Anak-anak di Jalur Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat mendalam akibat agresi yang berkepanjangan. Studi terbaru dari Pusat Pelatihan Komunitas untuk Manajemen Krisis (CTCCM) dan laporan UNICEF mengungkapkan kondisi yang memilukan, mulai dari trauma psikologis hingga ancaman kematian setiap hari.
Laporan CTCCM, yang didukung oleh War Child Alliance, mengungkapkan bahwa 96 persen anak-anak di Gaza percaya kematian sudah dekat, dan hampir separuh dari mereka menyatakan keinginan untuk mati akibat agresi yang tiada henti. Studi ini, berdasarkan wawancara dengan lebih dari 500 anak-anak Palestina dan orang dewasa yang membersamai mereka, menunjukkan dampak psikologis yang menghancurkan. Sebanyak 92 persen anak-anak yang disurvei mengalami kesulitan menerima kenyataan hidup mereka, dengan banyak di antaranya menunjukkan gejala seperti ketakutan parah, agresif, penarikan diri, dan keputusasaan mendalam.
Direktur Eksekutif War Child UK, Helen Pattinson, menyebut Gaza sebagai “salah satu tempat paling mengerikan di dunia bagi anak-anak.” Ia mendesak masyarakat internasional untuk segera bertindak, memulai dengan gencatan senjata, guna mencegah trauma lintas generasi yang dapat berdampak selama beberapa dekade mendatang.
Hidup dalam kemiskinan ekstrem memperburuk kondisi anak-anak Gaza. Sebagian besar keluarga hanya mampu bertahan dengan 3,28 poundsterling (Rp66.427) per hari, sementara 80 persen pencari nafkah menganggur. Bahkan, 24 persen keluarga yang disurvei dipimpin oleh anak-anak berusia 16 tahun atau lebih muda. Kondisi ini diperparah dengan pengungsian terus-menerus; 88 persen keluarga telah mengungsi beberapa kali–21 persen di antaranya terpaksa mengungsi lebih dari enam kali.
UNICEF juga melaporkan bahwa sejak awal November 2024, rata-rata empat anak terbunuh setiap hari akibat serangan Israel. Dalam waktu kurang dari sebulan, lebih dari 160 anak kehilangan nyawa mereka. Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, mengingatkan bahwa anak-anak tidak memulai agresi ini dan tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya, tetapi mereka membayar harga tertinggi dengan nyawa dan masa depan mereka. Sejak setahun terakhir, lebih dari 14.500 anak dilaporkan telah terbunuh.
Krisis kemanusiaan di Gaza diperburuk oleh kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan. Kelaparan mengancam wilayah utara, sementara penyakit yang dapat dicegah, seperti hepatitis dan cacar air, menyebar dengan cepat. Ribuan anak kini menderita infeksi saluran pernapasan akut dan ruam kulit, diperburuk oleh cuaca musim dingin yang ekstrem.
Baik CTCCM maupun UNICEF menegaskan pentingnya intervensi internasional segera untuk melindungi anak-anak Gaza. Selain mendesak gencatan senjata, mereka menekankan perlunya akses kemanusiaan yang lebih luas, bantuan kesehatan mental, serta penanganan akar penyebab agresi untuk mencegah kehancuran generasi mendatang.
“Dunia tidak boleh berpaling saat begitu banyak anak terpapar kekerasan, kelaparan, penyakit, dan kedinginan setiap hari,” kata Catherine Russell. Masyarakat internasional diharapkan tidak hanya merespons kebutuhan darurat tetapi juga berkomitmen untuk membangun masa depan yang lebih aman dan layak bagi anak-anak Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








