Pencurian Rumah El-Kurd di Syeikh Jarrah #2
“Sheikh Jarrah terasa seperti zona militer, masuklah ke rumah mana saja di Sheikh Jarrah dan kalian akan menemukan kisah yang menyedihkan.” Kata Mohammed kecil di video tersebut. Muna kemudian memandu rekaman, mengatakan mereka akan mendekati Tzadik Shimon, sebuah kawasan permukiman dan peribadatan yahudi, kemudian dengan lantang mereka meneriakkan yel-yel: “Pemukim, pencuri! Tinggalkan rumah kami!!” sambil kemudian melarikan diri karena khawatir tertangkap.
Kembar bersaudara yang juga ditemani seorang balita itu kemudian menemukan sebuah taman, lalu Mohammed menceritakan bahwa taman-taman memiliki gembok, yang kuncinya hanya dimiliki oleh para ibu pemukim, sementara anak-anak Palestina tidak dapat bermain di sana kecuali akan diganggu. Rekaman itu lalu menunjukkan para pemukim Yahudi dengan pakaian religi mengatakan, “Hidup Israel!” kemudian secara provokatif mengajak temannya sesama pemukim untuk berfoto bersama, sambil berkata di depan kamera: “ini adalah taman kami, kami sangat menyukainya, lihatlah bagaimana kami menjaganya. Dengan pertolongan Tuhan, kami akan mengusir kalian semua dari lingkungan ini.”
Mohammed dan Muna juga merekam bagaimana bus berisi pelancong Israel sehari-hari datang berkunjung ke rumah mereka, dengan pemandu perjalanan menjelaskan bahwa para pemukimlah pemilik rumah tersebut dan bahwa orang Palestina secara ilegal membangun rumah di sana. Pemandu itu bahkan mengatakan bahwa Israel akan mengambil alih semuanya.
“Nakba Baru”
Nakba, kata dalam bahasa Arab yang berarti “malapetaka”, menandai sebuah peristiwa pada 1948, ketika sekitar 700,000 rakyat Palestina terusir oleh Israel, tersebar mengungsi ke wilayah sekitarnya. Dengan latar belakang ini pula, sebuah Badan PBB, UNRWA, the UN Relief and Works Agency for Palestinian refugees didirikan.
Pada 1956, melalui program bantuan dari Pemerintah Yordania dan UNRWA, sebanyak 28 keluarga Palestina mendapatkan tempat tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah, Al-Quds Timur, yang saat itu berada di Bawah Pemerintahan Yordania (1951—1967). Sebuah kontrak dibuat antara Kementerian Konstruksi dan Rekonstruksi dengan keluarga Palestina pada 1956, dengan salah satu syarat utama yang menyatakan bahwa penduduk membayar biaya simbolis, asalkan kepemilikan dialihkan kepada penduduk setelah tiga tahun dari penyelesaian konstruksi.
Pada 1967 Israel merebut Tepi Barat dari Yordania, yang diperingati sebagai hari “Naksa” atau hari kemunduran. Mereka mendirikan Otoritas Pendudukan yang tidak mengakui hak kepemilikan tanah sebagaimana tertera pada kontrak sebelumnya, serta tidak mengizinkan para penduduk mendaftarkan rumah mereka. Sejak itu, keluarga-keluarga Palestina Sheikh Jarrah mengatakan bahwa mereka mengalami “Nakba Baru”. Setiap saat hidup mereka berada di bawah kekhawatiran akan ancaman pengusiran. Setiap tahun, para pemukim menuntut rumah mereka, yang mereka balas dengan pengajuan banding terhadap keputusan pengadilan yang selalu memenangkan para pemukim Israel.
Pada awal 2021, Pengadilan Pusat di Al-Quds Timur menyetujui pengusiran enam keluarga Palestina di Sheikh Jarrah, salah satunya keluarga El-Kurd. Pengadilan yang sama juga mengatur pengusiran untuk tujuh keluarga lainnya. Secara total, 58 orang, termasuk 17 anak-anak, akan dipindahkan secara paksa untuk memberi jalan bagi pemukim Yahudi.
Berupaya melawan perintah pengusiran, pada Februari, Mohammed el-Kurd berhasil melobi 81 anggota parlemen Inggris untuk menandatangani surat mengenai situasi di Sheikh Jarrah. Kemudian pada April, setidaknya 190 organisasi menulis surat kepada jaksa Pengadilan Kriminal Internasional berisi desakan untuk menyelidiki pemindahan paksa keluarga di Sheikh Jarrah sebagai bagian dari penyelidikannya atas kejahatan perang dan kemanusiaan di Palestina.
Selain itu, kembar El-Kurd Bersama teman-temannya juga aktif melakukan kampanye di media sosial. Pada awal Mei, sebuah video yang direkam oleh aktivis Palestina Tamer Maqalda menunjukkan konfrontasi Muna dengan seorang pemukim Yahudi di halaman rumah keluarganya.
“Jacob, kamu tahu ini bukan rumahmu.” Kata Muna dalam bahasa Inggris.
Pemukim itu menjawab dalam aksen amerika-nya yang kental, “Ya, tetapi jika saya pergi, Anda tidak kembali, jadi apa masalahnya? Kenapa kau berteriak padaku?”
“Kamu mencuri rumahku!”








