtuanya, yaitu Sa’eed El-Kurd dan istrinya, Rifqa. Keluarga itu sebelumnya tinggal di Haifa, sebelum diusir pada 1948, bertepatan dengan peristiwa Nakba. Sejak saat itu, keluarga El-Kurd mengungsi berpindah-pindah kota hingga akhirnya menetap di Sheikh Jarrah.
Penghuni Liar
Pada 1 Desember 2009, pemukim Israel dengan tas punggung mereka yang seolah hendak berlibur akhir pekan, datang dengan pengawalan tentara. Mereka memasuki rumah El-Kurd dan mengklaim bahwa rumah tersebut adalah milik mereka. Keluarga El-Kurd dengan keras melawan, tetapi setelah pertempuran penuh gejolak dengan pengadilan Israel, pengadilan memenangkan para pemukim, memberikan setengah bagian rumah kepada mereka. Para pemukim mengosongkan isi rumah, membuang perabotan dan barang-barang pribadi keluarga El-Kurd ke jalan.
Dalam kesaksian yang diberikan untuk OCHA, The United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, Rifqa El-Kurd menceritakan peristiwa ini: “Para pemukim tidak tinggal di rumah saya secara permanen. Mereka datang berkelompok, menari, berdoa, dan bersumpah melawan kami. Kemudian mereka pergi lagi, dan yang lain datang setelah beberapa saat. Saya tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam rumah karena mereka menutupi semua jendela dengan karton dan kaca.”
“Saya tidak bisa mendekati rumah karena ada kamera di mana-mana dan polisi akan datang jika saya mencobanya. Kami sering diserang secara fisik: mereka mengirim putri saya, yang berusia 50 tahun, ke rumah sakit empat kali. Mereka tahu dia memiliki masalah jantung dan mereka selalu memukulnya di dekat jantungnya. Jika bukan karena dokter tetangga yang bergegas dan membantunya, dia akan mati.”
Mohammed dan Muna, yang saat itu berusia 11 tahun, turut mengalami hal ini. Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera, Mohammed mengatakan bahwa “Berbagi rumah dengan para penghuni liar yang berbicara dengan aksen Brooklyn adalah tidak tertahankan, tidak dapat ditoleransi, dan mengerikan.
“Mereka hanya duduk-duduk di rumah kami, mengganggu, mengintimidasi, melakukan segala yang bisa mereka perbuat untuk memaksa kami meninggalkan setengah dari rumah yang masih kami miliki, bahkan mengganggu para tetangga agar meninggalkan rumah mereka sebagai usaha untuk menghilangkan kehadiran Palestina dari Yerussalem,” kata Mohammed.
“Pengambilalihan rumah kami oleh mereka adalah bagian dari upaya pembersihan etnis di Sheikh Jarrah. Kami termasuk di antara 180 keluarga Palestina yang menghadapi perintah pengusiran dari pengadilan Israel, yang mengklaim bahwa rumah kami dibangun di atas tanah Israel. Di seberang jalan dari kami, kami menyaksikan keluarga Ghawi diusir dari rumah mereka dan mendirikan kamp darurat di jalan di tanah mereka tempat orang Israel menetap.
“Sebagai seorang anak, saya menyaksikan nenek saya, berusia 80-an pada saat itu, sebagai pejuang kemerdekaan, mengobati pengunjuk rasa yang diberi gas air mata dengan yogurt dan bawang. Pada tahun 2009, saya melihat nenek saya mengerahkan tubuhnya melawan pemukim dan polisi Israel yang bersenjata lengkap dan beraksen Amerika di halaman kami, mengklaim tanah kami sebagai milik mereka dengan keputusan Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah agen real estate.” pernyataan Mohammed dalam salah satu tulisannya yang dipublikasikan oleh The Nation.
Pada 2011, The Guardian merilis sebuah video yang menampilkan Mohammed dan Muna saat berusia 12 tahun mendokumentasikan situasi di lingkungan mereka tinggal di Sheikh Jarrah. Dalam rekaman itu, Mohammed menunjukkan tampak luar rumah keluarganya yang diambil alih oleh pemukim, menceritakan bahwa mereka dengan mudahnya mengambil alih rumah yang saat itu kosong, dengan pengawalan tentara. Ia juga merekam para pemukim menari-nari di depan rumah mereka, mengatakan kalimat provokatif, “Shabat Salom, (rumah) ini akan tetap menjadi milik kami,”
Keluarga Palestina menjawab dengan teriakan, “Tidak ada kedamaian dengan pemukim. Tinggalkan rumah kami! Tinggalkan Al-Quds!” lalu dibantah oleh pemukim, mengatakan bahwa pengadilan telah menentukan rumah itu milik mereka. Video lalu menunjukkan tentara Israel datang, sebagaimana mereka berjaga-jaga di lingkungan tersebut untuk melindungi para pemukim.
“Sheikh Jarrah terasa seperti zona militer, masuklah ke rumah mana saja di Sheikh Jarrah dan kalian akan menemukan kisah yang menyedihkan.”







